BEBASBARU.ID, SAMARINDA – Ibukota Nusantara (IKN) pada Tahun 2028 kata Presiden Prabowo akan resmi menjadi Ibukota Negara Republik Indonesia.
Bahkan, Prabowo juga sudah katakan, selain dirinya yang akan berkantor di IKN bersama Wapres dan jajaran kabinetnya, DPR RI atau para wakil rakyat juga akan berkantor di sana, atau hasil Pemilu 2029 yang akan datang.
Nah, yang jadi masalah kini adalah, di balik gegap gempita itu, ada suara yang mulai terdengar lirih. Suara dari lobi-lobi hotel yang tidak lagi seramai biasanya.
Suara dari ruang rapat yang kosong. Suara dari para pekerja perhotelan yang mulai bertanya-tanya tentang nasib mereka beberapa bulan ke depan.
Ironinya, ketika Kaltim sedang bersiap menjadi beranda depan Indonesia, industri perhotelan justru sedang menghadapi salah satu masa paling sulit dalam beberapa tahun terakhir.
Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang memangkas berbagai kegiatan rapat, pelatihan, perjalanan dinas, dan agenda MICE telah menciptakan gelombang kejut yang langsung menghantam hotel – hotel di Samarinda dan Balikpapan.
Padahal selama ini pasar pemerintah menjadi tulang punggung utama industri, menyumbang sekitar 50 hingga 70 persen pendapatan sebagian besar hotel.
Akibatnya, tingkat hunian turun drastis. Banyak kamar yang biasanya terisi kini kosong. Ballroom yang dahulu penuh aktivitas kini lebih sering gelap dan sunyi.
Yang paling menyedihkan, dampaknya tidak berhenti pada laporan keuangan perusahaan. Dampak itu mulai menyentuh kehidupan manusia.
Hari ini di akhir kuartal ke-2 pertengahan tahun Juni 2026, tidak sedikit hotel yang memilih langkah bertahan dengan merumahkan karyawan secara bergilir.
Mereka masih menerima gaji, tetapi jam kerja berkurang. Mereka masih tercatat sebagai pekerja, tetapi masa depan mereka menjadi penuh ketidakpastian.
Jika kondisi ini terus berlangsung, kekhawatiran terbesar bukan lagi soal okupansi hotel, melainkan ancaman PHK yang semakin nyata di depan mata.
Di balik seragam resepsionis yang selalu tersenyum, ada keluarga yang harus membayar biaya sekolah anak.
Di balik petugas housekeeping yang membersihkan kamar setiap hari, ada kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi.
Di balik para koki, teknisi, satpam, dan pelayan restoran, ada ribuan keluarga yang menggantungkan harapan pada hidupnya industri perhotelan.
Ketika hotel kehilangan tamu, sesungguhnya yang sedang terancam bukan sekadar bisnis, melainkan mata pencaharian masyarakat lokal.
Karena itu, pemerintah perlu melihat persoalan ini secara lebih utuh. Efisiensi anggaran memang penting, tetapi efisiensi tidak boleh berubah menjadi kontraksi ekonomi yang mematikan sektor-sektor produktif.
Relaksasi pajak hotel dan restoran, insentif bagi industri pariwisata, peningkatan agenda promosi daerah, hingga pemberian ruang bagi kegiatan strategis seperti event/MICE yang tetap melibatkan hotel dapat menjadi jalan tengah yang lebih bijaksana.
Di saat yang sama, industri perhotelan juga tidak boleh terus bergantung pada pasar birokrasi. Krisis ini harus menjadi momentum untuk melakukan transformasi.
Hotel-hotel di Kaltim perlu lebih agresif membidik pasar korporasi swasta, industri pertambangan, energi, serta wisatawan yang datang untuk menikmati kekayaan alam dan budaya daerah.
Inilah saatnya konsep Quality Tourism yang menjadi fokus Kementerian Pariwisata (Kemenpar RI) diwujudkan secara nyata, bukan sekadar slogan.
Wisatawan tak Sekadar Cari Tempat Menginap
Wisatawan masa kini tidak hanya mencari tempat menginap, tetapi pengalaman yang berkesan, autentik, bernilai, dan memberikan dampak ekonomi dan sosial yang luas bagi masyarakat lokal.
Kalimantan Timur memiliki semua modal itu. Sungai Mahakam, budaya Dayak, keindahan hutan tropis, wisata orang utan, wisata pesisir, hingga magnet IKN adalah kekuatan yang tidak dimiliki banyak daerah lain.
Tantangannya adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi pergerakan ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Pada akhirnya, keberhasilan Kaltim tidak hanya diukur dari megahnya gedung-gedung di IKN. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika pembangunan mampu menjaga harapan orang-orang kecil yang bekerja di balik layar.
Sebab menyelamatkan pekerja hotel bukan hanya menyelamatkan sebuah industri. Itu adalah upaya menjaga wajah keramahan Kalimantan Timur, menjaga kepercayaan wisatawan, dan memastikan bahwa ketika ibu kota baru berdiri megah, masyarakat di sekitarnya juga ikut berdiri dengan sejahtera. ***
Dikutip dari tribunkaltim: Penulis: Pengamat, Pemerhati dan Praktisi Hospitality/ Dosen Industri Prodi. Pariwisata Politeknik Negeri Samarinda.







