BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Pembantu yang mentaati perintah beliau ini.” Dia menuding ke arah Ma-bin Lo-mo yang masih duduk bersila sambil tidak menghiraukan mereka sama sekali, seperti orang mengantuk.
Kini tiga belas pasang mata memandang ke arah Ma-bin lo-mo dengan heran dan penuh rasa penasaran. Kakek berpakaian hitam itu kelihatannya saja aneh, mukanya amat buruk dan lucu.
Seperti muka kuda. Akan tetapi mereka belum pernah melihatnya sama sekali. Tiga orang itu biarpun sakti, namun para anak buah Hekliong-pang yang mengandalkan jumlah banyak masih tidak merasa gentar, apalagi terhadap kakek asing yang mukanya seperti kuda itu.
“Siapakah locianpwe ini?” tanya Si Jenggot Panjang menyebut locianpwe karena dapat menduga bahwa biarpun mereka belum mengenalnya.
Namun kakek yang memiliki tiga orang pembantu seperti tiga orang tokoh itu pastilah seorang yang amat tinggi kepandaiannya dan pastilah terkenal.
Swi Coan tersenyum lebar. “Kalian ini orang-orang muda seperti tidak bermata dan tidak bertelinga, masa tidak mengenal Siangkoan locianpwe dari In-kok-san?”
Si Jenggot Panjang dan para adik seperguruannya memandang dengan mata terbelalak penuh perhatian, namun mereka tidak juga dapat mengingat siapa adanya seorang sakti she Siangkoan yang berdiam di In-kok-san.
Akan tetapi seorang di antara dua wanita itu berkata lirih.
“Mukanya…. jangan-jangan dia…. Ma-bin Lo-mo….” Tiga belas orang itu terkejut dan memandang makin terbelalak. Mabin Lo-mo menengok dan memandang tiga belas orang itu.
“Lihat baik-baik, bukankah mukaku seperti muka kuda? Aku benarlah Si Iblis Ma-bin Lo-mo. Hayo kalian lekas-lekas meloncat ke air dan hal ini hanya kulakukan mengingat kalian telah mengenal Swi Coan.”
Tiga belas orang anggauta Hek-liong-pang itu benar-benar kaget.
Mereka tidak pernah mengira akan berjumpa dengan seorang di antara datuk-datuk persilatan yang kabarnya sudah menyembunyikan diri itu, di antaranya adalah Si Muka Kuda ini.
Akan tetapi karena perintah gila itu sama artinya dengan membunuh diri, tentu saja mereka sedapat mungkin hendak membela diri.
“Maaf, Locianpwe. Terpaksa kami tidak dapat meninggalkan perahu, karena kami harus tunduk terhadap perintah Pangcu kami.” “Swi Coan, tidak lekas turun tangan menunggu apa lagi?”
Ma-bin Lomo membentak kepada tiga orang pembantunya. “Kalian tidak lekas meloncat meninggalkan perahu?” teriak Si Muka Tengkorak sambil berjalan ke pinggir perahu, diikuti oleh dua orang temannya.
“Suhu! Kalau mereka disuruh meloncat ke air, bukankah hal itu sama saja dengan membunuh mereka? Mereka tidak bersalah, mengapa akan dibunuh?” Han Han tidak dapat menahan kemarahannya lagi, berteriak nyaring.
“Tutup mulutmu, murid murtad!” bentak Ma-bin Lo-mo marah.
Tentu saja tiga belas orang anggauta Hek-liong-pang menjadi terheran-heran mendengar betapa anak laki-laki yang dibelenggu itu menyebut suhu kepada Ma-bin Lo-mo.
Murid sendiri dibelenggu seperti itu, apalagi terhadap orang lain. Alangkah kejamnya Si Muka Kuda itu.
Akan tetapi karena mereka semua maklum bahwa kalua meloncat ke air tentu mati, Si Jenggot Panjang berkata……..BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



