BEBASBARU.ID, DAERAH – Di saat warganya sedang ngap-ngapan akibat kebakaran hutan dan lahan yang makin tak terkendali, ucapan Gubernur Kalteng justru bikin warganya makin marah.
Gara-garanya, Gubernur Kalimantan Tengah Agustian Sabran menyelipkan gurauan saat ditanya solusi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayahnya.
Bahkan ucapan Gubernur Kaslsel H Muhidin dan Rudy Mas’ud juga menuai kontroversi dan di anggap sangat tidak layak, di tengah penderitaan warganya akibat Karhutla.
Dalam video yang beredar viral pada Selasa (13/10/2026), Agustian Sabran menyebut karhutla disebabkan sebagian besar oleh manusia.
“Sebenarnya sama aja, takdir juga, tapi banyak ulah manusianya. Hampir 97 persen tuh akibat manusianya,” kata Agustiar dalam video yang beredar viral.
Dikutip dari CNNIndonesia.com, Rabu (14/10/2026), Agustiar pun menekankan penanganan karhutla dengan kebersamaan. “Karena bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi” katanya enteng.
Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi IV DPR RI perwakilan Daerah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Barat, Daniel Johan, menyebut pemimpin seharusnya memiliki empati di tengah bencana karhutla yang kini tengah melanda.
“Ini kita harus menunjukkan sikap empati, tidak asal statemen yang mengundang ketidaksukaan masyarakat di tengah penderitaan akibat kabut asap,” kata Daniel saat dihubungi wartawan, Selasa (13/10).
Daniel menambahkan walau konteksnya bergurau, namun hal itu sangat tidak elok disampaikan dengan situasi masyarakat yang sedang menderita akibat karhutla.
“Meskipun niatnya bercanda tapi tidak pada tempatnya karena kondisi masyarakat yang sedang mengalami musibah,” ucapnya.
Ia pun berharap para pemimpin seharusnya mengedepankan empati dan membantu mengatasi persoalan karhutla yang sedang terjadi.
Anggota Komisi II DPR Fraksi Golkar, Ahmad Irawan turut mengingatkan pejabat publik harus memiliki empati terhadap masyarakat yang terdampak karhutla.
“Harusnya komunikasi pejabat publik memiliki empati. Bisa memahami dan merasakan emosi dan perasaan orang lain, apalagi bagi yang terdampak langsung dengan karhutla,” kata Irawan seperti dikutip detikcom, Rabu (14/10).
Irawan menilai pejabat publik, khususnya kepala daerah, seharusnya mampu membangun optimisme masyarakat dalam menghadapi bencana karhutla dengan memberikan keyakinan bahwa kebakaran dapat ditangani hingga padam.
“Sebaiknya kepala daerah kita membangun optimisme kepada masyarakat kebakarannya akan padam,” katanya.
Irawan berharap polemik yang muncul dari candaan Gubernur Kalteng tersebut menjadi pembelajaran bagi kepala daerah lainnya dalam berkomunikasi dengan masyarakat.
“Saya kira kritik terhadap Gubernur Kalteng menjadi pembelajaran buat kepala daerah lainnya,” katanya.
Kabut asap akibat karhutla di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalteng dilaporkan semakin pekat hingga membuat langit tampak menguning.
Kondisi tersebut turut memicu keluhan gangguan pernapasan dan iritasi mata dari warga.
Berdasarkan pemantauan BMKG Kotawaringin Barat, konsentrasi partikel halus PM2.5 menunjukkan kualitas udara di wilayah tersebut berada dalam kategori sangat berbahaya.
“Betul, kondisi dari data pantauan PM2.5 BMKG, kualitas udara dalam kategori sangat berbahaya. Hal ini selaras dengan kondisi asap dari karhutla yang semakin tebal,” ujar petugas BMKG Kotawaringin Barat, Afif Rowina Khairim, Selasa (13/10).***







