BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Mata anak perempuan itu amat lebar, dan karena muka dan tubuhnya kurus, mata itu kelihatan makin lebar.
Tiba-tiba laki-laki itu menyeringai. “Eh, engkau cantik juga, ya? Mukamu manis, kulitmu halus putih….! Hemmm, sayang engkau masih begini kecil, dan kurus….”
Kini tangan kanan laki-laki itu meraba-raba ke dada anak yang tergantung itu secara kurang ajar. “Ah, masih terlalu kecil…. kalau kau lebih besar dua tahun lagi, hemmm…. hebat juga….!”
“Lepaskan aku….! Lepaskan….!” Anak itu meronta-ronta.
“Ha-ha, tentu saja kulepaskan kau. Minggat!” Laki-laki itu lalu melontarkan tubuh itu ke arah pintu gerbang.
Han Han cepat menggerakkan tubuh dan menangkap tubuh anak perempuan itu. Ia lalu menurunkan tubuh anak perempuan yang menggigil ketakutan dan menangis itu.
Kemudian melangkah maju sambil memandang laki-laki yang kejam tadi dengan sinar mata penuh kebencian.
“Kau manusia berhati keji, pengecut rendah yang hanya berani menghina anak perempuan kecil!” Han Han memaki.
Laki-laki itu terbelalak heran dan kaget ketika melihat tubuh anak perempuan itu tahu-tahu disambar oleh seorang pemuda tanggung.
Melihat pakaian pemuda itu, laki-laki yang bekerja sebagai pengawal dan tukang pukul di gedung itu mengira bahwa Han Han adalah putera seorang berpangkat atau hartawan, maka ia berkata.
“Kongcu siapakah dan hendak mencari siapa? Harap jangan pedulikan jembel busuk ini!”
“Keparat! Hayo lekas berlutut dan mohon ampun kepadanya!” Han Han menuding ke arah anak itu. Merah muka si tukang pukul.
“Apa? Engkau siapakah?”
“Aku seorang pelancong yang kebetulan lewat dan menjadi saksi kekejamanmu.”
“Wah-wah, lagaknya. Habis, kau mau apa kalau aku tidak mau minta ampun?” Tukang pukul itu mengejek dan berdiri tegak sambil bertolak pinggang. Tentu saja ia memandang rendah pemuda tanggung yang kelihatan lemah ini.
“Kalau tidak mau, aku akan memaksamu!”
“Ha-ha-ha! Engkau bosan hidup? Baik, mampuslah!”
Tukang pukul yang mengandalkan kekuatan dan ilmu silatnya ini sudah menerjang maju dengan sebuah tendangan kilat ke arah dada Han Han.
Melihat gerakan orang itu masih amat lambat, Han Han tidak menjadi gugup. Ia mengatur langkah, menggerakkan tubuhnya miring mengelak dan tangan kirinya dengan jari-jari terbuka ia hantamkan ke arah kaki yang menendang.
“Krakkk….! Aauggghhh….!” Tubuh laki-laki itu terpelanting dan ia meringis kesakitan karena tulang betisnya telah patah!
“Tidak lekas minta amppn?” Han Han membentak dan di dalam hatinya anak ini merasa puas.
Wajah laki-laki itu baginya seolah-olah berubah menjadi wajah perwira muka kuning dan muka brewok, dan anak perempuan itu mengingatkan ia akan cicinya dan juga ibunya yang sudah diperhina dan diperkosa perwira-perwira tadi.
“Setan kecil!” Tukang pukul itu tentu saja tidak mau terima dan biarpun kakinya terasa nyeri, ia sudah meloncat bangun, golok besar terpegang di tangannya.
Sambil menggereng seperti harimau terluka ia meloncat……BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



