BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – (Dewi Bertangan Darah) yang kabarnya malah lebih lihai daripada Hek-pek Giam-ong dan lebih kejam daripada gurunya. Akan tetapi iblis wanita itu tidak nampak hadir.
“Hah-ha-ha-ha-ha!” Terdengar Si Setan Botak tertawa, akan tetapi tidak mengeluarkan kata-kata, hanya tertawa dengan nada mengejek. Yang membuka mulut bicara adalah Hek-giam-ong, muridnya yang bermuka hitam. Hek-giam-ong melangkah maju dan berkata, suaranya nyaring sekali.
“Bukankah Siauw-lim Chit-kiam murid-murid Ceng San Hwesio? Sejak kapankah murid-murid Ceng San Hwesio bersekutu dengan para pemberontak?”
“Sejak iblis-iblis macam kalian membantu penjajah Mancu!” bentak Ban-kin Hek-gu Giam Ki yang suaranya lebih menggeledek dari suara Si Muka Hitam.
“Kalau kalian berani, masuklah ke dalam kuil, di sini lega dan memang sudah disediakan untuk kita bertanding mengadu ilmu!”
Tantangan Ban-kin Hek-gu Giam Ki ini bukan sekedar karena wataknya yang keras dan kasar, melainkan menurut rencana Ho-han-hwe untuk memancing musuh yang tangguh ke dalam kuil.
“Hah-ha-ha-ha-ha!” Si Setan Botak makin keras tertawa dan ia melangkah memasuki kuil, diikuti oleh dua orang muridnya yang kelihatan agak ragu-ragu.
Hek-pek Giam-ong maklum betapa berbahaya memasuki “sarang” musuh, akan tetapi karena di situ ada guru mereka, dan melihat guru mereka sudah memasuki kuil, tentu saja mereka berbesar hati dan melangkah masuk sambil mengangkat dada.
Suara ketawa Si Setan Botak makin nyaring dan biarpun mereka bertiga sudah tiba di ruangan kuil yang luas, kakek botak ini masih tertawa terus.
Makin lama makin keras dan terkejutlah mereka semua yang hadir karena tubuh mereka tergetar hebat oleh suara ketawa yang mengandung tenaga khi-kang amat luar biasa ini.
Hanya mereka yang sudah tinggi tingkat sin-kangnya saja yang tidak terpengaruh, hanya tergetar dan masih mampu mengatasi getaran hebat ini.
Siauw-lim Chit-kiam, kedua Kang-lam Sam-eng, Lauw-pangcu, Ban-kin Hek-gu dan It-ci Sin-mo yang masih dapat bertahan, sungguhpun mereka ini diam-diam harus mengerahkan sin-kang untuk melawan suara ketawa itu.
Beberapa orang anggauta Ho-han-hwe juga masih mampu melawan sambil cepat duduk bersila, akan tetapi belasan orang lain yang tingkat tenaga sin-kang mereka masih kurang kuat.
Sudah terjungkal dan cepat-cepat merangkak lalu berlari menjauhi ruangan itu ke sebelah belakang kuil sambil menutupi telinga mereka!
Kalau mereka tidak cepat pergi dan menutupi telinga, mereka akan mati oleh suara ketawa itu yang mengguncangkan jantung!
Melihat ini, Ban-kin Hek-gu Giam Ki yang berwatak keras berangasan menjadi marah sekali. Ia seorang ahli silat tinggi dan tentu saja maklum bahwa Setan Botak itu memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa.
Mengerti bahwa orang yang telah pandai mempergunakan khi-kang dalam suaranya untuk menyerang lawan dengan Ilmu Ho-kang seperti auman suara harimau, adalah seorang sakti yang sukar dikalahkan.
Akan tetapi, selain kasar dan keras, Ban-kin Hek-gu ini juga terkenal tidak pernah takut menghadapi siapapun juga. Dengan kemarahan memuncak, keberaniannya bertambah dan ia menerjang maju menyerang Si Setan Botak……BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



