BEBASBARU.ID, INTERNASIONAL – PM Israel Benyamin Netanyahu aslinya marah tak kepalang dengan Presiden AS Donald Trump, sebab beri waktu gencatan senjata ke Iran.
Sebabnya, setelah tidak di serang lagi, Iran secara hebat mempu pulihkan kemampuan persenjataannya, bahkan di katakan lebih hebat dari sebelum di serang dulu.
Kini, Israel semakin tegang melihat sinyal tak biasa dari aktivitas militer Iran. Israel percaya Teheran sedang mempersiapkan rudal dan drone untuk serangan dadakan yang menyasar negara Teluk dan Tel Aviv.
Dikutip dari tribunews.com,Sabtu (23/05/2026), melihat kemungkinan ini, Israel langsung berdiskusi untuk membicarakan serangan pendahuluan ke Teheran. Tujuannya agar kemampuan persenjataan Iran lumpuh duluan.
Jerusalem Post pada Jumat (22/5/2026), melaporkan diskusi tersebut digelar oleh pejabat senior dan Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz.
Para pejabat dilaporkan membandingkan potensi operasi tersebut dengan tahap awal Operasi Epic Fury dan Operasi Roaring Lion. Untuk itulah, IDF yang dipimpin Hidai Zilberman mengaku memperkuat kesiapan operasional.
Termasuk berbagi intelijen dengan AS mengenai aktivitas militer Iran yang tidak biasa.
Sementara itu, Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Eyal Zamir melakukan konsultasi dengan para komandan militer sebagai bagian dari penilaian yang lebih luas sebelum menyerang Iran.
Zamir juga tetap menjalin kontak dengan para pejabat militer Amerika untuk mengkoordinasikan kemungkinan respons jika terjadi serangan dari Teheran.
Sejak sebulan terakhir, pengiriman peralatan militer AS ke Israel juga telah meningkat tajam. Apalagi saat ini, Iran juga berpotensi mengembangkan sistem nuklir.
AS dan Israel meyakini bahwa Iran punya sekitar 900 pon uranium yang diperkaya. Jumlah ini diperkirakan cukup untuk pengembangan senjata potensial untuk menghadapi AS dan juga Israel.
Hubungan Trump dan Netanyahu Memanas
Sementara itu, di tengah situasi tegang ini, hubungan Donald Trump dengan Netanyahu justru disebut memanas.
Keduanya bersitegang membahas kelanjutan perang Iran di Timur Tengah. Dilansir dari TRT World pada Sabtu (23/5), perdebatan panas itu dilakukan melalui panggilan telepon.
Perdebatan itu dipicu oleh keputusan Trump yang tiba-tiba mengumumkan batalnya serangan terhadap Iran.
Netanyahu disebut telah bersiap melakukan serangan terbaru terhadap Iran yang dijadwalkan pada Selasa (19/5) waktu setempat.
Namun Trump tiba-tiba membatalkan serangan tersebut dengan alasan diminta oleh para pemimpin negara Teluk. Percakapan telepon antara Netanyahu dengan Trump itu berlangsung selama satu jam pada Selasa (19/5) lalu.
Menurut sumber pejabat Amerika Serikat dan Israel, Netanyahu menyalahkan Trump karena telah menunda menyerang Iran. Netanyahu kemudian mendesak Trump untuk melanjutkan aksi militer terhadap Iran seperti yang direncanakan semula.
Di sisi lain Trump masih memilih menjalankan upaya diplomatik daripada kembali perang. Trump optimis negosiasi dengan Iran bakal mencapai kesepakatan yang diharapkan.
“Perbedaan itu jelas, Trump ingin melihat apakah kesepakatan dapat dicapai, tetapi Netanyahu mengharapkan sesuatu yang lain,” kata seorang pejabat Israel. ***








