BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Sampai berkali-kali ia harus menambah air lagi dalam kwali dan menambah kayu perapian sehingga hawa panas memenuhi ruangan “dapur” dari lian-bu-thia ini.
Baiknya ia bekerja kepada Ouwyang Seng, putera pangeran yang amat dihormat, dan diperhatikan keadaannya oleh para pelayan sehingga pada waktu-waktu tertentu tidak pernah pelayan lupa untuk mengantar minuman dan makanan.
Ouwyang Seng kelihatan gembira bahwa ia telah memperoleh kemajuan. Kini tanpa bantuan gurunya, ia sudah dapat bertahan merendam kedua lengannya di air racun yang panas.
Karena kegembiraannya, ia sering bercerita di waktu mengaso sehingga Han Han banyak tahu akan keadaan yang aneh di tempat itu dan akan keadaan Setan Botak yang amat luar biasa itu.
Diam-diam di dalam hatinya Han Han bergidik. Kalau saja ia tahu sebelumnya, tentu ia tidak akan membawa Setan Botak itu kepada sarang Pek-lian Kai-pang! Bergidik ia teringat betapa banyaknya manusia menjadi korban kekejaman Si Setan Botak ini.
Menurut penuturan Ouwyang Seng yang sesungguhnya tidak banyak pengetahuannya tentang keadaan Kang-thouw-kwi Gak Liat, sebagaimana yang ia ceritakan penuh kebanggaan kepada Han Han.
Kakek itu adalah tokoh terbesar di antara Lima Datuk Besar yang pada saat itu menguasai dunia kang-ouw golongan hitam.
Merupakan tokoh yang amat terkenal karena ilmunya yang mengerikan, yaitu Hwi-yang-sin-ciang, dan sudah banyak jasanya terhadap Pemerintah Mancu karena ketika barisan Mancu menyerbu ke selatan.
Kakek inilah seorang di antara tokoh-tokoh sakti yang melancarkan jalan dengan merobohkan peju ang-pejuang yang memiliki kesaktian.
“Menurut kata Ayahku, Pangeran Ouwyang Cin Kok, ilmu kepandaian suhu tidak ada lawannya di kolong langit ini, maka aku disuruh menjadi muridnya.”
“Kaulihat sendiri, betapa hebat ilmunya. Dan aku…. aku sudah mulai dapat menggembleng kedua lenganku agar kelak menjadi jago nomor satu di dunia, setelah suhu.”
Han Han amat tertarik. Belum pernah ia mendengar tentang ilmu kesaktian yang aneh-aneh, sungguhpun sudah banyak ia membaca cerita tentang orang-orang sakti di jaman dahulu.
Kini ia tidak saja mendengar, bahkan ia menyaksikan dengan mata sendiri.
“Kongcu, tadi gurumu mengatakan telah mengenal Kakekku dan menyebut Kakekku Jai-hwa-sian, apakah kau pernah mendengar tentang Kakekku itu?”
Ouwyang Seng menggeleng kepala. “Aku belum pernah mendengar nama itu. Mungkin para suheng (Kakak Seperguruan Laki-laki) atau suci (Kakak Seperguruan Perempuan) pernah mendengar dan mengetahuinya. Kelak akan kutanyakan mereka.”
“Ah, jadi Kongcu masih mempunyai suheng dan suci?” Ouwyang Seng mengacungkan jempolnya.
“Tentu saja, dan mereka pun hebat! Aku mempunyai dua orang suheng dan seorang suci, dan kepandaian mereka saja sudah cukup menggegerkan dunia dan tidak ada lawannya. Akan tetapi menurut suhu, kalau aku tekun belajar, aku akan lebih lihai daripada mereka!”
Han Han dapat menduga bahwa putera pangeran ini sedang bersombong, maka ia tidak begitu mengacuhkannya. Pikirannya sendiri bekerja……BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



