BEBASBARU.ID, INTERNASIONAL – Ektalasi pertempuran kini makin meluas, Arab Saudi yang awalnya ikut-ikutan serang Houthi di Yaman, kini hadapi konsekwensi berat.
Irak dan Houthi lakukan serangan ke kilang minyak terbesar mereka, yang otomatis akan berdampak besar bagi Arab Saudi.
Arab Saudi menyatakan pada Selasa (28/07/2026) malam waktu setempat, sistem pertahanan udaranya telah mencegat dan menjatuhkan beberapa pesawat nirawak (drone) yang diluncurkan dari wilayah Irak.
Serangan ini terjadi setelah sebelumnya kelompok Houthi dari Yaman melancarkan pesawat nirawak ke fasilitas minyak di Saudi.
Di kutip dari republika.co.id,, Rabu (29/07/206), dalam pernyataan yang disampaikan melalui Kementerian Pertahanan.
Juru Bicara Mayjen Turki al-Maliki mengatakan bahwa drone-drone tersebut berupaya menyasar fasilitas minyak di Provinsi Timur Kerajaan tersebut.
Arab Saudi memiliki hak sah untuk membela diri serta melindungi kemampuan nasionalnya, dan berhak untuk memberikan tanggapan “pada waktu dan tempat yang tepat,” ujar al-Maliki dilansir Al-Arabiya, Selasa.
Kementerian Luar Negeri Kerajaan tersebut mengeluarkan pernyataan yang mengecam keras milisi yang didukung Iran atas serangan berulang mereka terhadap target-target sektor energi di Arab Saudi.
Serangan ini terjadi menjelang rencana kunjungan Perdana Menteri Irak ke Arab Saudi pekan ini, serta sehari setelah serangan drone serupa menyasar wilayah yang sama.
Sebuah insiden yang mendorong Riyadh mendesak Baghdad agar mencegah wilayah Irak dijadikan sebagai titik peluncuran serangan.
Pada hari Senin, PM Ali al-Zaidi memerintahkan penyelidikan terkait serangan drone pertama tersebut dan berjanji akan mengambil tindakan hukum terhadap siapa pun yang terbukti bertanggung jawab.
Citra satelit menunjukkan asap membubung dari fasilitas pengolahan minyak Saudi di Kilang Jazan. – (Public Domains)
Kantor al-Zaidi menyatakan bahwa Irak sedang memeriksa bukti dan informasi yang diberikan oleh Arab Saudi.
Serta akan menindak secara hukum siapa pun yang terbukti terlibat dalam serangan tersebut sesuai dengan hasil penyelidikan.
Seorang pejabat militer yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada lembaga penyiaran negara Iran, IRIB, bahwa Teheran dengan tegas membantah adanya “kaitan apa pun dengan proyektil yang ditembakkan dari negara lain ke arah sasaran” di Arab Saudi.
“Mengaitkan tindakan apa pun yang menargetkan kepentingan AS di kawasan ini dengan Republik Islam Iran merupakan kesalahan perhitungan besar dan mencerminkan kurangnya pemahaman mengenai situasi di kawasan tersebut,” ujar pejabat itu, sebagaimana dilaporkan IRIB.
Pernyataan ini disampaikan setelah Kementerian Pertahanan Arab Saudi melaporkan adanya serangan pesawat nirawak (drone) baru yang menyasar fasilitas minyaknya di Provinsi Timur.
Serta menuding milisi yang berafiliasi dengan Iran di Irak sebagai pihak yang melancarkan serangan tersebut.
Sedangkan menurut sejumlah laporan, Saudi Aramco telah menghentikan operasional kilang minyak Jazan setelah serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) oleh kelompok Houthi merusak fasilitas-fasilitas utama di lokasi tersebut.
Serangan Houthi itu diklaim sebagai balasan atas aksi Saudi membantu pemerintah status quo Yaman menyerang Bandara Internasional Sanaa awal Juli ini.
Kilang yang mengolah 400.000 barel minyak mentah per hari itu mengalami kerusakan pada kompleks Integrated Gasification Combined Cycle (IGCC) dan area tangki penyimpanan.
Berdasarkan catatan dari perusahaan konsultan IIR, perbaikan diperkirakan akan rampung dan operasional akan kembali berjalan pada 15 Agustus.
Kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco merupakan salah satu kompleks kilang terbaru dan paling canggih yang dimiliki perusahaan tersebut.
Tangkapan layar dari video di media sosial terkait serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas minyak Saudi, Sabtu (25/7/2026). – (X)
Terletak di pesisir Laut Merah Arab Saudi di Provinsi Jazan, dekat perbatasan Yaman, fasilitas ini dibangun sebagai bagian dari proyek Jazan Economic City yang lebih luas guna mendorong pembangunan industri di wilayah barat daya kerajaan tersebut.
Kilang ini memproduksi bensin dengan kandungan sulfur sangat rendah, solar, bahan bakar jet, benzena, dan sulfur untuk pasar domestik maupun ekspor.
Operasi komersial dimulai pada awal tahun 2020-an setelah melalui masa konstruksi selama beberapa tahun.
Kilang ini terintegrasi dengan sebuah terminal besar di Laut Merah, yang memungkinkan produk hasil olahan dikirim langsung ke pasar internasional tanpa harus melewati Selat Hormuz.
Mengingat lokasinya yang berjarak sekitar 70 kilometer (43 mil) dari perbatasan Yaman, kompleks Jazan kerap dipandang sebagai salah satu aset energi Arab Saudi yang paling rentan.
Terutama pada masa-masa meningkatnya ketegangan dengan gerakan Houthi di Yaman yang didukung oleh Iran.***







