BEBASBARU.ID, KRIMINALITAS – Pengiat media sosial Said Didu lempar sebuah pernyataan yang cukup mengejutkan, terkait penggrebekan penggerebekan markas judi online di kawasan Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat.
Said Didu sebut, pelindungnya justru orang yang dekat dengan kekuasaan saat ini, alias berada di ring satu Presiden Prabowo.
Kasus ini memunculkan dugaan adanya jaringan judi online berskala internasional yang diduga beroperasi di Indonesia dengan pola terorganisir.
Pegiat media sosial Said Didu menyebut praktik judi online di Indonesia diduga terbagi ke dalam dua kelompok besar. Menurutnya, ada jaringan yang beroperasi di dalam negeri dan ada pula yang dikendalikan dari luar negeri.
Meski disebut memiliki koordinator berbeda, kedua kelompok itu diduga mempunyai sosok “pelindung” yang sama. Pernyataan tersebut disampaikan Said Didu melalui akun media sosial pribadinya dan langsung menarik perhatian warganet.
Ia juga mengungkap adanya informasi mengenai dugaan keterlibatan pihak tertentu yang dekat dengan lingkaran kekuasaan dalam mengendalikan jaringan judi online luar negeri.
Dugaan itu turut dikaitkan dengan pengiriman Warga Negara Indonesia (WNI) untuk bekerja sebagai operator di Kamboja.
“Info bahwa Judi Online (Judol) di Indonesia terdiri dari 2 (dua) kelompok, yaitu Judol yg beroperasi di dalam negeri dan di luar negeri yang dikoordinir oleh orang yg berbeda, tapi “pelindungnya”sama,” tulis Said Didu dikutip dari Warta Kota dari X pribadinya, Selasa (12/05/2026).
Menurut Said Didu, pola koordinasi jaringan yang digerebek di kawasan Hayam Wuruk diduga memiliki kemiripan dengan jaringan judi online yang beroperasi di luar negeri.
Hal itu dinilai memperkuat dugaan adanya keterhubungan antarjaringan.
Kasus penggerebekan ini pun dinilai menjadi momentum penting bagi aparat penegak hukum untuk membongkar jaringan judi online hingga ke akar-akarnya.
Publik kini menanti langkah lanjutan dari aparat terkait pengusutan kasus tersebut. Said Didu berharap pengungkapan kasus di Jakarta Barat tidak berhenti pada level operator semata.
Ia menilai penindakan harus dilakukan secara menyeluruh agar praktik judi online dapat diberantas secara tegas.
Di bawah pemerintahan Prabowo Subianto, penanganan kasus judi online disebut diharapkan menjadi lebih serius dan menyentuh aktor-aktor besar di balik jaringan tersebut.
Sorotan publik terhadap kasus ini pun terus menguat, terutama terkait dugaan adanya jaringan internasional yang selama ini disebut leluasa menjalankan operasinya di Indonesia.
Lokasi Penggrebekan Masih Dijaga Polisi
Sementara itu, Polda Metro Jaya masih menempatkan personel Brigade Mobil (Brimob) untuk melakukan penjagaan di gedung perkantoran di Hayam Wuruk, Jakarta Barat, pascapenindakan terhadap praktik perjudian online jaringan internasional yang sebelumnya terungkap di lokasi tersebut, Senin (11/5/2026).
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Budi Hermanto membenarkan masih adanya personel yang bersiaga di kawasan apartemen tersebut.
“Benar, saat ini masih terdapat personel Brimob Polda Metro Jaya yang melaksanakan penjagaan di kawasan Apartemen Hayam Wuruk,” kata Budi dalam keterangannya, Senin.
Ia menjelaskan, penjagaan dilakukan sebagai bagian dari langkah pengamanan pascapenindakan yang telah dilakukan sebelumnya. Adapun kehadiran aparat di lokasi bertujuan memastikan situasi tetap aman dan kondusif.
“Penjagaan tersebut merupakan bagian dari langkah pengamanan pascapenindakan yang telah dilakukan sebelumnya,” tutur dia.
“Kehadiran personel di lokasi bertujuan untuk memastikan situasi tetap aman, tertib, dan kondusif, serta mengantisipasi potensi gangguan kamtibmas,” lanjutnya.
Budi menambahkan, sebanyak satu pleton atau 30 personel Brimob Polda Metro Jaya disiagakan di lokasi. Pengamanan tersebut dipimpin oleh Ipda Hamdan.
