BEBASBARU.ID, INTERNASIONAL – Seringnya pidato di luar konteks, hingga memicu kontroversinya, inilah gaya pidato Presiden Prabowo yang dianggap blunder dan bikin panas kuping negara lain.
Salah satunya Iran, yang menganggap pidato Prabowo justru seolah membela tudingan AS dan Israel terkait isu senjata nuklir di Iran.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto berbicara mengenai meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dalam pertemuan strategis bersama pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dari 38 provinsi di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/7) lalu.
Prabowo mengingatkan bahwa eskalasi konflik berpotensi memicu perlombaan senjata nuklir di kawasan apabila semakin banyak negara merasa perlu memiliki kemampuan serupa.
“Tiap sore, tiap malam dalam berita-berita eskalasi, eskalasi, eskalasi,” ujar Prabowo.
Ia kemudian menyinggung kekhawatiran yang berkembang di tingkat global mengenai isu kepemilikan senjata nuklir oleh Iran dan dampaknya terhadap negara-negara lain di kawasan.
“Dikatakan bahwa Iran sudah punya senjata nuklir. Sekarang Saudi Arabia ingin juga punya senjata nuklir. Kalau Saudi Arabia ingin punya senjata nuklir, tidak menutup kemungkinan Emirate (UEA) juga ingin punya senjata nuklir, Qatar juga ingin punya senjata nuklir, Mesir juga ingin senjata nuklir,” ungkapnya.
Pidato tersebut sempat menjadi perhatian publik karena siaran langsung acara mendadak terputus sesaat setelah Prabowo membahas isu nuklir.
Tayangan yang sebelumnya disiarkan secara langsung tiba-tiba berganti ke iklan sebelum akhirnya berhenti, sehingga memunculkan berbagai spekulasi di media sosial.
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai potensi perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah memicu respons resmi dari Kedutaan Besar Iran di Indonesia.
Melalui akun X resminya, Kedubes Iran menegaskan bahwa Republik Islam Iran tidak pernah mengejar kepemilikan senjata nuklir dan tidak memiliki rencana untuk mengembangkannya.
Pernyataan tersebut muncul setelah pidato Prabowo yang menyinggung kekhawatiran dunia terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah dan kemungkinan munculnya efek domino kepemilikan senjata nuklir di kawasan.
“The Islamic Republic of Iran tidak pernah mengejar kepemilikan senjata nuklir dan tidak akan pernah melakukannya,” demikian dikutip dari akun X resmi Kedutaan Besar Iran di Indonesia.
Selain membantah tudingan mengenai kepemilikan senjata nuklir, Kedubes Iran juga mengunggah penjelasan mengenai program nuklir negaranya dengan tema ‘Transparan, Damai, Sesuai Hukum Internasional’.
Dalam penjelasan tersebut, Iran menyebut program nuklirnya berlandaskan Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT) dan ditujukan untuk kepentingan damai.
“Berlandaskan Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT), menjalankan hak atas pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai. Dilaksanakan sesuai dengan hukum internasional,” demikian isi keterangan yang diunggah.
Pada bagian transparansi, Iran juga menegaskan bahwa seluruh aktivitas nuklirnya berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
“Berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Menerapkan salah satu rezim inspeksi nuklir paling ketat di dunia. Tidak ditujukan untuk pengembangan senjata nuklir,” tulis Kedubes Iran.
Sementara itu, dalam bagian prinsip dan komitmen, Iran menyatakan bahwa senjata nuklir bertentangan dengan doktrin pertahanannya.
“Fatwa Pemimpin Syahid Republik Islam Iran mengharamkan senjata nuklir. Senjata pemusnah massal tidak memiliki tempat dalam doktrin pertahanan Iran. Teknologi nuklir dimanfaatkan bagi kepentingan energi, kesehatan, dan penelitian.”
Sebagai penegasan, Kedubes Iran kembali menyampaikan bahwa seluruh program nuklir negaranya dijalankan secara terbuka dan berada dalam koridor hukum internasional.
“Iran tidak pernah mengejar kepemilikan senjata nuklir dan tidak akan pernah melakukannya,” demikian bunyi pernyataan penutup Kedubes Iran.***







