BEBASBARU.ID, INTERNASIONAL – Di saat Presiden AS Donald Trump koar-koar menang perang dan pemimpin terasnya banyak yang tewas, tapi faktanya Iran tetap kuat hingga saat ini.
Kini Donald Trump di pastikan makin stress, setelah sang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei akhirnya menyampaikan pernyataan resmi pertamanya terkait gencatan senjata dengan Amerika Serikat.
Pernyataan ini muncul setelah berhari-hari spekulasi mengenai kondisi kesehatannya yang sempat disebut kritis pasca-serangan yang menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, pada 28 Februari 2026.
Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak mencari perang, namun tetap teguh mempertahankan hak-hak sah negaranya.
Melalui pesan tertulis yang dibacakan di stasiun televisi negara pada Kamis, 9 April 2026, Mojtaba Khamenei menyatakan sikap tegas Republik Islam Iran.
“Kami tidak mencari perang dan kami tidak menginginkannya,” ujar Khamenei, sebagaimana disiarkan televisi pemerintah.
Ia menambahkan bahwa Iran tidak akan melepaskan hak-hak sahnya dalam kondisi apa pun, serta memandang seluruh front perlawanan sebagai satu kesatuan yang utuh.
Pernyataan tersebut tampaknya merujuk pada situasi di Lebanon, di mana Israel masih melanjutkan serangan terhadap Hizbullah, sekutu utama Teheran.
Khamenei juga mengingatkan warga Iran agar tidak menganggap aksi turun ke jalan sudah tidak diperlukan pasca-pengumuman gencatan senjata. “Suara Anda di ruang publik tanpa diragukan lagi akan mempengaruhi hasil negosiasi,” katanya, seperti dilansir AFP.
Gencatan senjata dua pekan antara Iran dan AS disepakati pada Selasa, 7 April 2026. Kesepakatan ini diharapkan membuka jalan menuju negosiasi damai lebih lanjut.
Meski Presiden AS Donald Trump sempat mengancam kehancuran total jika Iran tidak menyerah. Pernyataan Khamenei ini menjadi respons resmi pertama setelah ia jarang tampil publik sejak ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi pada awal Maret 2026.
Sejak ayahnya gugur sebagai martir dalam serangan hari pertama konflik, Mojtaba Khamenei belum pernah muncul secara langsung di hadapan publik.
Ia hanya menyampaikan pesan tertulis yang dibacakan presenter televisi atau diunggah melalui akun resmi. Spekulasi tentang kondisinya sempat beredar luas, termasuk laporan intelijen yang menyebut ia berada dalam kondisi kritis dan dirawat di Qom.
Meski demikian, pernyataan terbaru ini menunjukkan bahwa ia tetap memegang kendali atas arah kebijakan Iran. Televisi pemerintah Iran sebelumnya merilis foto-foto untuk membantah rumor kematiannya, meski tidak menjelaskan kapan gambar tersebut diambil.
Khamenei juga disebut mengarahkan seluruh unit militer untuk menghentikan tembakan sesuai kesepakatan gencatan senjata, sambil menekankan bahwa perjuangan belum sepenuhnya berakhir.
Pernyataan Khamenei yang menyebut seluruh front perlawanan sebagai satu kesatuan menandakan Iran tetap mendukung sekutunya, termasuk Hizbullah di Lebanon.
Hal ini terjadi di tengah laporan serangan Israel yang terus berlanjut di wilayah tersebut, meski gencatan senjata dengan AS telah diumumkan.
Para analis melihat pesan ini sebagai sinyal bahwa Teheran siap bernegosiasi, tetapi tidak akan mengorbankan prinsip-prinsip dasar perlawanannya.
Di sisi lain, gencatan senjata ini memberikan ruang bagi kedua pihak untuk bernapas sementara. Namun, ketegangan tetap tinggi, terutama terkait Selat Hormuz dan isu nuklir.
Bagi masyarakat Iran, suara pemimpin tertinggi ini menjadi pengingat bahwa partisipasi publik masih penting untuk memperkuat posisi Teheran dalam perundingan mendatang.
Perkembangan ini terus dipantau dunia internasional, termasuk dampaknya terhadap harga energi global dan stabilitas Timur Tengah.
Meski penuh spekulasi, kemunculan pesan dari Ayatollah Mojtaba Khamenei setidaknya meredakan kekhawatiran akan kekosongan kepemimpinan di Iran di tengah krisis berkepanjangan.***








