BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – “Swi Coan Lo-enghiong! Pulau Es adalah sebuah pulau yang bebas, bahkan pemerintah sendiri belum pernah menguasainya.
Siapapun berhak untuk mencarinya. Kami melaksanakan perintah Pangcu kami, dan Lo-enghiong adalah seorang yang sudah mengenal baik Pangcu kami.
Dalam usaha yang bebas ini, bagaimana Lo-enghiong mengatakan kami menyaingi dan Lo-enghiong hendak melarang kami? Harap Lo-enghiong suka ingat akan persahabatan Loenghiong dengan Pangcu kami.”
“He-hemmm….” Si Muka Tengkorak terbatuk-batuk dan menjadi agak kikuk juga. Dia tidak takut kepada orang-orangHek-liong-pang ini, dan terhadap Pangcu mereka, dia hanya merupakan seorang kenalan saja.
Tentu saja ia merasa sungkan, akan tetapi dia pun sudah mengenal siapa Ma-bin Lo-mo dan melanggar janji terhadap kakek sakti ini berarti bunuh diri.
Maka ia lalu berkata. “Kalian mentaati perintah, aku pun demikian. Tidak ada jalan lain, kalian harus meninggalkan perahu kalian, sekarang juga karena perahu kalian harus ditenggelamkan di sini!”
Kembali seruan marah dan penasaran keluar dari tiga belas buah mulut dan wajah para rombongan Hek-liong-pang menjadi merah.
Si Jenggot Panjang yang tahu bahwa perintah itu merupakan perintah yang mengajak berkelahi, menyangka bahwa tentu diantara orang-orang yang berada di samping Swi Coan itu yang merupakan biang keladinya.
Akan tetapi dia tidak mengenal yang lain-lain dan melihat bahwa di situ terdapat dua orang anak dalam keadaan terbelenggu, dia mengerutkan keningnya dan bertanya.
“Kalau kami boleh bertanya, siapakah yang mengeluarkan perintah gila itu? Apakah Losuhu (sebutan untuk hwesio) itu?” Si Muka Tengkorak Swi Coan tersenyum dan mukanya makin mengerikan karena seperti tengkorak yang dapat tertawa.
“Losuhu ini adalah sahabatku yang terkenal di dunia kang-ouw, yaitu Kek Bu Hwesio seorang tokoh dari Kong-thong-pai.” Tiga belas orang anak buahHek-liong-pang terkejut.
Nama Kek Bu Hwesio memang amat terkenal sebagai seorang tokoh yangmenyeleweng dari Kong-thong-pai sehingga terusir dari perkumpulan silat yang besar itu.
Mereka semua maklum bahwa hwesio itu memiliki kepandaian yang tinggi sekali. “Adapun dia itu adalah Ouw Kian yang terkehal dengan julukan Ouw-bin-taihiap (Pendekar Besar Bermuka Hitam).”
Kembali tiga belas orang itu terkejut. Dalam dunia kang-ouw nama Si Muka Bopeng ini sungguh tidak kalah oleh nama besar Kek BuHwesio atau bahkan Si Muka Tengkorak sendiri.
Ouw-bin-tai-hiap hanya julukannya saja taihiap (pendekar besar), akan tetapi sebetulnya memiliki cacad yang amat menyolok.
Yaitu merupakan seorang pendekar yang biarpun suka memusuhi orang-orang golongan liok-lim (perampok dan bajak) namun terkenal pula sebagai seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga alias tukang memperkosa wanita).
Tak mereka sangka bahwa Si Muka Tengkorak itu kini berkawan dengan orang-orang pandai itu.
“Hemmm, nama besar kedua orang Lo-enghiong ini pun sudah kami dengar sejak lama, namun sepanjang ingatan kami, belum pernah kami dari Hek-liong-pang bentrok dengan mereka. Mengapa mereka sekarang memusuhi kami?”
“Sama sekali tidak memusuhi!” kata Si Muka Tengkorak Swi Coan. “Seperti juga aku, kedua orang sahabatku ini pun hanya pembantu …….BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



