BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Telah terkurung api yang mulai membakar ruangan! Dalam kaget dan paniknya, timbul akalnya.
Ia lalu lari ke tempat kebakaran, mengambil sepotong kayu yang terbakar dan tanpa ragu-ragu lagi ia menghampiri Setan Botak den membakar pakaian musuh ini dengan api itu! B
ahkan ia lalu berusaha membakar rambut di kepala botak itu pula!
Kang-thouw-kwi Gak Liat adalah seorang ahli Yang-kang, bahkan kedua lengannya sudah memiliki Ilmu Hwi-yang-sin-ciang yang bersumber pada panasnya api.
Boleh jadi kedua lengannya itu sudah kebal terhadap api, namun tubuhnya tidak, apalagi rambut di kepalanya. Begitu melihat bahwa bajunya terbakar, bahkan sebagian rambutnya dimakan api, ia terkejut dan marah sekali.
Sambil berteriak dan menggereng seperti harimau, ia menggulingkan tubuhnya ke kiri, pertama untuk memadamkan api yang berkobar pada bajunya, ke dua untuk menyingkirkan diri daripada gelombang sinar pedang Siauw-lim Chit-kiam.
Kemudian, setelah bergulingan dan keluar dari sasaran lawan, ia membalikkan tubuhnya dan memukul ke arah Sin Lian dari jarak jauh. Saking marahnya, kini ia menumpahkan semua kemarahan dan kebencian kepada anak perempuan itu.
Kelima orang Siauw-lim Chit-kiam maklum bahwa nyawa bocah itu berada di cengkeraman maut. Mereka juga maklum bahwa bocah perempuan itulah yang telah menyelamatkan nyawa mereka yang tadi sudah tertekan hebat.
Tentu saja sebagai pendekar-pendekar gagah perkasa, kini mereka tidak mungkin dapat berpeluk tangan saja menyaksikan penolong mereka terancam.
Tanpa komando, lima orang Siauw-lim Chit-kiam itu kini menodongkan pedang mereka dan mengerahkan tenaga, menghadang pukulan jarak jauh Setan Botak yang ditujukan kepada Sin Lian.
Tenaga serangan itu tertangkis oleh sinar pedang, akan tetapi biarpun Sin Lian dapat diselamatkan, sebagian hawa pukulan menerobos dan sedikit saja sudah cukup membuat Sin Lian terguling roboh dan pingsan dengan muka gosong!
Karena ruangan itu mulai terbakar, Gak Liat yang tahu akan bahaya lalu tertawa dan tubuhnya sudah melesat keluar menerjang api lalu lenyap di dalam kegelapan malam di luar kuil.
Lima orang Siauw-lim Chit-kiam tidak mengejar, karena selain mereka harus menyelamatkan dua orang saudara yang terluka dan gadis cilik yang pingsan, juga mengejar keluar kuil apa gunanya?
Mereka takkan mampu mengalahkan Setan Botak yang lihai itu. Diangkutlah Ui Swan dan Ui Kiong, juga tubuh Sin Lian dan mereka pun cepat-cepat menerjang api menerobos keluar sebelum ruangan itu ambruk.
Para anggauta Ho-han-hwe menjadi kecewa dan berduka.
Tidak saja usaha mereka menewaskan Setan Botak itu gagal sama sekali, juga mereka harus cepat-cepat angkat kaki dari Tiong-kwan karena kini tentu kaki tangan pemerintah Mancu akan mencari untuk membasmi mereka.
Terutama sekali Lauw-pangcu yang kehilangan lima puluh lebih anggauta Pek-lian Kai-pang, menjadi berduka sekali. Akan tetapi di samping kedukaan ini.
Ada sinar terang yang membahagiakan hati ketua kai-pang ini, yaitu bahwa Siauw-lim Chit-kiam berkenan mengambil Sin Lian sebagai murid mereka!
Setelah Ui Swan dan Ui Kiong diobati, dan juga Sin Lian sembuh, anak ini lalu dibawa pergi Siauw-lim Chit-kiam untuk mendapat gemblengan ilmu di kuil……BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



