BEBASBARU.ID, INTERNASIONAL – Koar-koar Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang selalu ngaku militer negaranya menang melawan Iran hanya passwar semata.
Faktanya, Iran sangatlah cerdik, sebab mereka tetap kokoh berdiri hingga kini. Walaupun mulut besar Donald Trump mengklaim Iran telah “kalah secara militer” dan menyebut operasi Washington terhadap Teheran hampir selesai.
Tapi, di lapangan situasinya justru memperlihatkan hal sebaliknya. Ancaman Iran terhadap jalur komunikasi dan ekonomi global malah semakin meningkat, terutama lewat potensi sabotase kabel bawah laut di Selat Hormuz dan Laut Merah.
Di kutip dari tribunnews.com, Selasa (12/05/2026), kontradiksi itu muncul ketika Trump dalam wawancara dengan jurnalis investigasi Sharyl Attkisson mengatakan, Amerika Serikat sudah menghantam sekitar 70 persen target militer Iran dan bahkan bisa menyerang seluruh target tersisa hanya dalam dua pekan.
Tetapi pada saat yang sama, Washington dan sekutunya justru menghadapi kekhawatiran baru bahwa Iran masih memiliki kemampuan besar untuk melumpuhkan sistem internet, transaksi keuangan, hingga komunikasi militer dunia tanpa harus bertempur secara terbuka.
Bahkan dalam wawancara tersebut, Trump kembali mengungkit “dosa” NATO yang dinilai tidak membantu operasi melawan Iran.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa meski AS mengklaim unggul secara militer, Washington tetap menghadapi keterbatasan dukungan internasional dan belum sepenuhnya mampu mengendalikan eskalasi konflik di kawasan Teluk Persia.
“Mereka sudah kalah secara militer. Mungkin dalam pikiran mereka sendiri mereka belum menyadarinya. Tapi saya rasa mereka tahu,” kata Trump dalam wawancara yang ditayangkan Minggu waktu setempat.
Meski begitu, Trump mengakui Iran belum benar-benar habis. “Itu tidak berarti mereka sudah selesai,” ujarnya.
Ia bahkan mengatakan militer AS masih memiliki banyak target lain yang sewaktu-waktu dapat diserang.
“Kami memiliki target-target tertentu yang kami inginkan, dan mungkin kami sudah menyelesaikan sekitar 70 persennya. Tapi masih ada target lain yang bisa saja kami hantam,” kata Trump.
Ancaman dari Bawah Laut
Di tengah klaim dominasi militer AS tersebut, perhatian dunia kini justru tertuju pada ancaman nonkonvensional yang dinilai lebih sulit diantisipasi, yakni keamanan kabel serat optik bawah laut yang menjadi tulang punggung internet global.
Iran dinilai memiliki posisi geografis strategis untuk menggunakan perang asimetris. Negara itu menguasai wilayah pesisir utara Selat Hormuz, salah satu jalur laut terpenting dunia yang juga menjadi lintasan utama kabel bawah laut penghubung Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.
“Selama ini, lebih dari 99 persen lalu lintas data internasional mengalir melalui kabel bawah laut. Infrastruktur tersebut menopang transaksi keuangan triliunan dollar AS per hari, layanan komputasi awan, komunikasi pemerintahan, hingga jaringan militer,” tulis Prakash Nanda, analis internasional sekaligus penulis di Eurasian Times.
Karena itu, gangguan terhadap kabel bawah laut dapat menimbulkan dampak global dalam waktu singkat.
Kerusakan satu kabel saja di kawasan Teluk dapat memperlambat internet dari Mumbai hingga Frankfurt, menghambat transaksi perbankan internasional, serta mengganggu layanan rumah sakit, maskapai penerbangan, dan jaringan listrik.
Ancaman itu bukan sekadar teori. Pada September 2025, sejumlah kabel bawah laut di Laut Merah dekat Jeddah, Arab Saudi, mengalami kerusakan besar yang menyebabkan gangguan internet di India, Pakistan, Uni Emirat Arab, dan sejumlah negara Timur Tengah.
