BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – “Suhu….! Harap tolong membebaskan belenggu tangan Adikku lebih dulu….! Dia….! Dia sakit!”
Ma-bin Lo-mo hanya menengok, lalu memberi isyarat kepada SiKepala Gundul yang bangkit berdiri menghampiri Lulu.
Tangannya bergerak cepat menotok pundak Lulu yang segera menjadi lemas dan…. tertidur. Karena tertidur ini maka anak itu tertolong, tidak
begitu menderita lagi dan tidak lagi mabuk-mabuk.
Han Han bersyukur akan tetapi juga kagum. Kiranya tiga orang kawan gurunya itu pun bukan orang-orang sembarangan dan tentu memiliki kepandaian yang amat lihai.
Malam itu mereka berdua diberi makan dan minum dan untuk keperluan ini mereka dibebaskan sebentar.
Setelah makan dan minum, mereka disuruh tidur di dekat dek perahu dengan kedua tangan masih dibelenggu ke belakang dengan tubuh mereka, akan tetapi kaki mereka bebas.
Tentu saja dalam keadaan seperti itu, Han Han dan Lulu sama sekali tidak dapat tidur pulas. Lulu mulai menangis, akan tetapi dihibur oleh Han Han yang tetap bersemangat tinggi dan berhati besar.
“Lihat, alangkah indahnya pemandangannya, Adikku. Lihat itu di langit, bintang-bintang bertaburan seperti intan berlian. Dan laut amat tenangnya, seolah-olah kita tidak bergerak, ya?
Padahal lihat layarnya berkembang dan perahu ini sebetulnya maju cepat sekali.” Lulu terhibur dan setelah melihat ke kanan kiri yang adanya hanya air yang tertimpa sinar bintang-bintang yang suram, ia bertanya.
“Kita ini…. dibawa ke mana, Koko?”
“Entahlah, akan tetapi kalau tidak salah, suhu dan teman-temannya itu sedang mencari sebuah pulau. Pernah aku mendengar para suheng dan suci bercerita tentang Pulau Es.”
“Pulau Es? Di mana itu? Mau apa ke sana?” Lulu bertanya, suaranya penuh kekhawatiran.
“Aku sendiri pun tidak tahu. Aku selalu berada di sampingmu, bukan? Selama aku di sampingmu, tidak usah kau takut. Aku akan melindungimu dengan sekuat tenagaku.”
“Koko….!” Lulu menangis.
“Eh, malah menangis. Ada apa?”
“Koko, mengapa kau begini baik kepadaku?” Suara Lulu terisak-isak.
“Aihhh, aneh benar pertanyaanmu. Kau kan Adikku, tentu saja aku baik kepadamu. Di dunia ini aku hanya mempunyai kau, dan kau
hanya mempunyai aku.”
“Han-ko….!” Lulu kembali menangis dan anak ini lalu menggeser tubuhnya, merebahkan kepalanya di dada kakak angkatnya itu.
Dalam keadaan seperti ini, akhirnya kedua orang anak itu tertidur. Perahu kecil itu melakukan pelayaran selama tiga hari tiga malam.
Cepat sekali karena di waktu angin berkurang, mereka berempat menggunakan dayung dan karena mereka berempat merupakan
orang-orang sakti yang memiliki sin-kang kuat sekali.
Biarpun hanya didayung, perahu itu meluncur amat cepatnya. Tujuan perahu itu adalah ke arah utara. Kalau air laut sedang tenang, Han Han dan Lulu tidak amat menderita.
Akan tetapi apabila perahu dipermainkan gelombang besar, mereka menderita sekali, terutama Lulu…….BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



