BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Lulu sudah merasa lelah sekali, lelah karena semalam tidak tidur, ditambah tadi bekerja keras menggali kuburan, terutama sekali karena mengalami ketegangan hebat.
Maka giranglah hatinya Ketika kakak angkatnya hendak menggendongnya. Tanpa banyak cakap ia lalu merangkul leher Han Han dari belakang dan mengempit pinggang kakaknya dengan kedua kaki.
Han Han bangkit berdiri lalu lari secepatnya. Tubuh Lulu yang hangat menempel tubuhnya membuat hatinya merasa girang sekali, merasa bahwa kini ada orang yang menyayangi, yang juga amat disayangnya dan yang harus ia lindungi.
Keluarganya sudah habis, dan kini semua rasa sayang terhadap keluarganya itu ia tumpahkan kepada diri Lulu. Sambil merangkul kedua kaki adik angkatnya, ia berlari terus tanpa mengenal lelah.
Ia harus pergi sejauh mungkin dari bukit di mana terdapat dusun perampok yang terbasmi habis itu. Sambil berlari, Han Han teringat akan semua peristiwa tadi.
Ia bingung dan terheran-heran. Benarkah kakeknya adalah orang yang berjuluk Jai-hwa-sian itu? Kalau benar, mengapa ayahnya atau ibunya tidak pernah bercerita tentang kakeknya?
Pernah ia bertanya tentang kakeknya, namun ayahnya hanya mengatakan bahwa kakeknya sudah pergi jauh tak diketahui tempatnya semenjak ayahnya masih kecil.
Yang ia ketahui hanya bahwa kakeknya itu bernama Sie Hoat. Agaknya tidak mungkin kalau kakeknya itu adalah seorang sakti dan aneh seperti mendiang Can Ji Kun si Iblis Jantan, atau seperti Kang-thouw-kwi dan datuk-datuk lain.
Kalau kakeknya seorang sakti, sedikitnya tentu ayahnya seorang yang berkepandaian pula. Akan tetapi ayahnya…. ah, hatinya kecewa sekali kalau ia teringat akan ayahnya.
Teringat akan segala peristiwa yang menimpa ayahnya. Ayahnya memang tewas sebagai seorang gagah yang membela keluarga, akan tetapi seorang gagah yang lemah dan sama sekali tidak memiliki kepandaian silat.
Ayahnya seorang lemah. Mungkinkah ayahnya putera seorang sakti? Jai-hwa-sian! Dewa Pemetik Bunga!
Sudah banyak ia baca, dan ia tahu apa artinya seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga), yaitu seorang penjahat cabul yang suka memperkosa wanita!
Biarpun sakti dan berilmu tinggi, akan tetapi jahat. Dan dia menjadi cucu seorang penjahat cabul? Ah, tak mungkin! Dan ia tidak sudi.
Tentu hanya kesalahan tafsir belaka.
Bukan! Dia bukan cucu Jai-hwa- sian. Akan tetapi, dia harus memenuhi permintaan Sepasang Pedang Iblis tadi yang telah menjadi gurunya, dia harus mencari Jai-hwa- sian dan menyerahkan sepasang kitab ilmu pedang itu.
Apa pula rahasianya? Han Han memiliki daya ingatan yang amat kuat. Ketika ia mengenangnya kembali, terngiang di telinganya bisikan Can Ji Kun si Iblis Jantan,
“Tambah satu titik di kiri, tambah dua coretan melintang, buang dua titik di bawah, buang satu coretan menurun.”
Dia tidak tahu apa artinya ucapan itu, akan tetapi dia harus menghafalnya dan tak boleh melupakannya, karena ucapan rahasia itu harus disampaikan pula kepada Jai-hwa-sian bersama sepasang kitab ilmu pedang.
Akan tetapi ke mana ia harus mencari Jai-hwasian? Dan ke mana ia harus pergi? Suhunya yang ke dua, Ma-bin Lomo tentu akan mencarinya dan kalau ia sampai ditangkap, celakalah!
Dia harus pergi jauh, bersama Lulu. Ke mana? Ke kota raja! Dengan keputusan hati ini, Han Han melanjutkan larinya. Tanpa ia sadari kedua kakinya sudah lelah sekali.
Hanya berkat kemauannya yang keras luar biasa maka ia dapat berlari terus sampai menjelang senjadi mana ia tiba di pinggir sebuah sungai yang airnya jernih.
Melihat air gemilang inilah yang membuat lemas seluruh persendian tulangnya. Sekali ia melihat air dan merasa haus, terasalah seluruh kebutuhan jasmaninya.
Haus, lapar, lelah! Kakinya tersandung batu dan ia jatuh terguling! Akan tetapi karena teringat kepada Lulu, ia cepat memutar tubuh dan menyambar tubuh adik angkatnya, membiarkan dirinya yang jatuh terbanting di bawah, sedangkan……BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



