BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – “Sungguh mentakjubkan! Si murid lebih bijaksana daripada gurunya! Sam-wi Lo-enghiong (Tiga Orang Tua Gagah).
Karena kami adalah orang-orang yang menjunjung kegagahan dan sebagai anak buah Hek-liong-pang yang mentaati perintah Pangcu, juga sebagai orang-orang gagah yang tentu saja hendak mempertahankan nyawa.
Kami terpaksa akan membela diri dan tidak mau menurut perintah gila itu!” “Orang-orang muda yang keras kepala!” teriak Ouw Kian si muka Bopeng.
Dan mereka bertiga sudah meloncat dengan gerakan ringan sekali ke atas perahu Hek-liong-pang itu.
Sebagai orang-orang yang lebih tinggi tingkatnya, tiga orang itu tidak mengeluarkan senjata mereka dan hendak memaksa tiga belas orang lawan mereka itu untuk dilempar ke laut.
Akan tetapi mereka kecelik. Tiga belas orang itu adalah tokoh-tokoh pilihan dari Hek-liong-pang dan kini ketua mereka mengutus mereka melakukan pekerjaan yang amat penting, yaitu mencari Pulau Es.
Tentu saja ketua Hek-liong-pang tidak mau mengutus anak buah yang kepandaiannya rendah.
Begitu melihat tiga orang kakek yang lihai itu meloncat ke perahu mereka, tiga belas orang itu sudah siap mencabut golok masing-masing dan membentuk sebuah barisan melingkar.
Merupakan lingkaran yang kokoh kuat, barisan golok yang sudah siap menghadapi segala kemungkinan.
Begitu tiga orang kakek itu mendarat di perahu mereka, tiga belas orang yang membentuk lingkaran ini sudah bergerak, setengah berlari berputaran sehingga lingkaran itu bergerak-gerak dan tiga orang kakek berada di luar lingkaran.
Ketika tiga orang kakek itu sambil berteriak maju menyerang dengan kedua tangan mereka, hendak mencengkeram seorang lawan dan dilempar ke laut.
Mereka masing-masing bertemu, dengan tiga empat buah golok yang sekaligus menangkis dan membacok secara lihaissekali. Mereka terkejut dan cepat mengelak dan hendak membalas dengan hantaman kilat.
Namun lingkaran itu bergerak dan mereka berhadapan dengan lain lawan sehingga mereka kembali harus mengubah posisi dan gerakan.
Ternyata barisan tiga belas golok ini lihai sekali dan dapat bekerja sama dengan baik, saling membantu dan saling melindungi.
Tiga orang kakek itu mulai berputaran mengelilingi lingkaran itu, melakukan segala usaha untuk menyerang, namun selalu tidak berhasil.
Andaikata tiga belas orang anggauta Hek-liong-pang itu mau menyerang, tentu mereka bertiga akan dapat “memasuki” pertahanan mereka dan merobohkan seorang di antara mereka.
Akan tetapi, tiga belas orang itu tahu bahwa tingkat kepandaian lawan mereka jauh lebih tinggi maka mereka memusatkan perhatian dan tenaga mereka semata-mata untuk pertahanan sehingga kedudukan mereka kuat sekali.
Betapapun tiga orang kakek itu berusaha, selalu serangan mereka gagal, karena setiap serangan seorang diantara mereka berhadapan dengan tiga empat orang yang menangkisnya.
Setelah lewat dua puluh jurus belum juga tiga orang pembantunya merobohkan seorang pun di antara tiga belas orang anggauta Hekliong- pang Ma-bin Lo-mo menjadi hilang sabar.
“Sialan! Kalian menjadi pembantu-pembantuku namun tiada gunanya. Mundur semua!” Seruan ini segera diturut oleh tiga orang pembantunya yang meloncat kembali ke perahu kecil.
Sesungguhnya, kalau mereka itu mau mencabut, senjata masingmasing dan mengeluarkan seluruh kepandaian, agaknya mereka akan berhasil.
Namun mereka memang setengah hati dalam pertandingan itu, masih agak segan mengingat bahwa Hek-liong Pang…….BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



