BEBASBARU.ID, INTERNASIONAL – Pidato kepedean Presiden AS Donald Trump yang anggap Iran sudah tak berkutik salah total, faktanya hingga kini Iran tetap kirim paket ke Israel dan aset-aset miliki negerinya.
Terbaru, Kedubes AS di Baghdad Irak kena serangan drone yang di duga berafiliasi dengan Iran, sehingga Kemenlu AS langsung minta warganya pergi secepatnya dari Irak.
Bahkan kini warga California mulai ketar-ketir, setelah ada laporan drone-drone tak di kenal mulai berkeliaran di langit California, hingga menimbulkan kepanikan warganya.
Saat ini, Donald Trump sendiri telah diperingatkan Kepala Staf Gabungan bahwa Iran dapat menutup Selat Hormuz, sebagai salah satu jalur pengiriman minyak terpenting di dunia, jika menyerang Teheran.
Peringatan itu disampaikan Jenderal Dan Caine sebelum AS melancarkan agresi ke Iran. Namun Trump tak menggubris dan kini salah perhitungan.
Menurut laporan yang diterbitkan oleh The Wall Street Journal pada Ahad (15/3/2026).
Keputusan untuk menyerang Iran diambil meskipun ada peringatan keras tentang potensi konsekuensi penutupan Selat Hormuz dan kemungkinan guncangan yang dapat ditimbulkannya pada ekonomi global.
Caine mengatakan kepada presiden bahwa para pejabat AS telah lama meyakini bahwa Iran dapat mengerahkan ranjau laut, drone, dan rudal dalam upaya untuk memblokir selat terpenting pelayaran di dunia itu.
Namun, The Wall Street Journal mengutip orang-orang yang mengetahui diskusi internal menuliskan Trump mengakui risiko itu.
Tetapi tetap memutuskan untuk melanjutkan operasi militer. Menurut laporan tersebut, presiden yakin Iran kemungkinan akan menyerah sebelum mengambil langkah tersebut.
Ia juga mengatakan kepada para penasihatnya bahwa bahkan jika Teheran mencoba memblokir selat tersebut, militer AS akan mampu mengatasi ancaman tersebut.
Selat Hormuz adalah jalur ekspor minyak terpenting di dunia, yang menghubungkan produsen utama Teluk—termasuk Arab Saudi, Iran, Irak, dan Uni Emirat Arab—ke Teluk Oman dan Laut Arab.
Sejak perang dimulai, Iran telah mengambil langkah-langkah untuk mengganggu pengiriman di daerah tersebut.
Memblokir beberapa kapal tanker minyak dan menyerang kapal kargo, perkembangan yang telah berkontribusi pada peningkatan pesat harga minyak global.
Trump juga mengatakan pada Sabtu malam bahwa pasukan AS telah melakukan serangan terhadap target militer di Pulau Kharg Iran, pusat utama ekspor minyak Iran.
Menurut The New York Times, serangan tersebut menargetkan lokasi yang digunakan untuk menyimpan rudal dan ranjau laut.
Secara terpisah, Financial Times melaporkan bahwa Presiden Trump secara resmi meminta beberapa negara—termasuk Tiongkok, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris—untuk mengirim pasukan angkatan laut ke wilayah tersebut guna membantu Washington membuka kembali Selat Hormuz secara paksa.
Permintaan tersebut muncul setelah Iran secara efektif menutup selat di pintu masuk Teluk Arab dengan mengancam akan menembaki kapal mana pun yang mencoba melewatinya.
Ketegangan di sekitar jalur air tersebut telah berkontribusi pada lonjakan harga minyak dan gas global yang cepat.
Trump menulis di akun pribadinya di platform media sosial Truth bahwa banyak negara—terutama negara-negara yang paling terdampak oleh penutupan tersebut—mengirimkan kapal perang dan berkoordinasi dengan Amerika Serikat untuk menjaga selat tetap terbuka dan aman.
Ia menambahkan bahwa negara-negara yang bergantung pada minyak yang diangkut melalui jalur tersebut harus membantu melindunginya, menekankan bahwa Amerika Serikat memberikan “banyak bantuan.”
Senator senior AS telah menyuarakan kekhawatiran bahwa Amerika Serikat dan Israel telah mendorong Timur Tengah ke dalam krisis.
Ia mengatakan bahwa Presiden Donald Trump telah “kehilangan kendali” atas konflik tersebut.
Chris Murphy menyampaikan peringatan tersebut dalam serangkaian unggahan di X.
“Sekarang sudah sangat jelas bahwa Trump telah kehilangan kendali atas perang ini. Dia salah menilai kemampuan Iran untuk membalas. Kawasan itu terbakar,” ujarnya.
Dia mengatakan krisis pertama berpusat di Selat Hormuz, koridor pelayaran sempit yang dilalui lebih dari 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Murphy memperingatkan bahwa Washington meremehkan kemampuan Teheran untuk mengganggu jalur tersebut.***