Sebelumnya, pada Februari 2024, kabel bawah laut di Laut Merah juga sempat terputus. Amerika Serikat menuduh kelompok Houthi di Yaman—sekutu Iran di kawasan—berada di balik insiden tersebut, meski tuduhan itu dibantah.
Rangkaian insiden tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan Iran tidak hanya diukur dari kemampuan militernya menghadapi serangan udara AS dan Israel.
Teheran juga dinilai memiliki kemampuan menekan lawan lewat jalur ekonomi dan infrastruktur global yang sangat sulit dilindungi sepenuhnya.
Saat ini, lebih dari 20 kabel serat optik utama melintasi Selat Hormuz dan Laut Merah, termasuk sistem kabel AAE-1, FALCON, dan GBI yang menghubungkan negara-negara Teluk, India, Afrika Timur, hingga Eropa.
Para analis menilai inilah titik paling rentan dalam konflik terbaru Timur Tengah. Di saat Trump berbicara soal kemenangan militer, dunia justru menghadapi risiko baru berupa lumpuhnya sistem digital global akibat perang di bawah laut.
Apalagi hingga kini belum ada mekanisme internasional yang benar-benar kuat untuk melindungi kabel bawah laut dari sabotase.
Sejumlah negara memang mendorong pembentukan zona perlindungan kabel dan aturan internasional baru, tetapi konsensus global belum tercapai.
Kondisi itu membuat ancaman Iran dinilai tetap besar meski mendapat tekanan militer berat dari Amerika Serikat dan Israel.
Sebab, dengan modal geografis dan kemampuan perang asimetris, Teheran masih memiliki banyak cara untuk menciptakan gangguan global tanpa harus memenangkan perang secara konvensional.
Sekutu AS Makin Terjepit
Sejak Iran menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal musuh, ekonomi negara-negara Teluk Persia terpaksa masuk ke mode darurat karena ekspor energi macet dan sektor pariwisata lesu.
Beberapa negara Teluk masih bisa mengandalkan dana cadangan negara yang besar atau meminjam uang untuk bertahan.
Namun, Bahrain tidak punya keduanya. Meski penduduknya paling sedikit di Asia Barat, dana cadangan negara mereka adalah yang paling lemah di Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).
Bahrain juga salah satu negara dengan utang terbanyak di dunia; mereka pernah butuh dana talangan (bailout) pada 2018 dan bergantung pada intervensi militer Arab Saudi untuk memadamkan pemberontakan tahun 2011.
Selama bertahun-tahun, Bahrain mengikatkan diri sangat erat dengan Barat dan menjadi negara Arab kedua yang menormalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords.
Namun, saat pengaruh Barat mulai memudar dan bahkan Arab Saudi mulai mengambil langkah yang lebih mandiri, Bahrain mungkin akan merasa semakin sendirian.
Kesulitan Sebelum Perang
Bahkan sebelum Selat Hormuz ditutup, Bahrain sudah dalam masalah. Cadangan minyaknya kecil, hanya 125 juta barel, sangat jauh dibanding Qatar yang punya 25 miliar barel. Padahal, minyak menyumbang 60 persen pendapatan pemerintah Bahrain.
Masalah politik juga sudah lama ada. Saat pemberontakan Arab Spring 2011, kerajaan menghadapi protes besar dari warga yang marah karena diskriminasi. Pemberontakan itu baru bisa dipadamkan setelah Arab Saudi mengirim pasukan lewat Jembatan Raja Fahd.
Ketika harga minyak turun, Bahrain kehabisan uang. Karena tidak mau ada kerusuhan lagi di wilayah tetangga mereka, Kuwait, Arab Saudi, dan UEA memberikan bantuan dana sebesar $10 miliar pada 2018.
Bahrain berjanji akan memperbaiki keuangan mereka, namun nyatanya tidak banyak yang berubah. Defisit anggaran dan utang mereka tetap menjadi salah satu yang terburuk di dunia.***







