BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Memperkenankan kita untuk turun gunung selama beberapa hari.” “Syukurlah kalau begitu. Kim-suci, senangkah engkau di sini?”
Gadis cilik yang kini berusia dua belas tahun itu memandang wajah sutenya yang lebih tua setahun dari padanya, lalu tersenyum manis.
“Mengapa tidak senang, sute? Habis ke mana lagi kalau tidak di sini? Aku…. sudah tidak mempunyai keluarga searang pun.”
“Suci, engkau telah mendengar riwayatku, akan tetapi aku belum pernah mendengar riwayatmu. Maukah kau menceritakan riwayatmu kepadaku?”
“Apakah yang dapat kuceritakan? Ayah bundaku tinggal di utara, di sebuah dusun dekat kota raja. Kami diserbu orang-orang mancu, ayah bundaku dan tiga orang kakakku dibunuh semua.
“Aku ditolong suhu dan dibawa ke sini semenjak aku berusia delapan tahun, empat tahun yang lalu. Nah, hanya itulah yang kuingat.”
“Dan semua suci dan suheng itu, apakah mereka itu juga yatim-piatu?”
“Benar.”
“Dan semua ditolong suhu?”
“Begitulah, hanya engkau seorang yang tidak. Karena itu engkau murid istimewa. Menurut suhu, kelak engkau yang paling hebat di antara kita.”
“Wah, jangan memuji, suci.”
“Sesungguhnyalah, sute.” Dengan sikap ramah Kim Cu memegang tangan Han han. “Ada sesuatu yang aneh pada dirimu. Engkau belum pandai silat namun engkau memiliki tenaga sakti Hwi-yang Sin-ciang.”
“Engkau amat kuat dan pandai akan tetapi engkau selalu menyangkal dan selalu merendahkan diri. Engkau hebat, sute.”
Muka Han Han menjadi merah dan ia menarik tangannya. Jantungnya berdebar dan ia membenci diri sendiri mengapa ia menjadi begitu girang mendengar pujian Kim Cu. Untuk mengalihkan percakapan, ia cepat bertanya.
“Tiga orang suheng yang cacad itu, apakah mereka menjadi korban orang-orang Mancu?”
“Ah, belum tahukah engkau? Tidak, mereka itu adalah murid-murid yang mengalami hukuman.”
“Hukuman? Siapa yang menghukum mereka?”
“Siapa lagi kalau bukan suhu? Kumaksudkan, suhu yang menjatuhkan hukuman, tentu saja murid-murid lain yang melaksanakannya.
Siauw-sute itu, yang kedua telinganya buntung, dijatuhi hukuman potong kedua daun telinga karena dia berani melanggar larangan dan mendengarkan suhu ketika suhu bercakap-cakap di dalam pondoknya dengan seorang tamu, sababat suhu.”
“Wah….!” Han Han juga tahu akan larangan mendengarkan atau mengintai suhu mereka kalau sedang berada di pondok. “Siapa yang melaksanakan?”
“Aku.”
“Hah….?” Han Han memandang sucinya dengan mata terbelalak.
Kim Cu tersenyum geli. “Mengapa?”
“Kau…. kau tega melakukan itu….? Kau…. mengapa begitu kejam….?”
Kim Cu menggeleng kepala. “Sama sekali tidak, sute. Aku hanya mentaati perintah suhu dan syarat utama seorang murid harus taat kepada gurunya……BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



