BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Bahan bangunan pun tidak sebaik batu kali biasa, maka sampai ratusan tahun kemudian batu-batu ini tidak diperhatikan orang.
“Akan tetapi suhu yang sakti luar biasa melihat sifat yang mujijat dari batu-batu ini,” demikian Ouwyang Seng melanjutkan ceritanya.
“Sifat yang cocok sekali untuk memperhebat ilmu kepandaian suhu yang berdasarkan pada tenaga Yang-kang.”
Sambil memandangi batu-batu kemerahan itu penuh perhatian dengan hati tertarik sekali, Han Han lalu bertanya.
“Sifat mujijat apakah? Dan apa itu Yang-kang?”
“Ah, dasar kau hijau bodoh tidak tahu apa-apa!” Ouwyang Seng mengomel. “Masa tidak tahu Yang-kang? Ketahuilah, guruku adalah seorang di antara Lima Datuk Besar, dan ilmu kesaktiannya menjulang setinggi bintang di langit.
Di dunia ini tidak ada seorang pun manusia sanggup menandingi ilmunya yang disebut Hwi-yang-sin-ciang (Tangan Sakti Inti Api). Dengan hawa dari tangannya, guruku dapat membuat kayu terbakar.
Nah, batu-batu bintang ini mengandung tenaga mujijat dari Yang-kang, dan menurut suhu, ada inti panasnya matahari tersembunyi di dalamnya.
Agaknya bintang yang pecah ini tadinya berada di dekat matahari, aku tidak tahu jelas. Batu-batu ini dipergunakan oleh suhu untuk melatih kedua lengan.”
“Bagaimana caranya?”
“Kau akan melihat sendiri! Tahukah engkau bahwa kedua lenganku ini dapat bertahan direndam air yang mendidih?”
“Ah, masa….?” Tentu saja Han Han tidak percaya.
Ouwyang Seng tersenyum bangga dan menyingsingkan kedua lengan bajunya sehingga tampak kedua lengannya yang berkulit putih dan halus.
“Kedua lenganku ini kelak kalau sudah jadi benar seperti kedua lengan suhu, akan membuat aku dapat menjagoi seluruh jagat! Kalau sudah selesai latihanku, sekali sampok saja aku dapat membuat hangus tubuh lawan yang bagaimana kuat sekalipun!”
Han Han memandang dengan melongo, setengah tidak percaya, akan tetapi juga ngeri dan kagum. Benarkah di dunia ada ilmu seperti itu?
Ia akan melihat dan membuktikan sendiri. Berkali-kali ia dihina orang karena ia tidak bisa silat dan tidak memiliki kekuatan yang mujijat.
Kalau dia sampai dapat menjadi seorang pandai, bukankah dengan mudah ia dapat menentang semua orang yang jahat-jahat itu?
Memang ia dapat membayangkan betapa senangnya memiliki sepasang lengan tangan yang lihai seperti itu, dapat mengeluarkan hawa panas seperti api!
“Benarkah semua yang kaukatakan itu, Ouwyang Seng?”
Tiba-tiba bocah itu melotot dan membentak marah, “Han Han! Di mana kesopananmu? Katamu sendiri kau keturunan sastrawan, mengapa tidak tahu sopan santun? Kau sekarang menjadi pelayan suhuku, berarti kau pelayanku juga.
Dan ketahuilah bahwa Ayahku adalah Pangeran Ouwyang Cin Kok yang berpengaruh besar sekali di kota raja. Sudah seharusnya kalau kau juga menghormat padaku kalau kau tahu akan sopan santun!”
Wajah Han Han menjadi merah. Tentu saja ia tahu akan semua peraturan ini, peraturan “sopan santun” yang diciptakan oleh kerajaan, yang mengharuskan si kecil mencium ujung sepatu si bangsawan, si miskin menyembah-nyembah si kaya!
Ia mengerti bahwa dia memang bersalah, maka ia menghela napas dan mengulangi pertanyaannya…….BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



