BEBASBARU.ID, INTERNASIONAL – Bukan Israel namanya kalau tidak ngeles dan cari pembenaran atas tewasnya 3 anggota TNI yang bertugas sebagai The UN Interim Force in Lebanon (UNIFIL), di Lebanon Selatan.
Perwakilan mereka di PBB malah menyalahkan pihak Hizbullah dan Iran yang di tuding penyebabnya, aneh dan keras kepala bukan?
Hal ini disampaikan oleh Perwakilan Permanen Israel untuk PBB Danny Danon dalam Sidang Darurat Dewan Keamanan PBB (DK PBB) mengenai situasi Lebanon, pada Selasa (31/3).
Di kutip BEBASABARU.ID dari jpnn, Kamis (02/04/2026), sidang darurat ini diselenggarakan atas desakan Indonesia bersama Prancis, sebagai wujud komitmen panjang Indonesia terhadap operasi perdamaian PBB.
Meski menyampaikan ucapan belasungkawa, sejak awal Danon sudah dalam posisi defensif sambil menyalahkan Hizbullah.
Dia mengklaim kelompok Hizbullah yang bertanggung jawab atas serangan terhadap pasukan UNIFIL, yang telah menewaskan tiga prajurit TNI.
Dia menyebut, pasukan UNIFIL terkena alat peledak Hizbullah dalam sebuah insiden di dekat Bani Hayyan.
Selain itu, penembakan terhadap posisi UNIFIL di dekat Adchit al-Qusayr pada tanggal 29 Maret, yang menyebabkan gugurnya penjaga perdamaian UNIFIL secara tragis, juga dituding dilakukan oleh kelompok tersebut.
“IDF (Pasukan Pertahanan Israel) tidak melepaskan tembakan di sekitar lokasi tersebut. Situasinya sangat kompleks. Keadaan berubah dengan sangat cepat dan berbahaya,” ujarnya disimak dari UN web TV.
Menurut dia, pihaknya tidak menginginkan eskalasi tersebut. Justru Hizbullah yang memulai dengan menembaki pasukan Israel dengan alasan membalas kematian pemimpin tertinggi Iran.
“Hizbullah telah melakukan serangan terkoordinasi terhadap warga sipil Israel atas arahan dari Teheran. Lebih dari 5.000 roket, rudal, dan drone telah ditembakkan kepada rakyat kami. Banyak dari serangan ini diluncurkan dari daerah selatan Sungai Litani,“ jelasnya.
Menurut dia, Hizbullah tertanam sangat dalam di seluruh Lebanon selatan. Mereka beroperasi dari desa-desa, meluncurkan serangan dari area sipil, dan menempatkan diri mereka dekat dengan pasukan UNIFIL.
Dalam momen itu, ia bahkan menunjukkan peta lokasi Hizbullah yang beroperasi tepat di samping posisi UNIFIL.
Termasuk empat senjata peluncur Hizbullah yang diarahkan ke Israel pada 9, 10, dan 11 Maret, di dekat Haniyeh, tepat di samping posisi UNIFIL 510.
“Hizbullah sengaja beroperasi di dekat posisi PBB dan menempatkan mereka langsung di garis api. Kami memberitahu UNIFIL agar mereka sadar akan risiko ini dan mengambil tindakan pencegahan,” sambungnya.
Pemerintah Indonesia melalui Wakil Tetap RI untuk PBB, Duta Besar Umar Hadi merespon pernyataan tersebut dengan tegas. Kepada majelis, dia menekankan, bahwa Indonesia tidak ingin mendengar alasan-alasan dari Israel.
Namun, mendesak segera dilakukannya penyelidikan yang transparan atas serangan pada pasukan penjaga perdamaian di Lebanon.
“Kami menuntut penyelidikan oleh PBB, bukan alasan dari Israel. Kami menuntut agar Dewan Keamanan terus mengawal perkembangan penyelidikan dan segera menindaklanjuti hasilnya,” tegasnya.
Dia menegaskan bahwa para pelaku harus dimintai pertanggungjawaban secara hukum. Kekebalan hukum tidak boleh menjadi standar, dan serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian tidak boleh diulangi atau ditoleransi.
Di awal pidatonya yang berdurasi kurang lebih 9 menit, Umar secara lantang membacakan nama-nama korban jiwa yang merupakan pasukan Indonesia dari unsur TNI.
Zulmi Aditya Iskandar, Mayor Infanteri, 33 tahun. Muhammad Nur Ichwan, Sersan Satu, 25 tahun. Juga Fahrizal Rhomadhon, Kopral, 27 tahun.
