BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – “Suhu….! Subo….!” Han Han mengguncang-guncangkan tubuh mereka, seperti orang hendak membangunkan dua orang dari tidur nyenyak.
Namun mereka berdua itu tidak akan bangun lagi dan guncangan tubuh mereka itu membuat rangkulan terlepas dan tubuh mereka terguling, satu ke kanan satu ke kiri.
“Me…. mereka…. sudah mati…. oohhh….!” Lulu menahan isaknya, merasa ngeri kembali karena baru sekarang selama hidupnya ia melihat orang menghembuskan napas terakhir.
“Aku harus mengubur mereka….” “Hayo kita pergi. Han-ko…., aku takut sekali….”
“Nanti dulu, Lulu. Aku harus mengubur jenazah mereka. Mereka ini adalah suhu dan subo. Aku tidak mau menjadi seorang murid yang tidak mengenal budi. Tunggulan sebentar.”
“Kalau begitu, mari kubantu engkau, Han-ko.”
Dua orang anak itu lalu bekerja keras mengggali sebuah lubang di bawah pohon dalam taman itu. Untung bahwa Han Han memiliki tenaga besar yang tidak disadarinya.
Sehingga dalam Waktu beberapa jam, setelah matahari naik tinggi, tergalilah sebuah lubang cukup besar.
Lulu juga membantunya, mempergunakan dua buah cangkul yang mereka temukan di dusun yang sudah terbakar itu.
“Pedang-pedang itu bagus sekali!” bisik Lulu. Han Han menggeleng kepala. “Untuk apa pedang bagi kita, Moi-moi?
Pedang itu adalah pedang mereka dan agaknya mereka itu senang sekali terbunuh dengan pedang masing-masing.
Biarlah kita mengubur mereka berikut pedang-pedangnya.” Lulu tidak berani membantu ketika Han Han mengangkat tubuh dua orang tua itu, satu demi satu, ke dalam lubang.
Akan tetapi ia membantu dengan rajin ketika Han Han menguruk lubang itu dengan tanah galian. Selesailah penguburan sederhana itu, dan Han Han lalu berlutut memberi hormat untuk terakhir kalinya di depan makam suami isteri yang menjadi gurunya.
Lulu juga ikut-ikutan berlutut memberi hormat. “Sekarang kita harus cepat pergi dari sini….” kata Han Han.
Sebetulnya Lulu telah lelah sekali bekerja setengah hari dan tidak makan, hanya minum air yang bisa mereka dapatkan di bekas dusun itu.
Akan tetapi karena ia merasa ngeri untuk berdiam lebih lama lagi di dusun yang penuh mayat bergelimpangan, ia merasa girang diajak pergi dan setengah berlari mereka keluar dari dusun yang terbasmi habis oleh keganasan sepasang manusia aneh itu.
Setelah agak jauh dari dusun itu, Han Han teringat bahwa keadaannya tadi amatlah berbahaya. Puluhan mayat berada di dalam dusun yang terbakar habis, dan yang hidup hanyalah dia dan Lulu!
Bagaimana kalau sampai ada orang lain datang ke dusun itu? Tentu dia dan Lulu akan disangka menjadi penyebab kejadian mengerikan itu.
Berpikir demikian, ia lalu memegang tangan Lulu dan diajaklah anak itu berlari. “Aduh…. aduh…. perlahan-lahan, Koko…. kakiku sakit….!”
Akan tetapi Han Han yang kini sadar akan bahaya yang mengancam mereka kalau sampai ada orang tahu, segera berjongkok dan berkata, “Lekas, mari kugendong….”……BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



