BEBASBARU.ID, FILM – Saat ini sedang heboh razia yang di lakukan oknum TNI-Polisi, karena keberatan dengan pemutaran film dokumenter yang berjudul Pesta Babi.
Anehnya, aparat oknum khususnya TNI keberatan dan bubarkan acara nonbar itu, entah apa alasannya.
Sehingga acara nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi di sejumlah daerah dikabarkan sempat dibubarkan petugas keamanan.
Dikutip dari katadata.com, Senin (11/05/2026), berbagai foto dan video yang beredar di media sosial menyebut ada beberapa faktor utama yang membuat film ini kontroversial.
Film Pesta Babi disebut mengkritik proyek strategis nasional pemerintah. Film dokumenter ini juga dianggap menyinggung keterlibatan aparat dan militer dalam pengamanan proyek.
Lantas, apa itu Film Pesta Babi dan mengapa acara nonton barengnya dibubarkan?
Mengutip akun Instagram Ekspedisi Indonesia Baru, @idbaruid, film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita menjadi sorotan karena mengangkat isu sensitif soal proyek pembangunan di Papua Selatan.
Pesta Babi bukan film horor atau hiburan biasa, melainkan dokumenter investigatif yang membahas konflik lahan, masyarakat adat, hingga keterlibatan aparat dalam proyek strategis nasional (PSN).
Film Pesta Babi garapan Dandhy Laksono dan Cypri Dale ini memiliki durasi total sekitar 95 menit atau 1 jam 35 menit. Lantas, apa isi film yang disebut kontroversial ini?
Film Pesta Babi mengambil latar di wilayah Papua Selatan, terutama di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Fokus utamanya adalah kehidupan masyarakat adat seperti suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu yang disebut kehilangan tanah dan ruang hidup akibat ekspansi proyek perkebunan tebu, sawit, hingga food estate.
Film dokumenter tersebut menggambarkan bagaimana hutan-hutan adat dibuka untuk proyek bioetanol dan ketahanan pangan dalam skala besar. Di sisi lain, masyarakat lokal merasa tersingkir dari tanah leluhur mereka sendiri.
Narasi yang dibangun film ini cukup keras karena menyebut situasi tersebut sebagai bentuk “kolonialisme modern” atas Papua. Film juga menyoroti dugaan militerisasi dalam pengamanan proyek-proyek investasi di kawasan tersebut.
Salah satu simbol penting dalam film adalah pemasangan “salib merah” oleh warga adat sebagai bentuk penolakan terhadap perusahaan dan penguasaan lahan.
Judul “Pesta Babi” diambil dari tradisi budaya masyarakat Muyu bernama Awon Atatbon, sebuah ritual adat besar yang melibatkan babi sebagai simbol sosial dan budaya.
Tradisi itu bergantung pada keberlangsungan hutan dan alam Papua. Karena itu, film memakai istilah “Pesta Babi” sebagai metafora bahwa kerusakan hutan juga mengancam identitas budaya masyarakat adat.
Kenapa Nobar Film Pesta Babi Dibubarkan?
Pemutaran film ini di sejumlah daerah sempat dibubarkan petugas keamanan. Alasannya beragam, mulai dari faktor keamanan hingga dianggap berpotensi memicu keresahan.
Beberapa acara nonton bareng dilaporkan mendapat tekanan atau pembubaran dari aparat seperti polisi maupun Babinsa.
Sejauh ini, peristiwa pembubaran atau penghentian nonton bareng film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita terjadi di wilayah Mataram, khususnya di lingkungan kampus.
Mengutip akun Instagram yang sama, nobar film Pesta Babi di Universitas Mataram dibubarkan pada 7 Mei 2026 oleh pihak kampus bersama petugas keamanan. Wakil Rektor III disebut meminta pemutaran dihentikan demi “kondusivitas” kampus.
Sejumlah laporan menyebut pemutaran film juga dihentikan di UIN Mataram, bahkan ketika film baru berjalan beberapa menit. Selain itu, nobar di Universitas Pendidikan Mandalika juga dibubarkan.
Di luar itu, ada juga laporan dan diskusi publik yang menyebut beberapa agenda pemutaran di kota lain mengalami pembatalan atau tekanan, termasuk di Ternate dan Yogyakarta. Namun, detail kejadiannya belum sebanyak kasus di Mataram.***







