BEBASBARU.ID, GAYA HIDUP – Anda yang lahir tahun 60, 70 an dan 80 an dan pernah nonton film-film bertema remaja dulu di bioskop, pasti ingatannya akan melayang ke kawasan Blok M.
Tempat yang dulu jadi arena ngeceng anak muda paling terkena se Indonesia sempat mati suri tahun 2013 dan puncaknya kala COVID-19 dahulu, kini situasi berbeda terlihat.
Di kutip dari CNNIndonesia.com, Jumat (29/05/2026), siklus tata kota itu kembali berputar. Kawasan Blok M di Jakarta Selatan kembali mencatat peningkatan mobilitas pengunjung.
Beroperasinya Moda Raya Terpadu (MRT) serta kehadiran ruang publik seperti Taman Literasi Martha Christina Tiahahu. Hingga area M Bloc Space menjadikan kawasan ini kembali ‘manyala’ dan ramai dikunjungi sebagai titik kumpul, terutama oleh generasi muda.
Sejarah pembangunan
Keramaian dan fungsi Blok M sebagai pusat mobilitas warga memiliki rekam jejak yang panjang. Dilansir dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar), sejarah pembangunan Blok M sudah dimulai sejak tahun 1940-an pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Kala itu, kawasan Gambir dinilai sudah terlalu padat. Pusat pemerintahan berada di sana dengan keberadaan Istana yang hingga saat ini jadi Istana Kepresidenan.
Sebagai solusi, pemerintah kolonial merancang sebuah kota satelit baru di wilayah Kebayoran. Konsep perumahannya meniru tata ruang taman kota di kawasan elite Menteng, di mana wilayah tersebut dibagi menjadi beberapa blok abjad, mulai dari Blok A hingga Blok S. Dari pembagian tersebut, Blok M ditetapkan sebagai kawasan pusat kota.
Gagasan tata ruang ini terus berlanjut pasca kemerdekaan. Sejarawan Andi Achdian, menjelaskan bahwa setelah pengakuan kedaulatan pada tahun 1949, pemerintah Republik Indonesia melanjutkan rencana besar untuk membangun kota satelit di Kebayoran dengan rancangan yang terintegrasi.
Andi mengatakan, di bawah eksekusi arsitek Mohammad Soesilo, kawasan Kebayoran didesain dengan konsep yang modern.
“Sejarahnya kan yang terutama kan sejak 1949, pengakuan kedaulatan. Terus ada rencana besar waktu itu menjadikan Jakarta jadi ibu kota, untuk membangun satu kota satelit baru di wilayah Kebayoran itu,” kata Andi kepada CNNIndonesia.com, Rabu (20/5).
Arsitek yang ditunjuk saat itu menurut Andi adalah seorang Belanda. Sementara sebagai pelaksananya merupakan orang Indonesia yakni Mohammad Soesilo.
“Dia diberikan tanggung jawab untuk membangun satu kawasan. Maka wilayah Kebayoran pada saat itu dibangunlah model-model perumahan modern yang terintegrasi,” ujar Andi.
Sistem terpadu yang dirancang di Kebayoran saat adalah hunian yang dilengkapi dengan sistem transportasi, kawasan niaga hingga kawasan bisnis (perkantoran).
“Jadi itu adalah sebuah desain modern yang diterapkan di dalam pembentukan kota satelit sejak awal terbentuknya Republik Indonesia ya,” ujar Andi
Andi juga mengatakan, Blok M memang sengaja dirancang untuk lebih menonjol dibandingkan dengan blok yang lainnya. Blok M dirancang lengkap dan jadi pusatnya.
“Memang dia sejak awal kan dirancang sebagai hub-nya ya, sebagai titik node yang menghubungkan wilayah-wilayah lain. Dan Blok M menjadi satu pusat transit dari transportasi untuk di wilayah Jakarta waktu itu. Jadi memang dia lebih menonjol perkembangannya beda dengan misalnya Blok K, Blok G yang kemudian jadi perumahan,” ujar Andi.
Pusat pertokoan, “Little Tokyo”, dan Lintas Melawai
Memasuki dekade 1970 hingga 1980-an, Kawasan Kebayoran Baru mengalami perkembangan pesat seiring dengan munculnya kelas menengah baru akibat pertumbuhan ekonomi. Hal ini berdampak langsung pada wajah Blok M yang berevolusi menjadi pusat niaga dan hiburan.
“Awalnya pemukiman di kawasan Kebayoran itu diperuntukkan untuk menampung pegawai-pegawai Indonesia baik ada yang jabatan-jabatan tinggi. Jadi mereka adalah kelas menengah baru Indonesia yang menyerap kemakmuran ekonomi dekade 70-an 80-an,” ujar Andi.
