BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Lian-bu-thia (ruangan bermain silat) lengkap dengan dapurnya di mana ia melatih diri dan muridnya untuk memperkuat Yang-kang dengan bantuan batu-batu bintang.
Masih ada lagi sebuah tempat yang letaknya di belakang gedung dan tempat ini penuh rahasia. Kalau para pelayan di gedung itu masih diperbolehkan memasuki lian-bu-thia.
Maka tidak seorang pun kecuali kakek botak itu sendiri yang boleh memasuki tempat terlarang di belakang gedung ini.
Tempat itu dahulunya menjadi kebun dari gedung itu, akan tetapi kabarnya sebelum Pangeran Ouwyang membangun gedung di situ, kebun itu dahulunya sebuah tanah kuburan kuno.
Di tempat inilah Gak Liat secara rahasia menggembleng diri memperdalam kesaktian karena sebagai seorang di antara Lima Datuk Besar ia harus selalu memperdalam ilmu agar jangan sampai kalah oleh datuk lain.
Han Han mendengar semua ini dari Ouwyang Seng. “Engkau harus taat akan perintah suhu kalau kau ingin hidup,” antara lain putera pangeran itu berkata.
“Kalau suhu sudah marah dan menghendaki nyawamu, biar ada seribu orang dewa sekalipun tidak akan dapat menolongmu. Kau ingat baik-baik.
Sekali-kali jangan memasuki daerah terlarang di belakang gedung ini karena siapa saja, termasuk aku sendiri, kalau berani melanggar larangan ini, akan mati!”
Diam-diam Han Han tidak puas hatinya. Terlalu sekali Setan Botak itu, demikian pikirnya. Karena ketidaksenangan hatinya ia memberi nama Setan Botak kepada kakek itu.
Mudah saja memutuskan mati hidupnya orang lain! Akan tetapi ia tidak mau banyak cakap. Ia maklum bahwa keadaannya seperti seorang tahanan, tidak dapat lari dan terpaksa ia harus bekerja di situ.
Ia tidak bodoh, tidak mau nekat memperlihatkan ketidaksenangannya karena berada dalam keadaan tidak berdaya. Aku harus dapat memetik keuntungan sebanyaknya dalam keadaan seperti ini, pikirnya.
Maka ia lalu membantu pekerjaan di dalam lian-bu-thia seperti yang diperintahkan Ouwyang Seng. Ia harus mengisi air yang diambilnya dari sumur, memenuhi sebuah kwali baja yang amat besar dan yang ditaruh di atas perapian.
Juga ia harus memukuli batu-batu bintang sampai menjadi kecil-kecil, mempergunakan sebuah palu besi. Pekerjaan ini sukar dan meletihkan karena batu-batu bintang itu cukup keras.
Tiap kali beradu dengan palu besi, mengeluarkan titik-titik api dan kalau mengenai kulit lengan, terasa panas sekali!
Pecahan batu-batu bintang ini lalu dituangkan ke dalam kwali besar yang airnya mulai mendidih. Pada saat itu, muncullah Gak Liat dan seperti biasanya, kemunculannya secara tiba-tiba seperti ia pandai menghilang saja.
Padahal ia dapat muncul seperti itu karena menggunakan gin-kang yang amat tinggi tingkatnya sehingga gerakannya selain ringan tak terdengar, juga amat cepat.
“Suhu, apakah teecu (murid) sudah boleh berlatih dengan batu bintang?” Ouwyang Seng bertanya.
“Hemmm…., masih jauh! Kedua lenganmu belum cukup kuat, Kongcu. Lebih baik kau tekun melatih kedua lenganmu dengan air panas beracun itu.
Itu pun amat berguna, dan kelak kalau tingkatmu sudah cukup kuat, baru akan kulatih dengan air panas batu bintang. Mulailah, Kongcu.
Dan kau, Han Han, air di kwali besar itu kurang penuh, hayo ambil lagi dan isi sampai penuh, kemudian besarkan apinya. Batu-batu……BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