“Terkait durasi penjagaan, pelaksanaannya bersifat situasional dengan mempertimbangkan dinamika dan kebutuhan pengamanan di lapangan,” ucapnya.
Sebelumnya, Bareskrim Polri membongkar praktik sindikat judi online yang beroperasi di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta.
Dalam penggerebekan tersebut, aparat mengamankan sebanyak 321 orang yang diduga terlibat dalam jaringan perjudian daring berskala internasional.
Dari total pelaku yang diamankan, sebanyak 320 orang merupakan warga negara asing (WNA), sedangkan satu lainnya adalah warga negara Indonesia (WNI).
Ratusan tersangka itu kemudian digiring menggunakan bus menuju rumah detensi Imigrasi pada Minggu (10/5/2026) sore.
Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Wira Satya Triputra, mengatakan para WNA tersebut untuk sementara dititipkan di dua lokasi rumah detensi Imigrasi, yakni di kawasan Kuningan dan Jakarta Barat.
Sementara satu tersangka WNI dibawa ke Bareskrim Polri untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. “Total ada 321 orang yang diamankan. Sebanyak 320 merupakan WNA dan satu orang WNI,” ujar Wira, Minggu (10/5/2026).
Pantauan di lokasi menunjukkan suasana pengamanan berlangsung ketat. Para tersangka tampak digiring secara berkelompok menuju bus pengangkut dengan pengawalan aparat kepolisian.
Sebagian dari mereka mengenakan pakaian santai dan menutupi wajah saat dibawa keluar dari lokasi penindakan.
Pengungkapan kasus ini menambah daftar panjang praktik judi online yang dikendalikan jaringan lintas negara dan beroperasi di Indonesia.
Aparat menduga para pelaku menjalankan aktivitas perjudian berbasis daring dengan sistem terorganisasi, termasuk dugaan pengelolaan server, operator, hingga layanan pelanggan.
Hingga kini, Bareskrim Polri masih mendalami peran masing-masing pelaku serta menelusuri kemungkinan adanya aliran dana dan keterlibatan jaringan internasional lain dalam kasus tersebut.
Polisi juga berkoordinasi dengan pihak Imigrasi terkait status keimigrasian para WNA yang diamankan. Keberadaan ratusan WNA dalam satu operasi penggerebekan sekaligus menjadi sorotan tersendiri.
Aparat kini menelusuri legalitas izin tinggal dan aktivitas para tersangka selama berada di Indonesia. Kasus ini disebut menjadi salah satu pengungkapan besar praktik judi online di wilayah Jakarta dalam beberapa waktu terakhir.
Polisi memastikan proses penyidikan akan terus dikembangkan untuk membongkar aktor utama di balik operasional sindikat tersebut.
Dari total 321 WNA yang ditangkap, mayoritas berasal dari Vietnam dengan jumlah 228 orang, disusul oleh 57 warga Tiongkok.
Sisanya terdiri dari warga negara Myanmar (13 orang), Laos (11 orang), Thailand (5 orang), serta Malaysia dan Kamboja masing-masing 3 orang.
Dalam dua bulan operasinya, sindikat ini diketahui telah memanfaatkan sedikitnya 75 domain dan situs judi online untuk menjaring korban.
Di lokasi kejadian, polisi juga menyita tumpukan barang bukti mulai dari paspor para pelaku, ponsel, laptop, perangkat komputer, hingga tumpukan uang tunai dalam berbagai mata uang asing.
Indonesia Jadi Target Baru Kejahatan Siber
Sekretaris NCB Interpol Divhubinter Polri, Brigjen Untung Widyatmoko, menyoroti fenomena yang cukup mengkhawatirkan. Ia menilai terdapat pergeseran pola operasi kejahatan siber internasional ke wilayah Indonesia.
Hal ini dipicu oleh penertiban besar-besaran yang sebelumnya dilakukan oleh otoritas keamanan di Myanmar, Kamboja, Laos, dan Vietnam.
“Setelah penertiban di sejumlah negara tersebut, terjadi pergeseran aktivitas ke Indonesia,” ujar Untung. Kini, para pelaku terancam dijerat dengan pasal berlapis pada KUHP baru terkait perjudian.
Sementara itu, penyidik Bareskrim terus melakukan tracing terhadap aliran dana serta memburu server dan IP address yang digunakan untuk mengungkap dalang utama di balik jaringan raksasa ini.***








