BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Kembali dua pasang mata beradu pandang dan kakek itu makin terbelalak. “Eh….! Matamu….!”
“Mataku kenapa?” balas tanya Han Han, makin penasaran.
“Seperti….” “Mata setan!” Han Han melanjutkan, makin mendongkol dan ter ingat akan pengalamannya dengan Lauw-pangcu dan juga dengan Kangthouw- kwi dan Ma-bin Lo-mo. Mereka itu semua menyatakan keheranan akan matanya.
Lama-lama ia menjadi bosan juga kalua tokoh besar selalu menyebut-nyebut matanya. Kakek itu menggeleng-geleng kepala, dan aneh…. dia tersenyum geli.
“Wah, tidak hanya matanya, juga wajahmu dan sikapmu yang kepala batu…. akan tetapi pada dasarnya berhati penuh welas asih…. eh, engkau benar-benar bocah aneh, mengingatkan aku akan seorang sahabatku yang amat baik.”
“Hemmm, locianpwe yang aneh. Bicara tentang sahabat, akan tetapi keadaan locianpwe berdua ini tidak membayangkan bahwa locianpwo baru saja bertemu dengan seorang sahabat,”
Han Han menuding ke arah dua batang pedang yang masih menancap di tubuh mereka.
Nenek itu mengangkat muka memandang kakek yang masih dipeluknya. “Koko…. siapa bocah setan ini? Perlu apa bicara dengan dia? Mana…. mana dia…. Jai-hwa-sian?”
“Sabar, Moi-moi…. Jai-hwa-sian belum juga datang…. ahhh, sayang sekali…. kalau sampai kita keburu mampus sebelum dia muncul….”
Han Han terkejut sekali. Tadinya ia merasa geli dan juga iba mendengar betapa dua orang tua renta ini demikian mesra-mesraan dan menyebut koko dan moi-moi.
Akan tetapi mendengar nama Jai-hwa-sian disebut-sebut, ia terkejut. “Locianpwe mencari Kong-kongku?” Kakek itu mengangkat muka memandang, cemberut.
“Siapa mencari Kong-kongmu? Siapa itu Kong-kongmu?”
“Jai-hwa-sian….!”
“Hehhh….?”
“Ihhhhh….?”
Kakek dan nenek itu berseru kaget dan kini memandang Han Han yang masih berdiri dengan muka merah.
Dia tadi telah kelepasan bicara, mungkin ia mengaku Jai-hwa-sian sebagai kakeknya hanya karena merasa penasaran tidak dipandang mata oleh kakek itu.
Juga karena ia terkejut dan teringat akan sangkaan Kang-thouw-kwi bahwa dia adalah cucu Jai-hwa-sian. “Heh, anak setan, siapa nama Kong-kongmu?”
“Namanya Sie Hoat.”
Kakek itu mengerutkan alisnya, sedangkan nenek itu yang masih lemah telah menyandarkan kembali pipinya ke pundak Si Kakek dengan sikap manja. Bagaimana kau tahu kakekmu itu berjuluk Jai-hwa-sian?” …..BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



