BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Sia-sialah pengorbanan pinceng kalau Ji-wi tidak dapat mengendalikan kemarahan!” Mendengar ini, kedua orang itu mundur dan Kian Ti Hosiang berkata lagi.
“Bagaimana, Suma Hoat. Apakah engkau akan memegang janji?” Pertanyaan ini ditujukan kepada Suma Hoat yang masih duduk bersila.
Enam meter jauhnya dari tempat hwesio itu bersila dengan kedua kaki lumpuh dan kini berubah menjadi merah menghitam.
Suma Hoat membuka kedua matanya dan tampak dua titik air mata menetes turun. Selama hidupnya, baru sekali ini ia merasa penyesalan bukan main.
Tadinya ia mengira bahwa hwesio itu hanya membujuknya saja, siapa tahu bahwa hwesio itu benar-benar telah mengorbankan kedua kakinya menjadi lumpuh selamanya hanya untuk melihat dia dapat menjadi seorang baik-baik!
Di dunia ini, mana mungkin ditemukan keduanya manusia seperti Ketua Siauw-lim-pai ini? penyesalan sekali dan dengan suara gemetar dia menjawab.
“Locianpwe, aku bersumpah akan bertobat, akan berusaha menghilangkan perbuatan yang kotor, akan tetapi…. aku tidak yakin apakah akan berhasil….”
“Berhasil atau tidak merupakan hal kedua, yang terutama sekali adalah kesanggupanmu untuk berusaha. Bagus, pinceng akan girang sekali kalau melihat engkau dapat kembali ke jalan benar, Sicu.”
“Aku berjanji, Locianpwe. Hanya untuk menjadi suami kedua orang muridmu, aku tidak sanggup karena aku pun tidak pernah berjanji untuk menjadi suami mereka.
Aku telah bersumpah untuk tidak menikah selama hidup…. Suma Hoat menghentikan kata-katanya karena terdengar jerit mengerikan disusul robohnya Liang Bi dan Kim Cui Leng dengan tubuh mandi darah.
Kiranya ketika mendengar bahwa pria itu adalah Jai-hwa-sian, kemudian menyaksikan betapa gurunya mengalami bencana sampai kedua kakinya lumpuh dan mendengar ucapan terakhir Suma Hoat yang menusuk hatinya.
Liang Bi menganggap bahwa dosanya dan dosa sumoinya tak terampunkan lagi. Ia menjadi beringas, dan mencabut pedang, tiba-tiba menyerang sumoinya dengan tusukan kilat yang menembus dada Cui Leng.
Kemudian ia menusuk dadanya sendiri sampai tembus. Kian Ti Hosiang menoleh merangkap kedua tangan depan dada sambil berkata.
“Omitohud…. dosa ditambah dosa lagi. Dengan kelemahan batinnya, mana mungkin manusia dapat bertahan menghadapi godaan nafsunya sendiri?
Ji-wi Toanio dari Beng-kauw, Ji-wi melihat sendiri betapa pinceng kini tak mungkin dapat menghadapi Hoat Bhok Lama, maka harap suka memaafkan kalau pinceng tidak dapat membantu Ji-wi.”
Setelah berkata demikian, tiba-tiba tubuh yang sudah lumpuh kedua kakinya itu, dalam keadaan masih bersila, mencelat ke depan, kedua lengannya menyambar jenazah Liang Bi dan Kim Cui Leng.
Kemudian sambil memanggul dua mayat muridnya itu, tubuh yang tak dapat menggunakan kedua kaki lagi itu berloncatan ke depan dengan cepat, sebentar saja lenyap dari situ.
Suma Hoat memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat. Penyesalan besar sekali menghimpit hatinya.
Biasanya, melihat wanita-wanita membunuh diri karena menjadi korbannya, dia bisa tertawa-tawa. Akan”….BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader