BEBASBARU.ID, INTERNASIONAL – Walaupun Presiden AS Donald Trump terus berkoar-koar, kapal tanker yang minta kawalan pasukan AS aman melintasi Selat Hormuz, tapi di lapangan ternyata jauh dari fakta klaim itu.
Rudal-rudal presisi Iran tetap tak terbendung, Iran menyatakan telah menembak dua kapal tanker yang mencoba melewati Selat Hormuz di bawah pengawalan militer AS tersebut.
Dikutip dri Republika.co.id, Sabtu (01/08/2026), pernyataan itu disampaikan Iran saat Donald Trump mengumpulkan kabinetnya untuk membahas perang yang berlarut-larut dan kenaikan harga menjelang pemilihan paruh waktu di AS.
Menurut Korps Garda Revolusi Islam Iran, Jumat (31/07/2026) waktu setempat, kapal tanker minyak yang tidak patuh telah ditembak dan dihentikan.
“Empat kapal tanker minyak lainnya dengan cepat mengubah haluan dan kembali ke posisi semula. Kapal-kapal tersebut telah mencoba melewati selat melalui rute yang tidak diumumkan dan di bawah pengawalan udara AS,” demikian disampaikan IRGC.
Iran dan AS telah menyatakan bahwa kapal-kapal harus melewati selat melalui dua rute yang bersaing. Iran mengebom kapal-kapal yang mengambil rute selatan, dekat pantai Oman.
Adapun AS mengebom kapal-kapal yang melanggar blokade terhadap kapal dan pelabuhan Iran.
Selat tersebut pun hampir sepenuhnya ditutup untuk lalu lintas sejak Iran dan AS kembali berperang dua pekan lalu. Pertempuran itu kembali menyebabkan harga energi melonjak.
Pada Kamis, harga minyak mentah telah menembus angka $90 per barel saat AS menyerang Iran sebagai balasan atas penargetan pangkalan AS di Yordania.
Pertempuran itu berlanjut pada Jumat, dengan kementerian pertahanan Kuwait melaporkan bahwa mereka telah menembak jatuh drone Iran yang menargetkan fasilitas vital dan militer negara itu.
Buka paksa
Trump mencoba membuka Selat Hormuz dengan paksa. Namun serangan AS yang semakin intensif terhadap Iran hanya menghasilkan sedikit hasil. Selat Hormuz tetap tak bisa dilintasi oleh kapal.
Sementara harga bensin dan bahan makanan tetap tinggi di AS akibat gangguan energi, yang mempersulit peluang Partai Republik menang di kotak suara pada pemilihan paruh waktu November mendatang.
Pada Jumat, Trump mengumpulkan kabinetnya di tempat peristirahatan Camp David di Maryland untuk mencoba merencanakan jalan ke depan untuk perang tersebut.
Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan dalam sebuah pengarahan pekan lalu bahwa pertemuan kabinet akan sangat menyenangkan dan menjadi sesuatu yang berbeda.
Agenda utama adalah perang Iran, yang dijanjikan Trump akan berlangsung beberapa minggu tetapi sekarang telah berlarut-larut selama lima bulan.
Sebuah jajak pendapat Reuters-Ipsos pekan ini menemukan bahwa satu dari tiga orang Amerika mendukung perang tersebut, angka terendah sejak perang dimulai.
Dukungan di Kongres juga semakin melemah, dengan Senat AS menolak secara tipis pemungutan suara simbolis untuk menyatakan ketidaksetujuan terhadap perang. Resolusi kekuasaan perang yang meminta presiden untuk menghentikan perang gagal dalam pemungutan suara 49-50.
Inflasi yang disebabkan oleh perang merupakan keuntungan bagi Partai Demokrat, yang berharap dapat merebut kendali DPR dari Partai Republik.
Perusahaan energi telah mencatatkan rekor keuntungan sebagai akibat dari konflik tersebut. ExxonMobil berlipat ganda dan Chevron melaporkan keuntungan lebih dari lima kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di Lebanon, militer Israel melakukan ledakan besar semalam di dekat Kastil Beaufort kuno. Mereka mengatakan bahwa ledakan tersebut menargetkan terowongan dan infrastruktur Hizbullah.
Ledakan itu terdengar di seluruh Lebanon selatan dan menutupi kota-kota terdekat dengan abu, sementara foto-foto menunjukkan daerah yang terkena dampak rata dengan tanah akibat kekuatan ledakan.
Para pejabat Lebanon menuduh Israel melanggar gencatan senjata dengan melakukan ledakan tersebut. Militer Israel mengatakan bahwa mereka memastikan keamanan penduduk di wilayah utara.***








