BEBASBARU.ID, INVESTIGASI – Gercepnya KPK menangkapi oknum garong di pajak dan bea cukai, kontras dengan kondisi Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, yang nagku setiap malam pusing mikirin setoran pajak.
Anak buahnya, terutama yang di pajak dan bea cukai justru sibuk nge-garong duit rakyat dengan beragam modus.
Purbaya memang berkomitmen memperbaiki kinerja penerimaan pajak 2026. Salah satu yang disinggung adalah target menaikkan tax ratio dari sebelumnya 9% menjadi 11-12% di tahun ini.
Mengutip dari situs resmi pajak, Tax ratio adalah perbandingan antara total pajak yang dikumpulkan oleh pemerintah dengan produk domestik bruto (PDB) suatu negara.
PDB merupakan ukuran dari nilai seluruh barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu negara selama satu periode waktu tertentu. Tax ratio mencerminkan sejauh mana pemerintah dapat mengumpulkan pajak dari kegiatan ekonomi warganya.
Menurut Purbaya jika target pajak gagal tercapai maka akan jadi sorotan DPR. Tahun lalu dirinya masih bisa menggunakan lambatnya pertumbuhan ekonomi sebagai alasan.
Tapi alasan itu tak bisa lagi digunakan sekarang. Ekonomi diramal akan membaik sehingga dirinya tak bisa menyampaikan alasan yang sama kepada DPR jika target perpajakan meleset.
“Saya harapkan dengan membaiknya ekonomi, dan ke depan akan lebih baik lagi, kita bisa mengumpulkan pendapatan dari tax, maupun bea cukai yang lebih tinggi lagi. Saya sih harap-mengharapkan ada perbaikan tax collection rate yang signifikan dari 9% sekarang, mungkin 11-12% untuk tahun ini, tahun depan kita perbaiki lagi,” ujar Purbaya dalam acara Pelantikan Pejabat Kemenkeu di Jakarta, Jumat (6/2/2026).
“Jadi ini misi kita, misi yang berat untuk pajak. Kalau kemarin Anda mencapainya di bawah target, saya bisa beralasan di depan DPR bahwa, karena ekonominya lambat. Tapi tahun ini kan nggak bisa lagi. Kalau sampai akhir tahun tax collection kita nggak membaik, padahal ekonominya tumbuhnya makin baik, saya akan digebukin DPR dan saya nggak bisa bertahan lagi,” sambung Purbaya.
Secara pribadi, kegagalan mencapai target tax ratio menjadi kekalahan telak bagi Purbaya. Ia bahkan mengaku sulit tidur akhir-akhir ini karena memikirkan hal tersebut.
“Saya nggak bisa memberikan argumen yang kuat, kalau untuk orang yang seperti saya, orang yang ekonomi seperti saya, itu suatu kekalahan yang telak, pasti setiap malam saya nggak bisa tidur. Sekarang aja udah susah tidur,” kata Purbaya.
Oleh karena itu, ia meminta Ditjen Pajak bekerja lebih keras demi memperbaiki kinerja pajak. Apalagi kinerja perpajakan juga sudah menjadi atensi Presiden Prabowo Subianto.
“Teman-teman semua, ke depan kita bersama-sama memperbaiki kinerja pajak, keuangan secara keseluruhan. Jangan sampai kita dikalahkan oleh pemain-pemain yang mengalahkan kita,” imbuh Purbaya.
Awal tahun ini Purbaya melaporkan realisasi penerimaan pajak sepanjang 2025 terkumpul Rp 1.917,6 triliun. Jumlah itu bahkan tak mencapai 90% dari target, hanya 87,6% dari yang ditargetkan sebesar Rp 2.189,3 triliun. Artinya, terdapat shortfall Rp 271,7 triliun.
“Penerimaan pajak hanya Rp 1.917,6 triliun, ini hanya 87,6% dari APBN,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).***







