BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Kaki tangan demikian halus dan indah sehingga ia memandang dengan bengong penuh kekaguman. Ada sepuluh menit anak perempuan itu berlatih.
Kemudian mengakhiri latihannya dengan tendangan berantai dan tubuhnya mencelat ke atas, ketika kakinya seperti kitiran membuat gerakan menendang secara bertubi-tubi dengan kedua kaki bergantian sampai lima kali.
Baru tubuhnya berjungkir balik melompat ke belakang. Indah sekali gerakannya.
“Bagus sekali….!” Tak terasa lagi pujian ini keluar dari mulut Han Han.
Anak perempuan itu menengok dan memandang. Han Han terkejut dan tahu bahwa dia telah berlaku lancang. Ia mengira bahwa anak perempuan itu, seperti halnya Sin Lian, tentu akan marah dan memakinya.
Setelah ia bergaul dengan Sin Lian, kesannya terhadap anak perempuan adalah mudah marah, mudah memaki, akan tetapi mudah pula tertawa.
Akan tetapi ia kecelik! Anak perempuan itu tidak marah melainkan memandang kepadanya dengan sinar mata penuh selidik, memperhatikannya dari atas sampai ke bawah, kemudian tersenyum dan melangkah maju menghampirinya.
Setelah mereka berdiri saling berhadapan, gadis cilik itu memperhatikan pakaian di tubuh Han Hang membuat Han Han menjadi merah mukanya karena ia merasa betapa pakaiannya sungguh tidak boleh dibanggakan.
Penuh tambalan dan tidak begitu bersih lagi karena dia belum sempat berganti pakaian.
Gadis cilik itu tiba-tiba merogoh saku bajunya den mengeluarkan dua potong uang tembaga, tanpa berkata-keta menjulurkan tangan, memberikan dua potong uang tembaga itu kepada Han Han.
Tentu saja Han Han melongo dan tidak mengerti, terpaksa bertanya. Untuk apa ini….?”
“Sedekah seadanya untukmu. Engkau tersasar jalan, di daerah ini tidak akan kautemui dusun, akan percuma mencari sumbangan….”
“Aku bukan pengemis!” Han Han membentak dan mundur dua langkah, matanya memandang penasaran.
Gadis cilik itu menatap wajahnya dan agaknya kaget sekali ketika bertemu pandang dengan Han Han, lalu cepat-cepat menyimpan kembali uangnya dan mengalihkan pandangnya, meneliti pakaian tambal-tambalan dan kaki telanjang itu.
Han Han merasa menyesal mengapa ia membentak karena kini ia tahu bahwa gadis cilik itu sama sekali bukan bermaksud menghinanya, melainkan keadaan pakaiannyalah yang membuat anak itu menduga bahwa dia seorang pengemis.
Begitu berjumpa, tanpa diminta telah memberi sumbangan, benar-benar hati bocah ini tidak buruk, pikirnya. Cepat-cepat ia berkata dengan suara halus.
“Aku memang miskin, pakaianku tambal-tambalan, akan tetapi aku belum pernah mengemis. Maafkan penolakanku.”
Kembali anak itu mengangkat alis dan memandang dengan heran. Ucapan Han Han begitu halus dan susunan kata-katanya teratur rapi, bukan seperti seorang anak dusun, apalagi pengemis!
“Kau…. siapakah? Dan apakah kehendakmu datang ke tempat ini?”
“Aku bernama Han, she Sie. Aku hanya seorang kacung yang kebetulan mengikuti perjalanan majikanku. Mereka berhenti di kaki gunung dan menyuruh aku mencari buah-buah di hutan ini.
“Engkau siapakah? Kalau tadi kaukatakan di sini tidak ada dusun, bagaimana engkau bisa berada di sini?”…..BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