“Sehingga muncullah sebuah gaya hidup baru yang memberikan tempat untuk leisure buat anak-anak kelas menengah ini,” sambungnya.
Merujuk data Kemenpar, perkembangan pesat kawasan ini juga dipicu keberadaan Terminal Bus Blok M dan menjamurnya pertokoan modern. Jalan Melawai mendapat julukan “Little Tokyo” karena banyaknya restoran Jepang di Kawasan tersebut.
Kawasan Melawai juga popular di kalangan ekspatriat Jepang, yang sejak lama bekerja di perusahaan-perusahaan Jepang yang beroperasi di Jakarta kala itu.
Bagi kalangan anak muda, Blok M adalah kiblat tren. Kehadiran Aldiron Plaza hingga American Hamburger (AH) menjadi tempat yang sangat ikonis. Puncaknya adalah fenomena kumpul anak muda di Kawasan Melawai.
Menurut Andi, Lintas Melawai pada masa itu sudah berfungsi sebagai ruang publik untuk unjuk status sosial secara langsung.
“Kalau zaman sekarang kan pamernya di medsos. Dulu kan harus tatapan langsung. Jadi orang-orang pakai sepatu yang impor, pakai pakaian yang impor, gaya rambut, pamernya di ruang publik, langsung,” ujar Andi.
Memasuki awal tahun 2000-an, tren perbelanjaan bergeser dengan menjamurnya mal-mal berskala besar dan berkonsep megah di Jakarta.
Menurut Andi, pergeseran ini menjadi titik awal jatuhnya pamor Blok M. Kawasan ini dinilai tak lagi mampu mengakomodasi selera kelas menengah atas.
“Awal 2000 itu Jakarta ada semacam kebangkitan ekonomi baru. Sebenarnya akhir 90-an itu sudah mulai mal-mal baru kan. Jadi ada pusat-pusat perbelanjaan baru yang mungkin lebih sophisticated ya dibanding Blok M gitu buat orang kaya atau kelas menengah Indonesia,” ujar Andi.
Realita fase mati suri ini juga sangat dirasakan oleh para pedagang lama di mal bawah tanah Blok M. Faris (31), Pemilik toko pakaian Blok M Fashion yang meneruskan usaha keluarga sejak tahun 1990.
“Semenjak tahun 2013-an itu sudah mulai redup. Cuma habis-habisnya itu di 2018-an, itu sudah banyak yang ditinggalin (oleh pengunjung dan penyewa),” ujar Faris di Blok M Hub, Jakarta Selatan, Rabu (20/5).
Masa redup atau mati suri kawasan Blok M ini mencapai titik terendah ketika pandemi COVID-19 melanda. Pembatasan mobilitas membuat tingkat kunjungan anjlok drastis, memaksa banyak pertokoan di kawasan Blok M tutup karena sepi pengunjung.
Pedagang mie ayam bakso, Amin (38), yang telah berjualan lebih dari satu dekade di kawasan tersebut menyebut fase pandemi merupakan pukulan terberat.
Menurutnya pandemi membuat orang enggan belanja atau jalan-jalan ke Blok M karena tak punya uang. Pengunjung tak juga datang meski diskon sudah diberikan saat itu.
Karena pandemi itu kan krisis global ya. Kalau bagi saya itu kan krisis global tuh semua, enggak nggak bisa berarah lah berjalan,” ujar Amin.
Pemulihan melalui infrastuktur dan nilai sejarah
Setelah sempat mengalami masa penurunan, Blok M kini kembali menonjol dalam tata kota Jakarta. Andi mengatakan bahwa faktor utama pemulihan kawasan ini adalah aksesibilitas infrastruktur transportasi, yakni beroperasinya Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta pada tahun 2019 yang terintegrasi dengan halte TransJakarta.
“Transportasi kan menjadi akses, menjadi salah satu syarat berkembangnya sebuah wilayah ya, di mana-mana, secara hukum ekonomi kan. Tanpa akses sebuah wilayah akan mati,” kata Andi.
Ia menilai keberadaan MRT dan integrasi TransJakarta membuat Blok M makin berkembang pesat.
Selain kemudahan akses, Andi menyebut kebangkitan Blok M juga sejalan dengan pergeseran gaya hidup anak muda masa kini yang kekinian. Saat ini hubungan antarmanusia tak terbatas wilayah belaka. Koneksi global di era medsos membuat gaung Blok M cepat menyebar.
Lebih lanjut, ia menyebut kebangkitan kawasan Blok M juga didorong oleh strategi penataan kota yang kini fokus pada pemanfaatan nilai sejarah (heritage). Bangunan-bangunan lama yang dialihfungsikan tanpa menghilangkan bentuk aslinya.***







