BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Kecil merah itu harus digodok sampai hancur!” Dengan muka keruh karena kecewa Ouwyang Seng menghampiri kwali yang lebih kecil, yang tadi ia tumpangkan di atas perapian kecil di sudut.
Air dalam kwali itu kelihatan menghitam, dan airnya sudah mulai panas akan tetapi masih belum mendidih. Setelah menggulung kedua lengan bajunya.
Ouwyang Seng memasukkan kedua tangannya ke dalam kwali air hitam, akan tetapi ia menyeringai kesakitan dan menarik kembali kedua tangannya keluar.
“Aduh, terlalu panas….!” serunya.
“Hemmmmm, Kongcu kurang tekun berlatih!” Setan Botak menegur dan suaranya jelas membayangkan bahwa hatinya tidak puas.
“Yang begini saja tidak kuat, apalagi berlatih dengan batu bintang. Masukkan lagi tangan Kongcu ke dalam kwali itu, jangan ragu-ragu, masukkan!”
Ouwyang Seng memandang ke arah suhunya dengan muka pucat, kemudian ia menggigit bibirnya dan dengan nekat memasukkan kedua lengannya ke dalam kwali di depannya.
Tubuhnya menggigil dan hampir ia tidak kuat menahan, akan tetapi tiba-tiba kakek itu mengulur tangan kiri, menyentuh pundaknya dan tubuh Ouwyang Seng tidak menggigil lagi, bahkan wajahnya kelihatan tenang.
“Bantulah dengan hawa dalam tubuh! Kongcu harus dalam keadaan siulian (samadhi) jika tidak kuat,” suara kakek itu mengomel.
Ouwyang Seng lalu meramkan kedua mata dan mulai mengatur napas mengumpulkan perasaan, mengerahkan hawa dari dalam pusar dan ketika kakek itu menarik kembali tangannya, Ouwyang Seng tidak menggigil lagi, wajahnya tenang.
Berlatih terus sampai dua hari dua malam, jangan hentikan kecuali makan, dari ulangi lagi sampai aku kembali dari pertemuan Ho-han-hwe,” pesan Si Kakek sambil berdiri dan bertolak pinggang.
Han Han yang sejak tadi berdiri memandang dan mendengarkan, menjadi terheran.
Air hitam itu terang amat panas, bahkan sudah mulai menguap, akan tetapi kini Ouwyang Seng dalam keadaan samadhi mampu menahan dengan kedua lengannya direndam air panas!
“Hei, mana airnya? Cepat tambah sampai penuh dan godok atu bintang sampai hancur. Kalau airnya menguap habis dan batunya masih belum hancur betul, tambah terus dan godok terus sampai hancur. Mengerti?”
Han Han terkejut dan sadar dari keadaan bengong tadi, cepat-cepat ia menyambar ember kosong dan lari ke sumur, mengambil air dan menuangkannya ke dalam kwali besar berisi batu bintang. Kakek itu masih berdiri di situ, kemudian berkata.
“Kerjakan penggodokan batu ini sampai hancur, terus besarkan api sampai aku datang kembali. Awas, kalau aku datang batu-batu ini belum hancur, kau yang akan kumasukkan ke dalam air ini!”
Setelah mengeluarkan kata-kata ini, tubuh Setan Botak yang tinggi kurus itu berkelebat dan lenyap dari situ.
Han Han sejenak memandang dan mencari-cari dengan matanya, kemudian melirik ke arah Ouwyang Seng yang masih duduk bersamadhi dengan kedua lengan direndam air hitam yang panas.
Han Han mengangkat pundak dan melanjutkan pekerjaannya, maklum bahwa ia tidak berdaya melarikan diri dan terpaksa harus melakukan perintah Setan Botak.
Akan tetapi betapa mendongkol hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa batu-batu bintang itu benar-benar amat sukar dicairkan……BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



