BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – “Murid murtad….! Murid durhaka….!” Han Han tidak putus harapan. Kalau gurunya itu hendak membunuhLulu, tentu dilakukannya sejak tadi.
Dengan menawan mereka berdua, hal itu menyatakan bahwa untuk sementara ini mereka berdua selamat, tidak akan terbunuh, dan tentu masih dibutuhkan.
Dia tidak takut menghadapi hukuman potong kaki, yang dikhawatirkan adalah keselamatan Lulu yang kini telah dikenal sebagai puteri seorang perwira Mancu.
“Suhu, murid sudah mengaku berdosa dan siap menerima hukuman. Akan tetapi Lulu ini sama sekali tidak berdosa, harap suhu mengampuni anak kecil yang tidak tahu apa-apa ini.”
“Cerewet! Engkau akan menerima hukuman dari Sian-kouw sendiri, adapun bocah Mancu itu, setelah aku tidak membutuhkannya lagi, akan kupenggal di depan matamu!”
“Suhu….!”
“Diam! Kau murid murtad, pengkhiahat yang berkawan dengan musuh! Membuka mulut lagi, akan kutampar mulutmu sampai rusak!”
Han Han tidak bodoh, dan tidak mau lagi membuka mulut. Ma-bin Lo-mo segera bercakap-cakap sambil berbisik-bisik dengan tiga orang kawannya, tidak mempedulikan lagi kepada Han Han dan Lulu.
“Han-ko,” Lulu berbisik. “Dia itu kejam dan jahat, mengapa engkau berguru kepada seorang seperti dia?”
“Hushhh, diamlah, Lulu. Dia sakti sekali, maka aku berguru kepadanya.”
Perahu kecil itu meluncur cepat sekali dan menjelang malam perahu masuk ke lautan dan mulailah pelayaran itu amat sengsara bagi Han
Han dan Lulu.
Perahu diombang-ambingkan ombak laut dan kedua orang anak yang tidak biasa naik perahu di laut itu menjadi mabuk laut.
Han Han yang telah memiliki sin-kang yang amat kuat, dapat menahan rasa mabuk itu dan tidak terlalu pening, akan tetapi sungguh kasihan sekali keadaan Lulu.
Bocah ini menjadi pening, mukanya pucat sekali dan ia muntah-muntah. Karena tangan kedua orang anak itu dibelunggu ke belakang.
Maka Han Han tidak dapat menolongnya dan Lulu sendiri terpaksa hanya dapat memutar tubuhnya, rebah miring sehingga muntahannya tidak mengotorkan pakaian…….BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



