BEBASBARU.ID, INTERNASIONAL – Serangan bertubi-tubi selama 13 hari ternyata tetap tak goyahkan pemerintahan Iran, bahkan dulu klaim Presiden AS Donald Trump, Iran akan habis cukup di serang 5 minggu saja.
Tapi, faktanya kini sudah 5 bulan, alih-alih Iran habis, justru rudal AS yang makin habis, tapi Iran tetap kokoh dan berdiri hingga kini.
Saat ini, Iran kembali melewati malam tanpa serangan udara AS pada Ahad (26/7/2026). Washington menghentikan sementara serangan yang hampir memasuki bulan kelima. Beredar laporan bahwa ada kekhawatiran atas menipisnya amunisi Amerika.
Media AS melaporkan bahwa jeda serangan ini dapat mencerminkan tekanan pada persediaan pencegat Patriot dan senjata pertahanan lainnya.
Seperti dilansir Al Arabiya, jeda ini menghidupkan kembali harapan kedua pihak untuk kembali ke negosiasi setelah hampir dua pekan pengeboman malam berturut-turut oleh AS.
Sebelumnya, pertempuran di Selat Hormuz yang strategis menggagalkan upaya diplomatik antara Washington dan Teheran. Konflik lantas meluas melampaui koridor energi vital hingga mencakup serangan terhadap pangkalan AS, pelayaran regional, dan sekutu Teluk.
“Operasi AS terhadap Iran ditangguhkan,” lapor CNN, mengutip sumber Pentagon yang tidak disebutkan namanya.
Operasi militer ditangguhkan bahkan ketika Presiden AS Donald Trump mengancam akan melakukan serangan tingkat yang jauh lebih tinggi pada Jumat kemarin.
“Rencana untuk meningkatkan kampanye militer telah ditunda sebagian karena berkurangnya pasokan,” lapor The New York Times, mengutip dua orang yang diberi informasi tentang masalah tersebut.
“Trump juga menghadapi risiko perang yang lebih luas di Timur Tengah dan guncangan lebih lanjut terhadap ekonomi global,” kata surat kabar itu.
Wakil Presiden JD Vance dan jenderal top AS Dan Caine sama-sama menyampaikan kekhawatiran tentang peningkatan eskalasi dalam pertemuan Gedung Putih pada hari Jumat. Demikian dilaporkan CNN.
Caine mengatakan kepada Trump bahwa militer dapat melaksanakan opsi yang tersedia baginya dengan sukses, tetapi memperingatkan tentang kemungkinan implikasinya.
Dalam wawancara telepon dengan berita LCI Prancis, Trump mengatakan dia masih siap untuk memulai kembali kampanye militer besar-besaran jika Teheran tidak memberikan apa yang diinginkan Amerika Serikat. Demikian menurut laporan New York Post.
“Jika kita tidak mendapatkan 100% dari apa yang kita inginkan, tentu saja,” kata Trump ketika ditanya apakah dia dapat kembali ke perang skala penuh dengan Iran.
Trump mengatakan pada Jumat (24/07/2026) lalu, bahwa dia belum memutuskan apakah akan kembali ke operasi habis-habisan.
“Kami sedang berbicara dengan mereka sekarang. Saya pikir mereka semakin serius,” katanya kepada wartawan.
Trump mengatakan Iran dihadapkan pada pilihan antara kesepakatan dan serangan pada tingkat yang jauh lebih tinggi.
Perang yang pernah diprediksi Trump akan berlangsung empat atau lima pekan kini mendekati bulan kelima, dan membebani peringkat popularitas Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu AS yang krusial pada bulan November.
“Pentagon telah menyampaikan rencana kepada Trump untuk serangan malam ke-14, tetapi ia menolak untuk menyetujuinya dan lebih memilih untuk mendorong perundingan,” lapor Axios.
CENTCOM mengatakan pada Minggu (26/07/2026), bahwa blokade angkatan laut AS terhadap Iran tetap berlaku sepenuhnya.
“Pada tanggal 25 Juli, CENTCOM telah mengalihkan 12 kapal komersial yang mencoba menerobos blokade, menonaktifkan dua kapal yang tidak patuh, dan menaiki dua kapal untuk memastikan kepatuhan total,” kata militer AS dalam sebuah pernyataan di X.
Disebutkan bahwa pasukan AS telah menyelesaikan pemeriksaan verifikasi di atas kapal tanker M/T Charminar berbendera Komoro di Laut Arab, dan kapal tanker tersebut kini melanjutkan perjalanannya.
“Pasukan CENTCOM melumpuhkan kapal tanker M/T Lavine berbendera Mozambik di Teluk Oman, 24 Juli, setelah awak kapal berupaya melanggar blokade beberapa kali dan mengabaikan peringatan berulang. Kapal tersebut tidak lagi dalam perjalanan menuju Iran.”***







