BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Bukanlah musuh dan bahkan masih terhitung segolongan. Ketua Hek-liong-pang yang bernama Ciok Ceng, berjuluk Hek-hailiong (Naga Laut Hitam).
Adalah seorang bajak laut dan juga bajak sungai yang terkenal sekali, dan terkenal sebagai bajak yang hanya mau membajak perahu-perahu saudagar dan pembesar.
Tidak pernah mengganggu rakyat atau nelayan, dan juga tidak pernah memusuhi orang-orang kang-ouw.
Kini terdengarlah lengking tinggi yang menyeramkan dan tubuh Mabin Lo-mo yang tadinya masih duduk bersila, tahu-tahu mencelat ke arah perahu Hek-liong-pang itu dengan gerakan yang cepat sekali.
Tiga beJas orang itu terkejut melihat tubuh kakek muka kuda itu tahu-tahu sudah menyambar ke arah mereka dan barisan itu cepat bersiap-siap dengan golok melintang di dada.
Akan tetapi mereka menjadi makin terkejut karena kakek itu begitu menotolkan kedua kaki di perahu mereka, perahu itu terguncang keras sehingga kudakuda kaki mereka pun menjadi kacau.
Dan pada saat itu Ma-bin Lomo melakukan gerakan meloncat seperti terbang mengelilingi mereka dengan kedua lengannya bergerak-gerakseperti mendorong.
Terdengar pekik-pekik mengerikan dan dalam sekejap mat a saja terdengar golok terlepas dari tangan, berjatuhan di lantai perahu berkerontangan disusul robohnya tubuh mereka.
Tiga belas orang itu roboh malang-melintang dan menggeliat-liat dengan wajah berubah, mula-mula pucat, kemudian makin lama menjadi biru dan tubuh mereka yang menggeliat-geliat itu menggigil kedinginan.
Mereka itu telah menjadi korban pukulan Swat-im Sin-ciang dan akibatnya benar-benar mengerikan sekali.
Mereka itu mati tidak hidup pun tidak, melainkan tersiksa oleh rasa nyeri yang diakibatkan oleh hawa dingin yang seolah-olah membuat isi dada mereka membeku!
“Hemmm, kalian memang sudah bosan hidup!” kata Ma-bin Lo-mo, kemudian kakek sakti ini menyambar sebatang golok musuh yang berserakan di lantai perahu.
Dan dengan senjata ini ia meloncat ke kepala perahu, membacok beberapa kali ke lantai dan pecahlah dasar perahu sehingga air mulai menyemprot masuk!
Setelah melempar golok itu ke air, ia lalu melompat dengan enaknya ke perahu sendiri.
Empat orang kakek itu berdiri di perahu mereka, memandang perahu hitam yang mulai tenggelam, membawa tiga belas orang yang menggeliat-geliat dalam sekarat.
“Ohhh…. kejam sekali…. aahhh, Koko, aku takut….” Lulu berkata lirih dan mulai menangis.
Han Han hanya menggigit bibir dan diam-diam membuat perbandingan antara kakek yang menjadi gurunya ini dengan Kang-thouw-kwi Gak Liat, sukar ia menentukan siapa di antara kedua orang itu yang lebih kejam hatinya.
Memang mereka memiliki “pegangan” yang berbeda, yaitu kalau Kang-thouw-kwi Gak Liat merupakan seorang yang mau tunduk kepada kerajaan Mancu.
Sedangkan Si Muka Kuda ini menjadi seorang penentang bangsa Mancu, namun baginya, kedua orang itu merupakan orang-orang yang memiliki pribadi yang amat mengerikan.
Memiliki watak kejam yang mudah saja membunuhi orang lain seperti orang membunuh semut saja. Ketika perahu Hek-liong-pang itu tenggelam.
Han Han membuang muka, bukan merasa ngeri, melainkan merasa muak dan diam-diam ia mempertebal keinginannya untuk mempelajari ilmu silat.
Sehingga menjadi orang pandai yang kelak akan dapat menentang manusia-manusia iblis seperti Kang-thouw-kwi Gak Liat dan Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee yang dianggap sebagai datuk-datuk golongan hitam ini. Kembali tiga hari tiga malam telah lewat.
Kini mereka benar-benar berada di tengah lautan yang bebas dan kedua orang anak itu kini tidak dibelenggu lagi, karena mereka diharuskan membantu memasak air dan nasi.
Han Han dan Lulu bekerja tanpa banyak cakap, hanya di waktu malam, kalau Lulu kedinginan karena mereka…….BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



