BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Dia tahu betapa sutenya ini amat pandai, betapa pikiran sutenya amat luas dan sutenya mengerti akan segala macam urusan dunia.
Hanya ilmu silat sajalah yang agaknya tidak begitu diperhatikan sutenya dan tingkat sutenya masih lebih rendah daripada tingkat murid lainnya.
Ucapan Han Han itu berkesan di dalam hatinya dan sekaligus membuat Kim Cu timbul rasa kasihan kepada Lulu yang berdiri dengan mata terbelalak.
Alangkah indahnya mata itu, pikirnya, dan melihat pakaian Lulu begitu buruk, ia makin kasihan dan lenyaplah semua kemarahannya.
Memang Kim Cu seorang anak yang jujur dan wataknya bersahaja, mudah pula menguasai perasaan hatinya.
“Agaknya engkau benar dalam hal ini, sute. Akan tetapi engkau salah besar kalau engkau hendak membawa Lulu kepada suhu untuk dijadikan muridnya.”
“Begitu dia bertemu suhu, dia tentu akan langsung dibunuh tanpa banyak cakap lagi. Engkau harus pulang bersamaku dan kau tidak boleh membawanya ke In-kok-san, sute.”
“Tidak bisa, suci. Kalau dia ini tidak bisa ikut dan akan dibunuh suhu, lebih baik aku tidak kembali ke In-kok-san.”
“Eh, mengapa begitu? Apamukah bocah ini, sute? Jangan bodoh….”
“Dia ini Adikku!”
“Apa? Adikmu? Anak Mancu ini…. mana mungkin Adikmu….?”
“Dia betul Adikku, dan aku Kakaknya. Baru saja kami telah bersaudara. Aku sudah berjanji akan melindunginya, tidak akan berpisah lagi. Dia tidak punya siapa-siapa, hanya aku yang telah menjadi kakaknya, suci,” kata Han Han, suaranya tetap.
Wajah Kim Cu menjadi berduka. “Sute, kalau kau tidak kembali…. bagaimana dengan aku? Aku akan kehilangan….”
“Suci, engkau adalah murid In-kok-san, dan engkau mempunyai banyak saudara-saudara seperguruan. Sedangkan Lulu tidak mempunyai siapa-siapa.”
“Dia harus ikut bersamaku, dan pula, sudah berkali-kali aku katakan bahwa aku tidak betah tinggal lebih lama lagi di In-kok-san. Aku akan pergi bersama Adikku ini, suci. Harap suci suka mengingat hubungan baik kita dan membiarkan aku pergi.”
Kim Cu termenung dengan muka sedih. “Kalau engkau tidak kembali, suhu akan marah sekali. Terutama sekali Sian-kouw. Lupakah kau bahwa kau telah menjadi murid Sian-kouw?”
“Engkau pasti akan dicari suhu, dan kalau sampai engkau tertangkap…. ah, hukumannya mengerikan, sute.”
“Kalau melarikan diri dan tertawan, hukumannya potong kaki, bukan?”
Lulu mengeluarkan jerit tertahan. “Keji….!”
Kim Cu memandang bocah itu dengan mata marah. “Tidak keji. Ini peraturan dan orang yang berdisiplin saja yang akan mendapatkan kemajuan! Sute, engkau sudah tahu akan hukumannya. Maka harap kau jangan pergi.”
“Biarlah, aku sudah mengambil keputusan. Aku akan melarikan diri bersama Adikku, akan bersembunyi. Kalau sampai tertangkap, terserah. Akan tetapi aku percaya engkau tidak akan mengatakan di mana kau bertemu denganku, suci.”
Kim Cu menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepala. “Aku tidak akan memberi tahu, sute. Tapi…. ah….”
“Sudahlah, suci. Harap suci suka kembali. Aku mau pergi sekarang juga……BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



