BEBASBARU.ID, INTERNASIONAL – Iran terus menangkapi pengkhianat di negaranya, yang sengaja di rekrut Mossad dan CIA, agar mau kasi tahu target yang akan di serang agresor ini.
Tak main-main, ratusan orang terbukti jaid agen dua negara penjajah itu, dan dari interogasi yang di lakukan, rata-rata mereka di bayar mahal, agar jadi pengkhianat bagi negaranya.
Kementerian Intelijen Iran mengumumkan penangkapan puluhan orang yang dituduh terlibat dalam jaringan spionase dan sabotase di sejumlah wilayah, ketika tekanan keamanan di dalam negeri meningkat di tengah perang dan kekhawatiran pemerintah terhadap gejolak pascakonflik.
Sebagaimana diberitakan Iranintl pada Selasa (31/6/2026), 41 orang dituduh mengirimkan lokasi pos pemeriksaan, pusat pertahanan, dan fasilitas sensitif di Teheran kepada media oposisi yang oleh Teheran disebut terkait dengan Israel.
Pemerintah Iran mengatakan para tersangka juga menandai kompleks permukiman sebagai lokasi militer agar dapat menjadi sasaran serangan. Dari penangkapan itu, aparat menyita tiga perangkat komunikasi, satu pistol, dan satu perangkat internet satelit Starlink.
Masih menurut Kementerian Intelijen Iran, lima anggota dari dua sel yang disebut teroris juga ditangkap di Provinsi Fars sebelum sempat melancarkan aksi.
Aparat menyebut mereka menyimpan bom rakitan dan senjata tajam, serta mengirim video dan foto dari lokasi yang terkena serangan rudal dan bom ke jaringan media yang dipandang bermusuhan oleh Teheran.
Di Gilan dan Kermanshah, delapan orang lain yang disebut terkait dengan kelompok teroris pro-Amerika Serikat dan pro-Israel juga ditahan bersama dua pucuk pistol.
Klaim-klaim itu belum dapat diverifikasi secara independen, tetapi dalam sebulan terakhir Reuters mencatat Iran telah menangkap lebih dari 1.000 orang atas tuduhan memotret lokasi sensitif, menyebarkan materi antigovernment, atau bekerja sama dengan “musuh”.
Gelombang penindakan ini juga membuat kembali mengemuka demonstrasi anti-pemerintah yang pecah pada akhir Desember 2025 dan berlanjut ke Januari 2026.
Laporan Al Jazeera saat itu menggambarkan protes dipicu tekanan ekonomi, anjloknya mata uang, dan kenaikan harga yang memukul rumah tangga Iran.
Namun, di saat yang sama, media pemerintah dan aparat keamanan Iran menyatakan sebagian kerusuhan telah ditunggangi aktor asing dan jaringan intelijen yang berupaya mendorong perubahan rezim dari dalam.
Hubungan antara protes dan isu spionase itu kini menjadi bagian dari narasi utama keamanan Iran. Media Iran, termasuk Mehr, melaporkan bahwa pada Januari 2026 Kementerian Intelijen menahan operator yang disebut terkait Mossad dan CIA “selama kerusuhan”, sementara laporan lain menyebut ada jaringan yang berupaya membentuk narasi eksternal atas protes ekonomi di Iran.
Di sisi lain, Reuters melaporkan keresahan pemerintah Iran justru bertambah setelah perang, karena elite keamanan khawatir kerusakan ekonomi akan memicu gelombang penentangan baru begitu pengeboman mereda.
Sebelumnya, pada Juni 2025, Iran juga mengumumkan penangkapan besar-besaran terhadap orang-orang yang dituduh terkait Israel.
Reuters melaporkan tiga pria dieksekusi pada 25 Juni 2025 setelah dihukum karena bekerja sama dengan Mossad dan menyelundupkan peralatan yang digunakan dalam sebuah pembunuhan.
Pada hari yang sama, Reuters juga melaporkan media pemerintah Iran menyebut sekitar 700 orang ditangkap selama konflik 12 hari atas tuduhan memiliki kaitan dengan Israel.
Dalam pembacaan banyak laporan keamanan Iran dan media internasional, intelijen asing yang paling sering disebut beroperasi terhadap Iran adalah Mossad Israel dan CIA Amerika Serikat.
Penindakan terbaru Iran hampir selalu dikaitkan, secara resmi, dengan jaringan yang dituduhkan berafiliasi ke Israel atau Amerika Serikat.
