BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Ma-bin Lo-mo memandang kawannya ini dengan sinar marah. “Orang she Swi, kau ini pembantu macam apakah?’
“Kita sudah berjanji, kalian bertiga yang sudah biasa dengan pelayaran dan tahu jalan, menjadi pembantu-pembantuku dan jika berhasil perjalanan ini.”
“Kalian akan kuberi masing-masing sejilid kitab ciptaanku mengenai ilmu silat tinggi. Syaratnya kalian harus menurut dan melaksanakan semua perintahku.”
Sian-kouw yang memilih kalian. Apakah kini engkau hendak membantah? Apakah kau takut menghadapi tikus-tikus itu?”
“Tidak…. tidak takut… hanya…”
“Cukup! Hadapi mereka, dan sampaikan pesanku agar mereka tiga belas orang itu cepat meloncat ke laut karena perahu mereka akan kutenggelamkan. Dengan demikian, kita tidak membunuh mereka, hanya merusak perahunya.”
Han Han bergidik. Gurunya ini benar-benar kejam sekali. Kalau tiga belas orang itu dipaksa meninggalkan perahu dan meloncat ke laut, apa bedanya dengan membunuh mereka? Mereka berada di laut bebas, tidak tampak daratan.
Mana mungkin mereka dapat berenang menyelamatkan diri? Kalau tidak mati tenggeJam tentu akan mati di perut ikan!
Sementara itu, tiga beJas orang di atas perahu hitam itu agaknya sudah mengenal Si Muka Tengkorak. Seorang di antara mereka, yang tertua, berusia empat puJuh tahun dan berjenggot Panjang.
Segera mengangkat tangan menjura ke arah Si Muka Tengkorak sambil berkata nyaring.
“Ah, kiranya Swi Coan Lo-enghiong yang membalapkan perahu mengejar kami? Harap Lo-enghiong menerima salam hormat kami yang melakukan perintah ketua kami melakukan pelayaran ini.”
“Cu-wi (Tuan Sekalian) melaksanakan perintah apakah maka berlayar sampai disini?” Suara Si Muka Tengkorak terdengar dingin.
Pimpinan orang-orang Hek-liong-pang itu mengerutkan alisnya yang tebal. “Kami menerima tugas rahasia dari Pangcu (Ketua) kami dan bukanlah hak kami untuk menceritakannya kepada siapa juga.
“Kalau Lo-enghiong ingin mengetahui, hendaknya Lo-enghiong bertanya kepada Pangcu kami sendiri.”
“Bukankah kalian disuruh mencari Pulau Es dan menyaingi kami?”
Si Muka Tengkorak bertanya, suaranya marah karena biarpun di hatinya ia tidak setuju akan perintah Ma-bin Lo-mo, namun untuk melaksanakan perintah ini ia harus mencari alasan.
Pimpinan rombongan Hek-liong-pang yang berjenggot panjang itu tersenyum dan berkata. “Mana mungkin kami dapat menang bersaing dengan Lo-enghiong? Kami hanya mengandalkan nasib baik Pangcu kami.”
“Hemmm, kalian sudah berani mati menyaingi kami mencari Pulau Es, maka jangan sesalkan aku kalau harus mengambil kekerasaan terhadap kalian.”
Tiga belas orang Hek-liong-pang itu mengeluarkan seruan marah. Mereka semua mengenal Si Muka Tengkorak dan tahu akan kelihaiannya.
Akan tetapi karena selama ini Si Muka Tengkorak bersahabat dengan Pangcu mereka, sungguh mereka tidak menyangka bahwa orang tua itu akan memusuhi mereka…….BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



