BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Dengan sikap dingin yang menyeramkan. Adapun Ma-bin Lo-mo sendiri memandang kepada Han Han dengan muka bengis!
Han Han bukan seorang penakut. Sama sekali tidak. Rasa takut seakan-akan telah terhapus dari hatinya bersama dengan terbasminya keluarganya.
Dan ia memiliki rasa tanggung jawab yang tercipta daripada pengetahuannya tentang filsafat. Ia cerdik pula.
Kecerdikan yang timbul dari keadaan tidak wajar setelah ia hamper mati disiksa para perwira di rumahnya yang terbasmi dahulu.
Kini ia pun cepat menggunakan pikirannya, tahu bahwa ia tak mungkin dapat meloloskan diri dari tangan gurunya yang amat lihai ini.
Tahu pula bahwa tiada gunanya melawan atau mencoba untuk melarikan diri. Nasibnya sudah pasti. Akan tetapi dia tidak mau kalau sampai Lulu terbawa-bawa mengalami bencana.
Oleh karena itu, cepat pikirannya bekerja dan ia sudah menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Ma-bin Lo-mo.
“Suhu.”
“Hemmm, murid durhaka! Engkau sadar akan dosamu?”
“Teecu sadar dan teecu tidak menyangkal. Teecu telah melarikan diri dari In-kok-san karena teecu ingin bebas.”
Dia tidak mau menyebut terus terang bahwa kepergiannya itu terutama sekali karena ia tidak mau berpisah dari Lulu.
“Karena itu, harap suhu suka menjalankan hukuman. Teecu menyerahkah sebelah kaki teecu, aken tetapi setelah hukuman terlaksana, harap Adik angkat teecu ini tidak diganggu dan biarkan teecu bersama dia.”
Setelah berkata demikian, Han Han mengubah duduknya, tidak berlutut melainkan duduk dan melonjorkan kedua kakinya untuk dipilih suhunya, mana yang akan dibikin buntung!
Diam-diam Ma-bin Lo-mo kagum bukan main. Belum pernah selama hidupnya ia menyaksikan seorang bocah yang memiliki ketabahan dan kekerasan hati seperti ini!
Menyerahkan kaki begitu saja untuk dihukum potong tanpa sedikit pun memperlihatkan hati takut atau gentar, bahkan penyesalan pun tidak, minta maaf pun tidak, melainkan berani bertanggung jawab sepenuhnya!
“Enak saja kau bicara! Karena Sian-kouw yang langsung mengajarmu, dia pula yang berhak menghukummu. Dan bocah ini yang menjadi gara-gara, akan kuhukum sendiri, hukum penggal kepala di depanmu!”
Kaget bukan main hati Han Han. Hal ini sama sekali tak pernah ia sangka-sangka, maka ia lalu menoleh kepada Lulu.
Anak perempuan itu agaknya terjaga karena mendengar suara ribut-ribut, membuka matanya, mengucek-ucek mata kemudian memandang dengan sepasang mata lebar kepada Ma-bin Lo-mo dan tiga orang temannya.
Melihat Han Han duduk bersimpuh, ia seperti merasa bahwa ada hal-hal tidak beres. Cepat ia menubruk kakaknya dan berkata.
“Koko…., ada apakah….? Siapakah orang-orang buruk ini?”
“Ssttt, diamlah Moi-moi. Beliau ini adalah guruku dan karena aku sudah bersalah meninggalkan perguruan, kakiku yang harus
dihukum potong. Akan tetapi tidak mengapa asal kita tidak saling berpisah….”
“Kakimu dipotong….? Tidak….! Tidak boleh! Wah, kau manusia jahat! Tidak boleh mengganggu Kakakku! Pergi…. pergi….!”
Lulu yang biasanya penakut itu, mendadak saja menjadi beringes dan …..BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



