BEBASBARU.ID, SEPAKBOLA – Awalnya, fans Arsenal sudah mulai bersiap pesta hingga berhari-hari, setelah Kai Herviz bikin PSG kebobolan di menit-menit awal.
Bahkan walaupun di kurung ketat dan habis-habisan, Arsenal begitu kokoh bertahan dan hingga pluit babak pertama di bunyikan, PSG yang kuasai lebih separuh lapangan, tetap gagal dan frustasi hadapi pertahanan kokoh Arsenal.
Babak kedua, hingga menit 60 fans Arsenal makin bersiap-siap berpesta, sebab PSG yang terus menyerang dan bombardir pertahanan Arsenal, tak satupun berbuah gol.
Hingga petaka itu datang juga, penalti Dembele di menit 64 mengubah segalanya, akhirnya kedua tim harus bertanding di babak pertambahan waktu dan di akhiri dengan adu tos-tosan, hasilnya, Arsenal keok.
Kini, Mikel Arteta patah hati melihat akhir perjuangan Arsenal di final Liga Champions 2025/2026. Arsenal kembali ke final Liga Champions dengan catatan tak main-main.
Tim asal London ini tidak pernah kalah, bahkan hingga laga 120 menit selesai PSG juga tidak mampu menundukkan kesebelasan asal London tersebut.
Pada fase grup Arsenal selalu muncul sebagai pemenang di akhir laga melawan Athletic Bilbao, Olympiacos, Atletico Madrid, Slavia Prague, Bayern Munchen, Club Brugge, Inter Milan, dan Kairat.
Delapan kemenangan beruntun membuat The Gunners ada di puncak klasemen dan melangkah langsung ke babak 16 besar.
Pada fase gugur, Declan Rice dan kawan-kawan tidak seperkasa seperti fase sebelumnya. Kendati demikian tetap saja Arsenal tidak terkalahkan. Bayer Leverkusen, Sporting CP, dan Atletico tak bisa membuat Arsenal takluk.
Dalam laga final Arsenal mencetak gol lebih dulu, tetapi The Gunners tidak ada di podium juara. PSG bisa menyamakan kedudukan dan kemudian menang di babak adu penalti.

“Situasi ini sangat sulit ketika Anda begitu konsisten di kompetisi hingga ke final, dan pada akhirnya Anda kalah dalam perebutan trofi melalui adu penalti. Ini sulit,” kata Arteta dilansir dari situs resmi Liga Champions.
Pelatih asal Spanyol itu tetap berusaha mencari sisi positif di balik kesedihan yang melanda anak asuhnya.
“Saya sangat bangga pada mereka. Menjadi sebuah kehormatan bagi saya melatih kelompok pemain ini, tim ini, cara mereka membawa lambang ini dan begitu besarnya mereka mencurahkan diri untuk hal tersebut,” ujar pelatih yang juga sempat menjadi pemain di Arsenal itu.
Arsenal kalah 3-4 dari PSG dalam babak adu penalti. Dari lima eksekutor tendangan 12 pas, Eberichi Eze dan Gabriel Magalhaes gagal menembak bola ke dalam gawang.***







