BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – “Kakek…. kenapa menggali hal-hal lampau….? Tidak, buah yang kita petik tidak begitu pahit…. engkau mati di tanganku, aku mati di tanganmu, kita menemukan kembali cinta kasih, di ambang maut…. kita mati dalam cinta…. alangkah bahagianya….”
Dengan napas terengah-engah nenek itu memeluk leher kakek itu dan mencium bibirnya!
Mereka berciuman seperti dua orang muda yang sedang diamuk asmara, berciuman mulut dengan mesra, sedangkan darah menetes-netes dari mulut mereka!
Kini Han Han berdiri melongo. Kemarahan dan penasaran di hatinya lenyap tak berbekas seperti awan ditiup angin.
Ia terheran-heran dan memandang terbelalak, menyaingi sepasang mata Lulu yang sejak tadi terbelalak penuh kengerian.
Akan tetapi nenek itu sudah hampir putus napasnya, tidak kuat berciuman lama, dan ia terengah-engah, meletakkan kembali pipi kirinya di atas pundak Si Kakek, bibirnya merah sekali, merah terkena darah, darahnya sendiri dan darah kakek itu.
Bibirnya tersenyum, penuh kebahagiaan, penuh pasrah, seperti seorang bayi akan tidur di pangkuan ibunya. “Moi-moi…. anak ini cucunya…. kita berikan saja kepadanya, ya?”
“Terserah, Koko…. terserah kepadamu. Lekas berikan…. aku sudah ingin sekali melayang pergi bersamamu, Koko….”
Kakek itu kini dengan tangan menggigil merogoh sakunya di sebelah dalam jubahnya, dan tangan kirinya mengeluarkan sebuah kitab dari saku bajunya.
Sedangkan tangan kanannya meraba-raba dan merogoh saku di balik baju Si Nenek, mengeluarkan sebuah kitab pula yang sama bentuk dan warnanya, kekuning-kuningan.
Ia menumpuk dua buah kitab itu di tangan kirinya lalu berkata, suaranya sungguh-sungguh, namun lemah sekali.
“Dengar, anak yang bernama Sie Han…. dengarlah baik-baik, berlututlah….” Suara yang lemah menggetar itu mempunyai wibawa yang luar biasa dan Han Han tak dapat membangkangnya.
Ia tahu bahwa saat kematian kakek dan nenek itu sudah dekat sekali, maka demi menghormat dua orang yang hendak mati, ia pun berlututlah.
Lulu yang tidak disuruh berlutut, namun juga dapat merasakan suasana penuh kengerian dan ketegangan ini, merangkap kedua tangan di depan dada, penuh hormat dan takut-takut.
Dengan tangan gemetar, kakek itu mengangsurkan tangan kirinya yang memegangi dua buah kitab kuning.
“Kauterimalah ini….kausimpan baik-baik dalam bajumu! Lekas…. jangan bertanya, simpan dulu, nanti kuberi penjelasan….”
Han Han tidak diberi kesempatan membantah dan seperti ada sesuatu yamg menggerakkan hatinya anak ini menerima sepasang kitab yang kecil itu, langsung ia masukkan ke balik bajunya.
“Dekatkan telingamu….” Han Han menggeser lututnya, mendekat dan mendengar mulut kakek itu berbisik lirih di dekat telinganya,
“Tambah satu titik di kiri, tambah dua coretan melintang, buang dua titik di bawah, buang satu coretan menurun….” “Sudah mengertikah engkau?”
Han Hen mengangguk dan mencatat pesan itu di dalam hatinya, sungguhpun ia sama sekali tidak mengerti apa maksudnya. ……BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



