BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – selamanya cinta kepadamu, suheng….” “Hushhh…. ada orang datang, diamlah….” “Aughhh…. ahhh, panas rasa kerongkonganku…., aduh, Kanda, minum…. minum….”
Hati Han Han sebenarya sudah tidak mudah lagi terharu. Perasaan hatinya sudah setengah membeku oleh peristiwa hebat yang dialaminya dahulu.
Namun kini menyaksikan keadaan kakek dan nenek itu, ia terheran-heran dan juga timbul rasa iba di hatinya.
“Locianpwe, biarlah saya yang mencarikan air minum….!”
Tanpa menanti jawaban dua orang yang sedang dalam sekarat itu, ia bangkit den cepat pergi mencari air. “Han-ko…. tunggu….!” Lulu berteriak dan meloncat pula mengejar kakaknya.
Anak kecil ini merasa terlalu ngeri kalau ditinggal sendirian di dekat kakek dan nenek yang sekarat itu.
“Mari kita mencari air minum untuk mereka. Kasihan mereka….” kata Han Han yang menanti adiknya lalu menggandeng tangan adiknya.
Sebentar saja mereka mendapatkan sebuah tempat air dan mengisinya dengan air lalu kembali ke dalam taman.
Wajah kedua orang tua itu sudah pucat karena darah mereka terus mengucur keluar dari luka di perut dan dada.
“Ini airnya, locianpwe,” kata Han Han. Ia menyebut locianpwe karena ia dapat menduga bahwa mereka berdua itu tentulah bukan sembarang orang, bahkan ia menduga bahwa kematian puluhan orang itu tentu ada hubungannya dengan mereka.
Adapun Lulu berdiri di belakang Han Han, terbelalak memandang dua orang yang terluka berat dan sedang saling berpelukan mesra itu. “Oohhh, mana air….?” Nenek itu mengeluh.
Kakek itu membuka matanya dan sejenak pandang matanya bertemu dengan pandang mata Han Han. Kakek itu membelalakkan mata, seperti terpesona memandang wajah Han Han.
Akan tetapi segera menerima tempat air dan memberi minum nenek yang kehausan dan sedang sekarat itu.
Air diminum dengan lahap sampai terdengar menggelogok dan sebagian besar tumpah.
Nenek itu terengah kepuasan, wajahnya menjadi tenang, dengan sikap manja merebahkan pipi kirinya di atas pundak kakek itu, tangannya memeluk pinggang, matanya merenung seperti orang ngantuk, akan tetapi tidak merintih lagi.
Kakek itu tidak minum, bahkan tiba-tiba ia menggerakkan tangan yang memegang tempat air.
Han Han terkejut sekali melihat tempat air itu melayang jauh sekali dan jatuh ke atas tanah, tidak pecah, bahkan air di dalamnya yang masih setengah itu tidak tumpah.
Muncrat setetes pun tidak, seolah-olah tempat air itu dibawa melayang tangan yang tidak tampak dan diletakkan di tempat itu!
Wajah kakek itu kelihatan dingin ketika memandang kepadanya dan bertanya.
“Engkau siapa?” Han Han adalah seorang anak yang amat kukoai (aneh), babkan tidak kalah kukoai oleh datuk-datuk persilatan yang bagaimana aneh wataknya sekalipun.
Kalau tadi ia merasa iba, kini menyaksikan sikap kakek itu, timbul keberaniannya dan ia pun hanya berdiri sambal memandang. Sinar kemarahan terpancar keluar dari pandang matanya dan ia menjawab, sama kakunya dengan suara kakek itu.
“Namaku Sie Han!”
Hanya sekian ia berkata karena tidak ada Hasrat hatinya lagi untuk mengetahui siapa adanya kakek dan nenek itu dan apa yang terjadi sehingga mereka terluka seperti itu. ……BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



