BEBASBARU.ID, INTERNASIONAL – Pilot ini di anggap berhalunisasi, tapi dia bersikukuh melihat drone milik Iran sungguh di luaar dugaan dan tak masuk akal.
Pengakuannya ini sontak bikin geger pasukan ‘Donald Trump’ yang tengah bersiaga di Selat Hormuz, mereka sampai mengira sang pilot ini geger otak.
Apakah yang dilihatnya, sehingga bikin heboh pasukan Amerika Serikat ini?
Seebelumnya, sorang pilot jet tempur F-15 Amerika Serikat ini mengaku menyaksikan pemandangan tak biasa sesaat sebelum pesawatnya ditembak jatuh di wilayah Iran pada April lalu.
Dikutip dari jawapos.com, Kamis (25/06/2026), kesaksiannya kepada pejabat intelijen AS setelah berhasil diselamatkan, pilot tersebut mengaku melihat sekumpulan drone Iran yang bergerak serempak membentuk pola menyerupai ubur-ubur di udara.
Laporan yang sebelumnya belum pernah terungkap ini langsung memicu perdebatan di kalangan intelijen Amerika Serikat.
Jika pengamatan tersebut akurat, maka Iran diduga telah mengembangkan kemampuan drone canggih yang belum pernah terdeteksi sebelumnya oleh badan intelijen AS.
Menurut empat sumber yang mengetahui proses debriefing pilot tersebut, formasi drone yang dilihat tidak bergerak secara terpisah seperti drone pada umumnya. Sebaliknya, sejumlah drone tampak saling terhubung dan bergerak sebagai satu kesatuan.
“Beberapa drone saling terhubung dan bergerak sebagai satu dengan drone yang lebih kecil di bawah drone yang lebih besar seperti kaki,” kata salah satu sumber yang mengetahui kesaksian sang pilot kepada CNN.
Sumber yang sama bahkan menggambarkan pemandangan itu sebagai ‘Real alien sh0t’.
Sumber lain menyebut pilot F-15 tersebut menggambarkan situasi di udara sebagai ‘minefield of drones’ atau ladang ranjau drone yang memenuhi langit.
Drone Itu Berperan Menjatuhkan Jet Tempur AS?
Hingga kini penyebab pasti jatuhnya F-15 masih dalam penyelidikan. Namun laporan awal menyebut ada kemungkinan formasi drone tersebut berkontribusi dalam membantu Iran menjatuhkan pesawat tempur Amerika.
Insiden itu menjadi salah satu momen paling serius dalam konflik Iran dan Amerika Serikat karena menandai pertama kalinya pesawat militer AS ditembak jatuh di atas wilayah Iran selama perang berlangsung.
Yang jelas, saat itu, pesawat F-15 yang jatuh membawa dua awak, yakni pilot dan petugas sistem persenjataan (weapons systems officer). Operasi penyelamatan segera dilakukan oleh pasukan khusus AS.
Pilot berhasil dievakuasi beberapa jam setelah melontarkan diri dari pesawat. Sementara rekannya bertahan di pegunungan selama lebih dari sehari untuk menghindari penangkapan pasukan Iran sebelum akhirnya berhasil diselamatkan.
Belum diketahui apakah petugas sistem persenjataan tersebut juga melihat formasi drone yang sama.
Dalam operasi penyelamatan itu, sebuah pesawat A-10 milik AS juga dilaporkan jatuh. Namun pilotnya berhasil keluar dari pesawat dengan selamat di luar wilayah udara Iran.
Intelijen AS Tak Percaya Kesaksian Pilot
Kesaksian pilot F-15 tersebut tidak langsung diterima bulat-bulat oleh komunitas intelijen Amerika Serikat. Beberapa pejabat mempertanyakan akurasi pengamatannya karena sang pilot mengalami gegar otak akibat insiden jatuhnya pesawat.
Selain itu, ini merupakan kali kedua dirinya ditembak jatuh selama konflik berlangsung.
Sebelumnya, ia juga menjadi korban insiden salah tembak (friendly fire) yang melibatkan pasukan Kuwait pada fase awal perang.
Keraguan itu memunculkan berbagai kemungkinan. Apakah pilot benar-benar menyaksikan teknologi baru Iran yang belum diketahui intelijen AS?
Apakah itu hanya uji coba sistem baru? Ataukah sekadar ilusi optik di tengah kondisi perang dan tekanan ekstrem? Menurut salah satu sumber, tim intelijen bahkan sempat bertanya kepada pilot dengan nada skeptis.
“Apakah kamu yakin melihat apa yang kamu katakan kamu lihat?” ujar sumber tersebut menirukan pertanyaan yang diajukan saat proses debriefing.
Hingga kini Angkatan Udara AS mengarahkan seluruh pertanyaan kepada Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), sementara Kantor Direktur Intelijen Nasional AS belum memberikan komentar resmi.
Teknologi Jaringan Drone Iran Canggih?
Meski belum dapat diverifikasi, kemampuan yang digambarkan pilot tersebut memiliki istilah teknis yang dikenal sebagai ‘one-to-many meshed networking’ atau ‘jaringan satu-ke-banyak yang terhubung’.
Teknologi ini memungkinkan sejumlah drone saling terhubung dalam satu jaringan dan bergerak secara terkoordinasi. Operator dapat mengendalikan banyak drone sekaligus, bahkan memungkinkan mereka berbagi data dan menyesuaikan pergerakan secara otomatis.
Menurut sumber yang memahami persoalan tersebut, kemampuan seperti ini sebelumnya lebih banyak dikaitkan dengan negara-negara besar seperti Rusia dan Tiongkok.
Sejumlah laporan intelijen juga menunjukkan bahwa Iran diduga menerima bantuan teknologi dari Rusia dan Tiongkok untuk mengembangkan program drone militernya.
Jika benar telah menguasai kemampuan meshed networking, maka hal itu dapat menjadi lompatan besar bagi program perang drone Iran yang selama ini sudah dikenal cukup maju.
Selain kepentingan militer, teknologi serupa secara teoritis juga dapat digunakan untuk kebutuhan sipil, seperti menyediakan konektivitas internet di wilayah terpencil yang belum memiliki infrastruktur telekomunikasi.
Sebagaimana diketahui juga, selama konflik berlangsung, Iran secara agresif memanfaatkan drone serang sebagai senjata asimetris untuk menghadapi pasukan AS, Israel, dan sejumlah negara Teluk.
Pakar perang drone dan modernisasi pertahanan, Emma Bates, menilai kemampuan koordinasi semacam itu dapat menjadi ancaman serius jika benar-benar telah dimiliki Iran.
“Kami akan menghabiskan banyak uang, seperti banyak darah dan harta karun, melindungi diri kami dari sesuatu yang dapat berkoordinasi seperti itu,” kata Bates kepada CNN.***








