BEBASBARU.ID, INTERNASIONAL – Israel makin kepedean, tak peduli kecaman dunia, kini mereka mulai main api denga menyerang sebuah pangkalan di Suriah, yang meyenggol militer Turki.
Sebab eserangan Israel ke pangkalan udara Abu al-Duhur di Suriah disebut berpotensi memicu perang dengan negeri Racip Tayyib Erdogan tersebut.
Israel bahkan disebut mulai menyiapkan skenario perang dengan menggandeng militer Yunani.
Dalam wawancara dengan The Jerusalem Post, Duta Besar AS untuk Turki sekaligus utusan khusus untuk Suriah, Tom Barrack, menyatakan bahwa serangan Israel terhadap pangkalan udara Abu al-Duhur di Suriah membawa “risiko nyata akan eskalasi cepat.
Yakni menjadi konfrontasi militer langsung” dengan Turki maupun Suriah.
Barrack mengatakan kepada surat kabar Israel tersebut bahwa pasukan Turki tidak mengetahui adanya pesawat Israel yang sedang menuju pangkalan Suriah itu ataupun tujuan dari pergerakan tersebut.
Dikutip dari Republika.co.id, Rabu (19/08/2026), menurutnya, mereka “berpotensi terdorong untuk mengerahkan jet tempur mereka sendiri karena mengira bahwa mereka sedang diserang”.
“Peristiwa kemarin itu serius dan mengkhawatirkan. Namun, kami lega karena tidak ada korban jiwa dan situasi tidak sampai memburuk,” tambah Barrack.
Israel mengonfirmasi bahwa mereka berada di balik serangan udara semalam yang menyasar sebuah pangkalan udara militer Suriah—lokasi yang menurut klaim Israel akan dijadikan tempat pengerahan pasukan oleh Turki.
“Israel dan Suriah telah menyepakati status quo terkait masalah keamanan, namun Suriah hampir melanggarnya dengan mengizinkan pasukan Turki ditempatkan di sebuah pangkalan udara dekat Aleppo,” demikian pernyataan dalam bahasa Inggris dari kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Kantor Perdana Menteri menyatakan bahwa Israel “telah berulang kali memperingatkan Suriah bahwa pengerahan semacam itu akan mengancam keamanan Israel.”
“Suriah memilih untuk mengabaikan peringatan-peringatan ini,” ujar kantor Netanyahu, seraya menambahkan bahwa Israel “tidak akan menoleransi ancaman terhadap keamanannya, dan akan menyambut baik kembalinya status quo.”
Menanggapi hal itu, Ankara mengecam “tuduhan sembrono yang dilontarkan oleh Kantor Perdana Menteri Israel”—sebagaimana tercantum dalam pernyataan pemerintah Turki yang dikutip oleh kantor berita negara Anadolu.
Menyatakan bahwa tuduhan tersebut “bertujuan melegitimasi serangan udara ilegal Israel yang menyasar kedaulatan dan integritas wilayah Suriah.”
Seorang pejabat Turki yang tidak disebutkan namanya juga membantah kepada Axios bahwa Ankara berupaya membangun kehadiran militer di pangkalan udara Abu Duhur di Provinsi Idlib.
“Tidak ada kehadiran Turki di pangkalan udara tersebut. Israel mengarang-ngarang dalih untuk membom negara-negara tetangga dan mengacaukan stabilitas kawasan,” tegas pejabat tersebut.
Serangan tersebut menandai sikap pembangkangan luar biasa Israel terhadap Amerika Serikat, yang berupaya mendukung pemerintahan baru Suriah yang dipimpin Ahmad Saraa, yang dekat dengan Turki.
Sebuah sumber keamanan Israel yang dikutip oleh lembaga penyiaran publik Kan menyatakan bahwa Israel memiliki informasi intelijen—yang telah dibagikan kepada AS—mengenai upaya Turki untuk menempatkan pasukan di pangkalan tersebut.
Serangan itu baru dilakukan setelah upaya dialog dengan Suriah gagal. Laporan tersebut tidak merinci bagaimana tanggapan AS terhadap informasi intelijen Israel itu.
Di tengah ketegangan baru-baru ini dengan Turki, IDF dan militer Yunani mengumumkan bahwa Kepala Staf Letnan Jenderal Eyal Zamir telah bertemu dengan mitranya dari Yunani yang sedang melakukan kunjungan resmi ke Israel.
IDF menyatakan bahwa kunjungan Kepala Staf Umum Pertahanan Nasional Yunani, Jenderal Dimitrios Choupis, “menyoroti pentingnya nilai strategis dan relevansi hubungan militer yang telah terjalin antara Israel dan Yunani.”
“Hubungan ini terus mendorong kemitraan jangka panjang antara kedua negara,” tambah pihak militer. Baik IDF maupun militer Yunani tidak menyebutkan kapan pertemuan tersebut berlangsung.***








