BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Makin percaya bahwa kakekmulah Jai-hwa-sian itu. Kulanjutkan penuturanku selagi aku masih kuat bicara. Kami suheng dan sumoi.
Seperti engkau saksikan sendiri, saling mencinta dan kelihatannya rukun dan saling membela, saling membantu, saling melindungi. Sayang sekali, kenyataannya selama puluhan tahun tidaklah demikian.”
“Kami tidak bisa menjadi suami isteri, tidak bisa menikah karena sumpah kami di depan guru kami….”
“Sumpah apakah, locianpwe?” Han Han bertanya, tertarik hatinya. Juga Lulu yang masih berdiri di belakang Han Han, mendengarkannya dengan hati tertarik dan berkurang rasa ngerinya.
Keadaan yang bagaimana mengerikan sekalipun akan kalah oleh biasa, lama-kelamaan hati akan terbiasa juga.
“Guru kami menyumpah bahwa murid-muridnya tidak boleh menikah, kalau dilanggar harus ditebus nyawa….”
“Iihhh…., kejam….!” seru Lulu.
“Karena itu, biarpun saling mencinta, kami berdua tidak dapat mengikat tali perjodohan. Hal ini membangkitkan semacam kedukaan, kekecewaan dan akhirnya berubah menjadi kebencian.’
“Kami lalu mulai mengumbar nafsu kebencian ini, kami saling berlomba berebut untuk membunuh-bunuhi orang yang dianggap jahat. Kami tidak pandang bulu.”
“Dan karena itulah kami dikenal sebagai Sepasang Pedang Iblis yang telengas. Dusun ini adalah sarang berandal, dahulu, puluhan tahun yang lalu kami berdua hampir celaka oleh kecurangan perampok-perampok ini.”
Untung ada Jai-hwa-sian yang menolong kami. Karena itu, hari ini kami yang kebetulan mendapatkan sarang mereka, datang membasmi mereka.”
“Akan tetapi, kembali kami saling berlomba dan akhirnya kami tidak hanya bersaing, melainkan saling serang sehingga akhirnya….engkau lihat sendiri akibatnya….” Kakek itu mulai lemah suaranya.
Nenek itu membuka mata dan berkata, suaranya seperti orang berbisik, “Memang, jodoh antara kira harus ditebus dengan nyawa, Koko…. dan aku…. aku girang sekali…. aku bahagia….”
Kakek itu mencium kening nenek itu. “Sie Han…. Thian (Tuhan) telah mengirim engkau sebagai ahli waris kami….
kalau engkau tidak dapat menemukan Jai-hwa-sian, sepasang kitab itu kuberikan kepadamu…. engkau…. engkau mulai saat ini menjadi murid kami, dan aku girang mempunyai murid seperti engkau….”
Han Han yang tahu bahwa dua orang itu takkan bebas dari kematian, tidak mau mengecewakan mereka. Gurunya sudah banyak. Lauw-pangcu, Ma-bin Lo-mo dan yang terakhir Toat-bengCiu-sian-li.
Sekarang ditambah lagi dengan Sepasang Pedang Iblis ini, tidak mengapalah. Ia lalu menelungkup sebagai penghormatan dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Teecu (murid) menghaturkan terima kasih kepada suhu dan subo (Ibu Guru).” Akan tetapi kakek itu sudah tidak mempedulikannya karena kini ia mengalihkan perhatiannya kepada nenek itu.
Mereka kembali saling rangkul, saling mencium dan…. mereka menghembuskan napas terakhir dalam keadaan seperti bersandar pada meja batu dan kalau saja tidak ada sepasang pedang yang menancap dan menembus tubuh mereka.
Tentu mereka itu disangka sebagai dua orang yang sedang tenggelam dalam permainan cinta. ……BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



