BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Pada hari ke empat, pagi-pagi sekali matahari mulai muncul di permukaan air sebelah timur, Si Muka Bopeng tiba-tiba berseru kaget.
“Perahu di sebelah depan!” Mereka semua memandang, termasuk Han Han dan Lulu.
Benar saja, di sebelah depan tampak sebuah perahu yang mengembangkan layarnya, perahu yang bercat hitam, juga layarnya berwarna hitam.
Ma-bin Lo-mo memandang ke utara, ke arah perahu itu dan melinduhgi matanya dari sinar matahari dari kanan.
Pandang matanya tajam sekali, lebih tajam daripada kawan-kawannya dan setelah memandang dengan pengerahan tenaga sakti pada kedua
matanya, ia berkata.
“Perahu itu bukan perahu pemerintah Mancu. Selain tidak begitu besar, juga kulihat tidak ada tentara di atas perahu, hanya ada belasan orang.
Juga bukan perahu nelayan, agaknya perahu orangorang kang-ouw yang akan menjadi saingan kita. Kejar! Kita harus basmi mereka, lebih sedikit saingan lebih baik!”
Layar tambahan dipasang, Si Muka Bopeng memegang kemudi dan tiga orang sakti itu masih menambah kelajuan perahu dengan gerakan dayung mereka.
Perahu kecil ini meluncur cepat sekali melakukan pengejaran terhadap perahu yang berada di depan.
Tak lama kemudian perahu itu dapat disusul dan agaknya perahu yang berada di depan juga melihat adanya perahu kecil yang menyusul mereka, dan para penumpangnya agaknya tidak merasa takut.
Buktinya perahu itu tidak melarikan diri, bahkan seolah-olah menanti datangnya perahu kecil yang mengejar.
Akhirnya perahu itu berdekatan, dengan jarak hanya beberapa meter. Kini tampak jelas kebenaran ucapan Ma-bin Lo-mo tadi. Perahu itu bukan perahu pemerintah, juga bukan perahu nelayan.
Yang berada di atas perahu itu adalah tiga belas orang, yang sebelas pria yang dua wanita. Kedua orang wanita itu berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, cantik dan gagah.
Sebelas orang pria itu berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun.
Yang amat mencolok adalah pakaian mereka yang dasarnya berwarna hitam dan mereka semua membawa golok yang tergantung di pinggang dan tampaknya sikap mereka gagah.
Han Han memandang dengan hati tegang. Ia maklum bahwa akan terjadi hal yang mengerikan.
Ketika ia menoleh ke arah Ma-bin Lomo, ia melihat Iblis Muka Kuda itu duduk bersila dan memandang ke arah perahu itu dengan pandang mata dingin dan sikap tak acuh.
Si Hwesio dan Si Muka Bopeng juga memandang penuh perhatian, sedangkan orang yang bermuka tengkorak segera berkata lirih kepada Ma-bin Lo-mo.
“Mereka adalah orang-orang dari Hek-liong-pang (PerkumpuJan Naga Hitam)!”
“Sikat saja, habiskah mereka!” kata Ma-bin Lo-mo dengan suara dingin sehingga Han Han yang maklum maksudnya menjadi ngeri.
Lulu hanya memandang dengan mata terbelalak, tidak tahu apa yang akan terjadi. “Akan tetapi, Siangkoan-locianpwe mereka itu adalah orang segolongan….”
Si Muka Tengkorak berkata dengan muka berubah, ragu-ragu dan khawatir…….BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



