BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Yang perutnya pecah, dadanya berlubang, leher hampir putus. Mayat ini mandi darahnya sendiri. “Han-koko…. aku…. aku takut hiiii….!”
Hampir Lulu tidak dapat melangkahkan kakinya yang menggigil, wajahnya pucat sekali dan sepasang mata yang lebar itu terbelalak.
“Tenanglah, Adikku…. aku pun takut, akan tetapi mari kita lihat ke sana….. eh, dengar…. ada orang merintih….!
Hayo ke sana, suaranya datang dari belakang puing rumah itu….” “Aku…. aku takut…. nge…. ngeri….!”
Akan tetapi Han Han sudah menarik tangan adik angkatnya.
Melihat sekian banyaknya manusia menjadi mayat, tidak seorang pun yang masih hidup, tidak ada yang merintih atau bergerak, membuat hatinya menjadi tertarik sekali ketika ia mendengar suara merintih itu.
Dari jauh ia sudah melihat dua orang yang tidak mati, namun terluka hebat karena dua orang itu masing-masing tertusuk pedang di bagian perut, tertusuk sampai tembus ke punggung!
Mengerikan sekali, akan tetapi juga aneh, karena justeru dua orang ini di antara puluhan mayat yang hidup.
Han Han memiliki ketabahan yang luar biasa, tidak lumrah manusia biasa. Biarpun Lulu sudah hampir pingsan saking ngerinya, namun Han Han tidak apa-apa.
Bahkan ia lalu melepaskan tangan Lulu dan mempercepat langkahnya menghampiri dua orang itu sambil berkata. “Moi-moi, ada orang terluka. Mari kita tolong mereka….!”
Kasihan sekali Lulu. Sudah takutnya setengah mati, kakaknya melepaskan tangannya dan lari meninggalkannya. Seperti seekorkelinci ketakutan ia lalu memaksa kakinya yang lemas itu untuk lari pula mengejar.
“Koko…. Han-ko, tunggu aku….!” Han Han sudah berlutut di dekat dua orang yang terluka itu. Ia memandang dengan kagum dan terheran-heran.
Dua orang itu adalah seorang kakek dan seorang nenek. Usia mereka tentu tidak akan kurang dari tujuh puluhan tahun, akan tetapi jelas tampak betapa mereka berdua itu dahulunya tentulah orang-orang yang elok dan gagah.
Kakek itu masih tampak gagah dan tampan, pakaiannya bersih dan dari rambutnya sampai sepatunya terawat rapi, pakaiannya seperti seorang sastrawan.
Jenggot dan kumisnya terpelihara baik-baik. Adapun nenek itu biarpun sudah tua masih nampak cantik, tentu di waktu mudanya merupakan seorang wanita yang jelita.
Juga pakaiannya rapi dan bersih. Kakek itu bersandar pada meja batu yang terdapat di taman, sebatang pedang menancap di perutnya sampai tembus punggung.
Adapun nenek itu setengah rebah menyandarkan kepala di pundak kanan itu, juga sebatang pedang menancap di dadanya, menembus ke punggung.
Yang mengherankan Han Han, pedang itu sama benar bentuknya, juga serupa gagangnya, pedang yang amat indah, yang putih berkilau seperti perak.
Si nenek menyandarkan kepalanya sambil merintih dan rintihan nenek inilah yang tadi terdengar oleh Han Han. Tangan nenek itu meraba-raba perut kakek yang tertancap pedang.
Kakek itu sendiri sama sekali tidak mengeluh, seolah-olah perut ditembusi pedang tidak terasa nyeri olehnya, dan lengannya merangkul si nenek penuh kasih sayang.
“Tenanglah, Yan Hwa…. tenanglah menghadapi maut bersamaku, sumoi (Adik Seperguruan) tenanglah, Adikku, kekasihku….”
“Oughhh…. suheng (Kakak Seperguruan) aduhhh, Koko (Kanda), mengapa baru sekarang menyebut kekasih….? “Aku…. aku……….BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



