BEBASBARU.ID, INTERNASIONAL – Arab Saudi yang sok-sokan hebat di Timteng kini kewalahan dengan serangan balasan Pasukan Houthi yang di dukung rakyatnya.
Houthi sangat marah karena Arab Saudi yang merupakan sebuah negara 100 persen muslim, sangat tunduk dan mau jadi kacung negara kafir, Amrika Serikat, malah dukung pemerintahan Yaman yang sudah tumbang.
Kini Arab Saudi kelabakan, akibatnya mereka mengemis minta bantuan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, agar sudi mengempur pasukan Houthi.
Donald Trump ketika ditanya oleh media apakah akan ikut membantu Saudi membalas serangan kelompok Houthi, mengatakan bahwa hal itu memungkinkan terjadi.
“Kita mungkin saja (membantu Saudi). Kami akan mendiskusikannya lebih dulu. Kami baru saja mengetahui mengenai serangan terbaru ini, jadi kami akan segera membuat keputusan. Kami akan bergerak dengan cepat,” kata Trump di luar Gedung Putih, dikutip dari stasiun berita CNN.
Perwakilan tetap Yaman di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Abdullah Al-Saadi, melontarkan kecaman keras terhadap kelompok Houthi yang dinilai kian masif memperluas jangkauan serangan ke wilayah Kerajaan Arab Saudi.
Serangan menyasar infrastruktur sipil, bandara, serta aset ekonomi penting kawasan.
Dalam pidatonya pada sidang terbuka Dewan Keamanan PBB di New York, Al-Saadi menyebut serangan tersebut membongkar tabir kejahatan Houthi yang tak ragu mempertaruhkan nyawa warga sipil.
“Houthi sengaja ingin menebar kekacauan dan mengalihkan perhatian dari pelanggaran serta kejahatan yang telah mereka lakukan terhadap rakyat Yaman selama bertahun-tahun demi kepentingan Iran di kawasan tersebut,” kata Al-Saadi.
Al-Saadi menggarisbawahi bahwa Angkatan Bersenjata Yaman bersama Koalisi Arab Saudi saat ini menjadi garda terdepan dalam mengamankan jalur pelayaran internasional di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb.
Mengingat perannya yang vital bagi pasokan ekonomi global, ia menuntut pertanggungjawaban kolektif dari dunia internasional.
“Jika kebebasan navigasi merupakan kepentingan bersama, maka melindunginya juga merupakan tanggung jawab bersama. Rakyat Yaman tidak boleh dibiarkan menanggung beban tersebut sendirian,” ujarnya.
Secara khusus, Pemerintah Yaman mendesak DK PBB untuk memutus rantai sokongan militer kelompok pemberontak tersebut dengan cara:
Embargo Senjata dan Dana: Memblokir jaringan penyelundupan komponen militer, teknologi guna ganda (dual-use), serta aliran dana ilegal.
Tuntut Akuntabilitas Iran: Meminta pertanggungjawaban negara penyokong, khususnya Iran, yang menyuplai keahlian dan persenjataan kepada Houthi.
KBRI imbau WNI agar menjauhi kawasan Bandara King Khalid
KBRI di ibukota Riyadh, langsung merilis imbauan bagi semua WNI yang saat ini sedang berada atau bermukim di Arab Saudi. Otoritas Indonesia mengimbau agar WNI menghindari perjalanan yang tidak mendesak ke kawasan Bandara Internasional King Khalid, Riyadh.
KBRI juga mengimbau WNI untuk memeriksa status penerbangan lebih dulu sebelum berangkat ke bandara.
“WNI diimbau menghindari perjalanan yang tidak mendesak ke kawasan Bandara Internasional King Khalid, Riyadh. Bagi WNI yang memiliki rencana penerbangan, selalu periksa dan konfirmasikan jadwal serta status penerbangan secara langsung kepada maskapai yang digunakan sebelum berangkat menuju ke bandara,” demikian imbauan yang diunggah di akun media sosial KBRI di Riyadh.
KBRI juga meminta semua WNI untuk berada di lokasi yang aman dan mematuhi arahan dari otoritas setempat. “Selain itu, pantau informasi resmi dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, KBRI Riyadh, pihak bandara dan maskapai terkait,” kata mereka.***








