BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Pula, aku melakukan hal itu sama sekali bukan karena kejam atau tidak tega, melainkan sebagai pelaksanaan hukuman yang harus diterima oleh Siauw-sute. Setelah membuntungi kedua daun telinganya, aku pula yang merawatnya sampai sembuh.”
“Dia…. tidak mendendam kepadamu?”
“Ah, tidak sama sekali. Dia mengerti bahwa dia harus menjalani hukuman itu.”
“Dan…. yang lengannya buntung?”
“Kwi-suheng? Dia telah mencuri baca kitab milik suhu tanpa ijin. Hal itu dianggap mencuri dan karena lengannya yang mencuri kitab, maka lengannya dibuntungkan.”
“Yang buntung kakinya?”
“Lai-suheng? Dia hendak minggat, tertangkap dan karena kakinya yang melarikan diri, maka sebelah kakinya dibuntungkan.”
Han Han bergidik. Kim Cu berkata lagi, “Akan tetapi cacad mereka tidak menjadi halangan karena suhu tidak membenci mereka, malah mengajarkan ilmu yang khusus untuk mereka.
Kami semua diajar ilmu-ilmu yang khusus disesuaikan dengan keadaan dan bakat kita. Ilmu silat dasar memang sama, akan tetapi perkembangannya berlainan. Suhu memiliki ilmu-ilmu yang amat banyak.”
“Hemmm…., sungguh ganjil. Tamu tadi, yang bicara dengan suhu di pondok, siapakah dia? Sudah setahun aku tidak pernah melihat ada tamu datang.”
Kini Kim Cu memandang ke kanan kiri, kelihatannya jerih dan takut. “Tamu itu seorang manusia yang hebat, dan ilmunya kata suhu melam paui tingkat suhu. Dia itu adalah Ibu Guru dari suhu….”
“Apa….? Suhu masih mempunyai Ibu Guru? Kalau begitu, dia isteri Suma-sukong itu….?”
Kim Cu mengangguk. “Tidak ada yang tahu jelas. Pernah dalam keadaan mabuk suhu bercerita bahwa sukong mempunyai banyak sekali isteri dan agaknya Ibu Guru yang ini adalah isteri yang paling muda.”
“Lihainya bukan main, bahkan suhu amat takut kepadanya. Suhu masih mencinta kita dan melakukan hukuman berdasarkan pelanggaran. Kalau Sian-kouw itu….”
“Kau menyebutnya Sian-kouw (Ibu Dewi)?”
Kim Cu mengangguk dan menelan ludah, agaknya hatinya tegang membicarakan wanita itu.
“Kita para murid suhu diharuskan taat kepadanya dan menyebutnya Sian-kouw. Namanya tak pernah disebut suhu, akan tetapi julukannya adalah Toat-beng Ciu-sian-li (Dewi Arak Pencabut Nyawa).”
Han Han bergidik. “Mengapa Ciu-sian-li (Dewi Arak)?”
“Ke mana-mana dia membawa guci arak dan hampir selalu mabuk. Akan tetapi makin mabuk makin lihai dia. Sudahlah, sute, tidak baik kita bicara tentang Sian-kouw….”
“Kalau begitu kita bicara tentang tokoh-tokoh lain, suci. Ceritakanlah kepadaku tentang tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw. Aku ingin sekali mendengar dan aku suka mendengar akan petualangan mereka, terutama sekali supek yang disebut-sebut oleh suhu, putera dari sukong itu.”
“Banyak sekali tokoh-tokoh besar yang pernah diceritakan suhu kepada kami. Mengenai tokoh-tokoh yang dikenal suhu, kiraku Sian-kouw itulah……BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