Nama MI6 Inggris kadang muncul dalam klaim resmi Iran, tetapi gelombang penangkapan terbaru paling dominan diarahkan pada orang-orang yang dituduh mengalirkan informasi kepada Israel, atau bekerja untuk kepentingan Washington dan Tel Aviv.
Kepentingan mereka pun berbeda, tetapi saling beririsan. Bagi Israel, fokus utamanya adalah memetakan fasilitas nuklir, jaringan rudal, struktur komando IRGC, dan pergerakan elite keamanan Iran.
Bagi Amerika Serikat, sasaran yang lebih luas meliputi program nuklir, kemampuan misil, perilaku regional Iran, dan stabilitas rezim.
Washington Post melaporkan Mossad dan Unit 8200 Israel menjalankan operasi pengumpulan intelijen jangka panjang terhadap lokasi dan pergerakan elit Iran, sementara CIA dan NSA disebut telah lama bekerja sama dalam operasi rahasia terhadap Iran, termasuk dalam operasi siber seperti Stuxnet.
Kerja intelijen yang dilakukan juga tidak semata-mata berupa perekrutan agen klasik. Dalam beberapa tahun terakhir, spektrumnya melebar ke penyadapan digital, infiltrasi jaringan komunikasi.
Pengumpulan citra lokasi sensitif, pemetaan krisis command center, sampai pengiriman koordinat untuk kepentingan penargetan serangan.
Washington Post menggambarkan bagaimana penetrasi terhadap “sistem saraf digital” Iran, dari panggilan telepon hingga kamera lalu lintas dan sistem keamanan internal, menjadi bagian dari arsitektur intelijen yang menopang serangan presisi Israel.
Reuters, di sisi lain, mencatat banyak tersangka yang ditahan Iran dituduh mengirim lokasi aset militer dan keamanan ke Israel, atau mendokumentasikan area sensitif yang dapat membantu penargetan.
Cara kerja mereka, menurut tuduhan Iran, juga makin menyatu dengan perang informasi. Otoritas Iran kini memperlakukan pengiriman foto, video, dan materi daring tertentu sebagai bentuk “kerja sama intelijen”, bukan lagi sekadar pelanggaran media.
Reuters melaporkan hukum Iran yang diperketat kini memungkinkan hukuman berat, termasuk ancaman hukuman mati dan penyitaan aset, bagi mereka yang dianggap membantu negara bermusuhan.
Dalam praktiknya, batas antara aktivitas propaganda, kebocoran informasi, dan spionase menjadi semakin tipis dalam definisi resmi Tehran.
Iran mengklaim keberhasilan membongkar jaringan-jaringan itu dicapai lewat kombinasi operasi teknis, pengawasan elektronik, patroli lapangan, dan penyergapan preventif.
Reuters menyebut aparat Iran beberapa kali melaporkan penahanan tersangka di berbagai provinsi, termasuk mereka yang dituduh memantau infrastruktur ekonomi dan lokasi sensitif.
Di saat yang sama, Reuters pernah melaporkan secara investigatif bahwa pembongkaran jaringan mata-mata CIA di Iran pada masa lalu menjadi pukulan bagi kredibilitas operasi rahasia Amerika, menunjukkan bahwa kontraintelijen Iran memiliki kapasitas yang tidak bisa diremehkan.
Tetapi di balik semua itu, ada dimensi politik yang tak kalah penting. Pemerintah Iran melihat kombinasi antara protes domestik, operasi media, penetrasi digital, dan kebocoran lokasi sensitif sebagai satu spektrum ancaman yang mengarah pada tujuan yang sama: menghancurkan objek vital dan instabilitas.
Karena itu, narasi resmi Teheran tidak lagi memisahkan secara tegas antara pembangkangan politik, perang informasi, dan spionase. Bagi aparat keamanan Iran, semuanya telah bertemu dalam satu arena yang sama, menjaga stabilitas.
Akibatnya, respons negara pun bergerak ke arah yang semakin keras. Satu bulan setelah perang dengan Amerika Serikat dan Israel, Reuters melaporkan Iran memperluas penangkapan, pengerahan Basij di pos-pos pemeriksaan, serta penguatan keamanan terhadap kelompok yang dianggap dapat memicu kerusuhan baru.
Dengan ekonomi yang terpukul, infrastruktur rusak, dan memori protes akhir 2025 yang masih segar, penumpasan spionase asing kini bukan hanya dibaca sebagai urusan keamanan, tetapi juga sebagai upaya mencegah runtuhnya kendali politik di dalam negeri.***







