BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – “Yang memberi tahu adalah Setan Botak.” “Setan Botak? Kaumaksudkan Setan Botak si….?” “Siapa lagi kalau bukan Setan Botak Kang-thouw-kwi?
“Apakah ada Setan Botak ke dua di dunia ini?” kata Han Han, masih panas hatinya, apalagi karena kakek itu menganggapnya main-main.
Kini mata kakek itu makin terbelalak.
Baru sekarang, setelah menghadapi kematian, ia menemukan seorang anak yang begini kukoai, berani memaki Kang-thouw-kwi dengan julukan Setan Botak.
Padahal, ratusan orang gagah di dunia kang-ouw akan berpikir-pikir seratus kali lebih dulu untuk berani memaki seperti itu!
“Di mana Kakekmu yang berjuluk Jai-hwa-sian itu sekarang?” Kakek itu mulai menduga-duga barangkali Jai-hwa-sian benar-benar datang bersama cucunya dan sengaja menyuruh cucunya itu datang lebih dulu.
Kalau anak ini benar-benar cucu Jai-hwa-sian, tidaklah begitu aneh kalau berani memaki Kang-thouw-kwi. Akan tetapi anak itu menggeleng-geleng kepala.
“Aku sendiri tidak tahu. Mungkin sudah mati, seperti yang diduga Ayah. Aku sendiri tidak pernah melihatnya, sudah puluhan tahun pergi merantau, menurut dongen Ayah….”
“Siapa nama Ayahmu dan di mana tinggalnya?”
“Ayah bemama Sie Bun An, dahulu tinggal di Kam-chi….”
“Sie Bun An? Suma Bun An? Di Kam-chi katamu? Ha-ha-ha-ha-ha, betul juga!”
Kakek itu tertawa bergelak sehingga Han Han menjadi heran dan mengira bahwa tentu kakek yang sudah sekarat ini menjadi berubah ingatannya alias menjadi gila.
“Sekarang di mana adanya Ayahmu itu? Di mana Suma Bun An?”
“Locianpwe! Ayahku adalah Sie Bun An, apa ini Suma-suma segala?”
“Ha-ha-ha! Dasar pengecut, mengingkari she apakah berarti dapat membersihkan diri dari noda? Ya-ya, biarlah, Sie Bun An. Di mana dia kalau engkau tidak tahu di mana adanya Kakekmu?”
“Ayah dan sekeluargaku telah dibunuh perwira-perwira Mancu….”
“Ha-ha-ha-ha-ha, hukum karma….! Ha-ha-ha, tak dapat dihindarkan lagi….”
“Locianpwe!” Han Han membentak, marahnya bukan main.
Belum pernah dia menceritakan riwayatnya kepada siapapun juga dan kalau dia mau menceritakan tentang ayahnya dam keluarganya kepada kakek ini hanyalah karena ia tahu betul bahwa orang yang perutnya sudah tertembus pedang itu takkan dapat hidup lebih lama lagi.
Akan tetapi, dia yang sudah berterus terang menceritakan, malah ditertewakan! Inilah yang benar-benar dapat disebut bocengli (tak tahu aturan)!
Akan tetapi kakek itu tidak peduli, malah tertawa terus dan berkata-kata seorang diri, “Ha-ha-ha, hukum karma! Jai-hwa-sian, engkau tak dapat lari dari kenyataan!
Engkau orang sesat, datuk sesat, hukum karma pasti mengejarmu, betapapun engkau baik terhadap kami. Hukum karma akan mengejar setiap manusia, semua perbuatan jahat akan menimbulkan akibat.
Buah daripada pohon perbuatan sendiri akan dipetik sendiri…. seperti juga kami berdua….Kami berdua mungkin lebih sesat daripada engkau, maka buahnya pun lebih pahit…. aahhh!” Kakek itu kini menangis terisak-isak! ……BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



