BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Bukkk! Desssss….!” Dua tubuh yang tinggi besar itu terjengkang dan Ban-kin Hek-gu Giam Ki roboh kelenger (pingsan) karena tertonjok dadanya sehingga napasnya menjadi sesak.
Akan tetapi di lain fihak, Hek-giam-ong tadi pun kecelik karena sekali ini Giam Ki mengangkat tangan bukan untuk garuk-garuk lagi melainkan untuk memukul sehingga dalam saat yang bersamaan.
Giam Ki berhasil menghantam pangkal leher Hek-giam-ong dengan tangan miring. Robohlah Hek-giam-ong dan tidak bergerak-gerak karena ia pun telah semaput (pingsan)!
Pek-giam-ong sudah menyambar tubuh kakaknya dan ia merasa lega bahwa kakaknya tidak terluka parah, hanya terguncang oleh kerasnya pukulan.
Di lain fihak, para anggauta Ho-han-hwe telah mengangkat tubuh Ban-kin Hek-gu, dipimpin oleh Lauw-pangcu. Atas isyarat Song Kai Sin orang pertama Siauw-lim Chit-kiang tubuh Giam Ki yang pingsan itu dibawa mendekat.
Song Kai Sin cepat memeriksa dan ia menghela napas panjang.
“Untung….” kata tokoh Siauw-lim-pai ini. “Tadinya ia keracunan maka ketika bertanding terus diganggu rasa gatal-gatal di tubuhnya. Tentu ia terkena racun ketika beradu tangan dengan iblis tua itu.
Baiknya, pukulan Hek-giam-ong tadi pun mengandung hawa panas dan pukulan ini malah membuyarkan pengaruh racun di tubuhnya sehingga nyawanya tertolong.”
Pek-giam-ong yang marah menyaksikan saudaranya terluka, kini melangkah maju dengan sikap menantang.
Akan tetapi ia dibentak gurunya, “Mundurlah!” bagaikan seekor anjing dipecut, Pek-giam-ong mundur dan kembali ia merawat kakaknya.
Kini Kang-thouw-kwi Gak Liat melangkah maju, menyapu semua anggauta Ho-han-hwe dengan pandang mata yang membuat mereka itu merasa seram, kemudian sambil tersenyum lebar Si Setan Botak ini berkata.
“Aku sudah datang, siapa di antara anggauta Ho-han-hwe yang ternyata hanyalah segerombolan pemberontak ingin menyusul para anggauta Pek-lian Kai-pang?”
Suaranya penuh ejekan, akan tetapi matanya menatap ke arah Siauw-lim Chit-kiam karena hanya tokoh-tokoh Siauw-lim-pai ini sajalah yang dipandang cukup berharga untuk menjadi lawannya.
It-ci Sin-mo Tan Sun biarpun tubuhnya kecil namun hatinya besar. Ia maklum akan kelihaian kakek botak ini, namun ia merasa tidak puas kalau ia tidak turun tangan.
Kalah atau mati sekalipun bukan apa-apa bagi seorang patriot, akan tetapi sungguh hina dan rendah kalau dianggap takut bertemu dengan lawan tangguh.
“Kang-thouw-kwi! Engkau bukan saja seorang datuk hitam yang jahat, juga sekarang malah menjadi pengkhianat bangsa! Aku It-ci Sin-mo Tan Sun tidak takut kepadamu, jagalah seranganku ini!”
Gerakan It-ci Sin-mo Tan Sun cepat sekali, jauh lebih cepat daripada gerakan Ban-kin Hek-gu Giam Ki. Tubuhnya melesat ke depan dan kedua tangannya digerakkan untuk menyerang dengan totokan-totokan maut.
Si Setan Botak tertawa-tawa dan hanya tampak ia menggoyang-goyangkan tubuhnya akan tetapi aneh, semua totokan It-ci Sin-mo tidak ada satu pun yang menyentuh kulitnya.
“Sut-sut-sut-cet-cet….!” Cepat sekali It-ci Sin-mo Tan Sun melanjutkan……BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