Saat menyebut usia mereka, Umar selalu menggunakan kata “young” alih-alih “old” seperti biasanya.
Hal ini sebagai penekanan, bahwa para prajurit ini masih sangat muda dan harusnya dapat memiliki masa depan panjang jika tidak menjadi korban kejahatan perang.
“Izinkan saya memulai dengan menghormati kenangan para pejuang perdamaian yang gugur dengan menyebutkan nama-nama mereka di Ruang Sidang yang terhormat ini,” ujarnya.
Dia juga sempat menyebut satu persatu nama prajurit Indonesia yang terluka. Mulai dari Kapten Sulthan Wirdean Maulana, Kopral Rico Pramudia, Kopral Arif Kurniawan, Kopral Bayu Prakoso, dan Prajurit Kadet Deni Rianto.
Kembali Kecam Serangan pada UNIFIL
Selanjutnya, Umar pun menumpahkan semua duka, kemarahan, dan frustrasi mendalam dari Pemerintah dan rakyat Indonesia atas serangan terhadap pasukan pemelihara perdamaian (peacekeepers) Indonesia pada sidang tersebut.
Yang diyakininya, rasa duka, amarah, dan frustrasi ini juga dirasakan secara luas oleh masyarakat dunia. Sebab, ini bukan hanya kehilangan besar bagi Indonesia tapi juga semua pihak, termasuk PBB.
Ia pun kembali menegaskan sikap Indonesia yang mengecam keras serangan keji terhadap penjaga perdamaian Indonesia yang bertugas di UNIFIL, pada 29 dan 30 Maret 2026 lalu.
“Kami tidak dapat menerima pembunuhan terhadap para penjaga perdamaian ini. Para penjaga perdamaian ini gugur dan terluka saat menjalankan mandat yang dipercayakan kepada mereka oleh Dewan ini sendiri,” paparnya.
Secara tegas, ia pun mendesak semua pihak terkait untuk memastikan pemulangan jenazah ketiga personel yang wafat secara cepat, aman, dan bermartabat.
Termasuk, memastikan diberikannya perawatan medis terbaik dan komprehensif bagi lima penjaga perdamaian yang terluka untuk memastikan pemulihan mereka secara penuh dan cepat.
Sindir Pihak yang Salahkan Korban
Di samping itu, ia turut menyentil adanya beberapa pihak yang berargumen bahwa para prajurit yang gugur ini memang berada di zona perang aktif.
Narasi ini seolah mengabaikan pertanyaan mendasar mengenai siapa yang bertanggung jawab menciptakan dan mempertahankan zona permusuhan aktif tersebut.
“Eskalasi saat ini tidak muncul begitu saja. Hal ini berakar dari infiltrasi berulang kali oleh Militer Israel ke wilayah Lebanon,” tegasnya.
“Indonesia mengecam keras serangan Israel di Lebanon selatan, yang merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon,” sambungnya.
Lebih lanjut, dia mengungkapkan, bahwa seiring dengan meningkatnya eskalasi di Lebanon Selatan dalam beberapa minggu terakhir, serangan terhadap penjaga perdamaian UNIFIL ternyata juga turut meningkat.
Serangan berulang ini pun dinilainya bukan sekadar insiden biasa. Tapi, serangan yang disengaja yang bertujuan untuk merusak UNIFIL dan menghalangi kemampuannya dalam memenuhi mandat Resolusi 1701.
Dia menyebut, serangan-serangan ini merupakan ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan internasional. Sehingga dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang berdasarkan hukum internasional.
“Oleh karena itu, kami menuntut investigasi yang segera, menyeluruh, dan transparan. Izinkan saya mempertegas: kami menuntut investigasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, bukan dalih dari pihak Israel,” tegasnya.
Selain itu, Indonesia juga menuntut jaminan tegas dari semua pihak yang terlibat, termasuk Israel, untuk menegakkan kewajiban mereka di bawah hukum internasional.
Indonesia mendesak agar serangan dan perilaku agresif yang membahayakan personel dan aset PBB segera menghentikan.
Semua pihak juga diminta menahan diri dari tindakan apa pun yang memperparah permusuhan.
Umar juga menyentil fungsi DK PBB dan Sekjen PBB. Dia meminta, agar PBB segera menerapkan langkah-langkah darurat untuk memastikan perlindungan penuh bagi personel dan aset UNIFIL.
Termasuk peninjauan protokol pengaturan keamanan, serta aktivasi rencana kontingensi dan evakuasi yang sepadan dengan perkembangan di lapangan.***







